Friday, December 9, 2022

Chokanan Pilihan untuk Pemula

Rekomendasi

Varietas asal negeri Siam itu gampang berbuah meski minim perawatan. Bila ditanam di pot, genjah. Seringkali baru 3-4 bulan dirawat sudah belajar berbunga dan berbuah, kata Andy Kim. Hobiis di Bekasi, Jawa Barat, itu. merujuk pada koleksi 61 chokanan dalam pot berumur 4 tahun. Bahkan, pada bibit berukuran 60-75 cm-setara 5 bulan setelah okulasi-tanaman langsung berbuah 3 bulan kemudian.

Yang istimewa, buah pertama berkualitas prima. Rasanya manis, lembut, segar, dengan tekstur agak berserat. Panen pertama dipetik 3-7 buah. Seusai panen tanaman tetap sehat. Daun hijau segar dan tidak kering. Tabulampot nam dok mai kerap rontok pada bunga pertama. Begitu juga dengan khieo sawoei. Buah yang muncul kuntet. Makanya, bunga pertama dan kedua biasanya dibuang.

Unggul genetis

Menurut Narin, chokanan mangga paling mudah berbuah di tabulampot. Maksimal 1 tahun bibit asal okulasi yang ditanam di pot mulai berbuah. Sementara pengalaman Andy maksimal 18 bulan. Hobiis pemula yang ngotot mengepotkan khieo sawoei dan nam dok mai berakhir kecewa. Dua varietas asal Thailand itu biasanya baru belajar berbuah pada umur 2,5 tahun setelah dirawat.

Ir Wijaya MS, mantan peneliti di Kebun Percobaan Buah-buahan, Cipaku, Bogor, menuturkan secara genetik chokanan memang bersifat genjah. Periode pertumbuhan dari tanaman muda, remaja, hingga dewasa pendek. Sementara nam dok mai, menengah; khieo sawoei, panjang.

Pengalaman Wijaya, bunga chokanan muncul 3-4 bulan pascaokulasi. Biasanya mata tunas diambil pada Mei dan Juni, bulan-bulan mangga memasuki periode menjelang berbunga. Pengamatan Trubus, tabulampot chokanan asal bibit okulasi berukuran 50 cm berbuah kurang dari 1 tahun.

Karena sifatnya yang bandel, tak sulit menghasilkan tabulampot chokanan yang prima dan rajin berbuah. Kunci pertama, pastikan bibit yang ditanam benar-benar chokanan. Ciri utamanya: ruas percabangan panjang, mencapai 15 cm. Lazimnya, ruas mangga pendek, hanya 5-10 cm. Daun lurus tidak bergelombang dan sempit, sekitar 5-7 cm. Agar risiko minimal, dapatkan bibit dari penangkar terpercaya.

Berikutnya pemilihan media. Chokanan mampu hidup di beragam media dengan komposisi berbeda. Eddy Soesanto, pemilik nurseri Tebuwulung di Jakarta Timur, menggunakan media sekam mentah, pupuk kandang, dan tanah dengan perbandingan 1:1:1. Pupuk kandang terdiri dari ? kotoran kambing dan ? kotoran sapi.

Sementara A Siong, dari nurseri Metro Hortikultura hanya menggunakan tanah gunung dan kotoran sapi dengan komposisi 70:30. Tanah gunung dipilih karena kaya bahan vulkanik yang mengandung hara makro dan mikro. Lazimnya tanah di daerah pegunungan disebut juga tanah andosol.

Pupuk kandang juga dipakai Andy Kim. Kotoran kambing dipakai secara murni sampai setengah pot. Di atasnya media tanam berupa kompos dan sekam. Komposisi berbeda-beda. Yang penting porous (mudah dilewati air, red), kata Andy.

Bata merah

Setelah bibit dan media tersedia, tahap berikutnya penanaman ke dalam pot. Dasar pot diberi pecahan bata merah setebal 3-5 cm. Tujuannya agar lalulintas air dari media ke luar pot lancar. Pecahan bata direndam dulu dalam minyak ikan selama 2 hari 2 malam. Lima kapsul minyak ikan dipecah dan dilarutkan dalam 5 l air. Dengan perendaman minyak ikan, batu bata berfungsi ganda: memperlancar aliran drainase dan sebagai media pupuk lambat urai.

Masukkan campuran media tanam hingga ? tinggi pot. Andy Kim hanya memasukkan kotoran kambing 100%. Lalu letakkan bibit chokanan tepat di tengah pot. Agar tanaman tidak stres, tanah yang berasal dari polibag bibit jangan dibuang. Setelah posisi bibit pas, tambahkan media tanam di sekelilingnya. Padatkan media dengan tangan agar bibit tumbuh tegak. Setelah penanaman selesai, siram dengan air sampai jenuh.

Perawatan selanjutnya mudah. Siram tabulampot chokanan 2 hari sekali dan beri pupuk teratur. Setiap bulan A Siong menambahkan 300 ml guano-setara 1 gelas kemasan air mineral. Eddy mengganti guano dengan NPK 16:16:16 sebanyak 5 ml-setara 1 sendok teh. Dengan perlakuan itu chokanan berbunga 6-8 bulan kemudian tergantung ukuran bibit.

Agar bunga yang muncul tak rontok dan kering, frekuensi penyiraman ditingkatkan menjadi sehari 2 kali: pagi dan sore. Dua bulan kemudian bunga itu berubah menjadi buah yang siap dipanen. Ah, mudahnya menikmati chokanan pot di rumah sendiri. (Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Keunggulan Kapal Canggih Penebar Pakan Ikan

Trubus.id — Kapal penebar pakan ikan bisa menjadi alternatif para pembudidaya yang memelihara ikan di tambak yang luas. Salah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img