Monday, August 15, 2022

Chok Pengdit Raja Halfmoon Negeri Gajah Putih

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sudah 14 tahun Chok bekerja di salah satu perusahaan komputer ternama di Bangkok, Thailand. Karirnya menanjak pada 2000. Ia ditunjuk sebagai manajer pengadaan barang di perusahaan tempatnya bekerja.

Tanggung jawab itu membuat Chok selalu berhubungan dengan pembeli lokal dan mancanegara. Internet pun menjadi mainan sehari-hari. Pada tahun itulah ia pertama kali melihat halfmoon di internet. ‘Ikan itu unik karena siripnya tegak 180o,’ ujar alumnus Bangkok University itu. Tak heran di sela-sela kesibukan bekerja, Chok rajin mencari informasi seputar si bulan sabit.

Sebulan lebih menelusuri 100 situs cupang, Chok menemukan sepasang induk corak turquoise-campuran biru dan hijau-milik Atison, peternak di Bangkok. Lantaran ingin memiliki, penggemar gitar itu mau saja mengeluarkan uang senilai 7.000 baht/pasang setara Rp1,75-juta. ‘Bila beli di toko ikan bisa 10.000 baht,’ ujarnya. Itulah koleksi halfmoon pertama yang dimiliki.

Tertantang

Setelah dirawat 2 minggu, Chok mencoba menangkarkan halfmoon itu. Memang berhasil, tapi mayoritas anakan yang didapat bukan halfmoon melainkan delta dan superdelta. Delta dan superdelta mirip halfmoon tapi ekor tidak 1800. ‘Hanya 2 halfmoon murni yang didapat,’ kenang pria dengan tunggangan Ford Escape itu. Lagi katanya, kemungkinan saat itu gen halfmoon dari induk belum kuat.

Sulitnya menciptakan halfmoon itu menjadi alasan utama Chok menangkarkan ketimbang jenis lain yang populer seperti plakat dan crowntail. Chok semakin tertantang melahirkan 100% halfmoon dan berkualitas. Untuk itu ia kembali memesan 4 pasang induk superdelta, delta, dan halfmoon dari Atison. Masing-masing berwarna putih, kuning, dan merah. Namun, pekerjaan kantor yang menumpuk menjadi kendala lain hingga tangkarannya hanya menghasilkan 10% halfmoon.

Penyebab lain karena salah pemeliharaan. Saat itu ia belum menemukan induk bergalur murni. Termasuk cara pergantian air, pH, dan temperatur yang belum pas betul. Padahal Chok sudah berusaha mencari informasi melalui buku, internet, bahkan konsultasi dengan pakar cupang. Namun, hasilnya nihil. Itu berlangsung selama 5 tahun.

100% halfmoon

Menginjak awal 2006 untuk menghasilkan 100% halfmoon bukan lagi masalah bagi Chok. Kunci sukses itu antara lain terletak pada pemilihan indukan dan cara perkawinan. Chok mencoba melakukan kawin silang. Syarat utama induk harus bersirip tegak, membulat 1800, dan ukuran sirip tidak terlalu panjang. Warna betina pun harus terang dan bersih. Idealnya betina berumur 4 bulan dan jantan 4-8 bulan. Keduanya pun perlu seukuran.

Chok mengawinkan menjelang musim kemarau sekitar akhir Januari-Oktober. Saat itu betina sanggup mengeluarkan 100 burayak. Dua hari kemudian, jantan dan burayak dipindah dalam bak semen. Burayak diberi pakan daphnia sehari sekali sampai berumur 2,5 bulan. Setelah itu pakan diganti pelet sebanyak 4-6 butir sehari sekali. Untuk halfmoon longtail-ekor panjang-pemberian pelet dilakukan 2 kali sehari, pagi dan sore. Pemberian daphnia tetap dilakukan 1-2 kali setiap minggu.

Selama berada di dalam bak semen, kebersihan dijaga dengan mengganti air 100% setiap 2 minggu. Ikan yang dipelihara di akuarium, airnya diganti 70 – 80% selama 2 kali seminggu dan 100% setiap 2 minggu. Agar pH dalam bak stabil ditaruh daun ketapang hingga didapat pH 7,5-7,8.

Menurut Chok, temperatur mempengaruhi pertumbuhan dan kualitas warna. Suhu panas mampu mempercepat pertumbuhan burayak. ‘Panas membuat burayak rajin menyantap pakan karena metabolisme aktif,’ ujar Chok. Namun, suhu ditolerir berkisar 25-26oC. Karena itu Chok menggunakan shading net 65% agar suhu bak terkontrol. Di bawah suhu 22oC, biasanya cupang menjadi malas makan dan bergerak. Bahkan di bawah suhu itu penyakit white spot rentan menyerang. Untuk menjaga kualitas, Chok hanya mengambil 10-20 anakan cupang berkualitas. Selebihnya dibuang.

Rebut pasar

Sejak 2002, Chok sudah menjual hasil ternakannya, meski jumlahnya masih sedikit. Setiap 2 minggu Chok memasang 3-5 foto halfmoon super berukuran 3,75 cm di salah satu situs ikan hias. Delapan puluh persen pembeli datang dari Asia, seperti Singapura dan Malaysia. Sisanya dari Amerika Serikat. Lantaran banyak pembeli dari luar negeri Gajah Putih, Chok pun memilih bergabung dalam IBC. Ia pun kerap mengikuti lomba yang berpusat di negeri Paman Sam. ‘Di sana jenis-jenis yang dilombakan lebih banyak, seperti murble dan unik,’ ungkapnya.

Kini setiap bulan Chok mampu menghasilkan 100 halfmoon dari 200 induk. Namun yang dilepas ke pasar hanya 10 – 20 ekor/minggu. ‘Hanya yang prima yang dijual. Sisanya dibuang,’ ujar Chok. Harga jualnya, US$35/pasang-US$50 setara Rp318.500/pasang-Rp455.000/pasang. Omset per bulan mencapai Rp12,7-Juta-Rp25-juta.

Keberhasilan itu akhirnya membuat Chok memutuskan berhenti bekerja dan total mengurusi halfmoon. Ia pun lantas mendirikan Suthisine Betta Farm. Sebanyak 200 halfmoon beragam warna dan corak-seperti putih, turquoise, stir blue, biru, green, cooper, dan merah-menghiasi jejeran akurium di belakang rumah. Delapan ratus burayak menghuni 20 bak semen berdiameter 50 cm di halaman samping.

Selama keikutsertaan di IBC pada 2006, Chok berhasil menjadi juara lomba bergengsi itu sebanyak 8 kali dan meraih total nilai nyaris 4.000 poin. Hal itu membuatnya dinobatkan sebagai Internasional Grand Champion 2006. Selain menerima anugerah itu, IBC juga mengganjarnya sebagai Breeder of The Year 2006 pada September 2006 di Amerika Serikat. Itu semua berawal dari kebiasaan Chok Pengdit berselancar di internet. (Lastioro Anmi Tambunan)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img