Sunday, November 27, 2022

Ciku Jumbo Datang Juga

Rekomendasi

Teka-teki penyebab cikumega berbuah mungil terjawab sudah. Sawo jumbo itu berbuah optimal saat tanaman berumur 5-7 tahun.

 

Juni 2012 kolektor dan penangkar buah di Demak, Provinsi Jawa Tengah, Prakoso Heryono, mendapat kejutan. Pohon cikumega berumur 7 tahun di kebun berbuah lebat hingga 100 buah. “Ini pertama kalinya cikumega berbuah banyak,” tutur Prakoso. Sebelumnya paling 5 buah per pohon saat tanaman berumur 2 tahun.

Meski umur buah baru dua bulan pascabunga mekar-biasanya buah matang pada umur 3 bulan-bobotnya sudah mencapai 300 gram per buah. Itu tiga kali lebih besar daripada bobot sawo yang biasa dijual di kios-kios buah. “Ukurannya masih bisa bertambah besar,” kata pemilik nurseri Satya Pelita itu waktu ditemui pada Juni 2012. Sebulan berselang Prakoso akhirnya memanen 60 buah CM-19-nama sawo raksasa itu-berbobot rata-rata 400 g per buah. Di negara asalnya Malaysia, bobot cikumega bisa mencapai 500 g per buah.

Pelit buah

Nun di Boja, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, cikumega membuat Lie Ay Yen kecewa. “Pertumbuhan tanaman kurang bagus. Buahnya kecil dan sedikit,” tutur kolektor buah yang pengusaha beragam produk pertanian itu. Pada 2009 ayah politikus Alvin Lie itu mendatangkan 15 bibit cikumega asal cangkok setinggi 30-40 cm. Lie Ay Yen menanam bibit asal negeri jiran itu di dalam pot. Dua tahun berselang tanaman anggota keluarga Sapotaceae itu mulai berbuah. Sekali berbuah hanya menghasilkan 3-5 buah berbobot 250 g. Padahal Lie Ay Yen rutin memberikan nutrisi.

Pada tahun pertama, Lie Ay Yen membenamkan 2 kg pupuk kandang dan 5 sendok makan setara 25 gram NPK 21-21-21 setiap bulan. Menginjak tahun kedua, ia menaburkan 5 sendok makan atau 25 gram NPK 15-10-32 setiap bulan untuk memacu pertumbuhan generatif. Untuk mencegah serangan hama dan penyakit, pria berkacamata itu menyemprotkan insektisida dan fungisida dengan dosis sesuai anjuran dalam kemasan.

Cerita Hervin Sasono, hobiis di Kota Malang, Provinsi Jawa Timur, setali tiga uang. Cikumega yang ia peroleh 3 tahun silam dari bibit hasil sambung susu pelit berbuah, hanya lima buah per tanaman berbobot 250 g. Padahal Hervin juga rutin memberikan nutrisi. Namun, upaya itu tak mampu mendongkrak produksi buah.

Menurut Ir AF Margianasari, kepala bagian Pelatihan, Produksi, dan Penelitian di Taman Wisata Mekarsari, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, sawo CM-19 memang berkarakter lambat berbuah. Masa tiga tahun pascatanam dari bibit hasil cangkok adalah waktu untuk beradaptasi dan membentuk perakaran yang kuat serta jumlah daun optimal. “Saat akar kuat dan jumlah daun cukup maka tanaman siap memproduksi buah jumbo,” kata Riris, sapaan Margianasari.

Prakoso Heryono merawat bibit cikumega sejak 2005. Prakoso menanam bibit sawo jumbo setinggi 40 cm itu di polibag diameter 30 cm. Media tanam berupa campuran pupuk kandang, tanah, dan sekam mentah dengan perbandingan sama. Setelah enam bulan, Sarjana Hukum dari Universitas Islam Sultan Agung itu memindahkan bibit ke tanah. Nonot, sapaannya, menanam ke dalam lubang tanam berukuran 70 cm x 70 cm x 70 cm, lalu menambahkan pupuk dasar berupa 20 kg pupuk kandang dan 300 g dolomit.

Pada tahun pertama, Prakoso membenamkan 20 kg pupuk kandang dan 300 gram NPK 15-15-15 setiap enam bulan. Tahun berikutnya ia mestinya memberikan pupuk susulan 300 gram NPK 16-16-16 dan 20 kg pupuk kandang. Dosis itu dinaikkan lagi 20-30% setiap tahun. Namun, itu urung dilakukan. Pekerja di kebun hanya menyiram tanaman setiap dua hari. Alhasil setiap kali berbuah jumlahnya hanya 10 butir. Oleh karena itu banjir buah pada pertengahan 2012 sungguh mengejutkan.

Intensif

Prakoso menduga fenomena itu karena tanaman sudah cukup matang untuk berproduksi. Pada umur 2-3 tahun pascatanam, tanaman baru belajar berbuah. “Bila perawatan lebih intensif, produksi buah cikumega bisa optimal pada saat tanaman berumur 5 tahun,” tuturnya. Itu sejalan dengan panduan budidaya cikumega yang dikeluarkan oleh Malaysian Agricultural Research and Development Institute (MARDI) yang membidani kelahiran CM-19. Pada saat penanaman cukup benamkan 40 pupuk kandang. Lalu pupuk dengan NPK 15:15:15 sebanyak 4 kali dalam setahun. Dosis 0,2 kg per tanaman. Tahun berikutnya naikkan dosis menjadi 0,3 kg per tanaman.

Pada tahun ketiga dan seterusnya ganti dengan NPKTE dosis menjadi 0,5 kg per tanaman dan terus meningkat setiap tahun. Frekuensi menjadi 3 kali setahun. Pada tahun ke-10 dan seterusnya dosis pupuk tetap 3 kg per tanaman. Dengan perawatan intensif pada umur 5 tahun produksi tanaman mulai optimal. Dari luasan lahan 1 ha dengan populasi 336 pohon didapat 7 ton buah. Tahun ke-10 menjadi 25 ton; tahun ke-15, 30 ton.

Karakter “malas” berbuah cikumega dan ukuran buah kecil juga diduga dipengaruhi oleh sumber bibit. Dari tiga bibit yang hidup saat didatangkan Prakoso pada tujuh tahun silam, hanya satu bibit yang berbuah jumbo tapi jumlahnya sedikit pada umur 2 tahun. Sementara dua tanaman bobot buah rata-rata 100 g, mirip sawo lokal, tapi produktivitas mencapai 40 buah per tanaman. Padahal, teknik perawatan sama.

Prakoso menduga tanaman yang berbuah jumbo, tapi berbuah lebih sedikit adalah CM-19 asal pohon induk asli. Sementara sisanya berasal dari turunannya. Perbedaan juga terlihat pada sosok tanaman. Sawo cikumega “asli” bertajuk dan berdaun lebar dengan tepi daun bergelombang. Sedangkan yang berbuah sedikit tajuknya kecil, berdaun agak lonjong dan sempit. Menurut MARDI tanaman cikumega pendek, berbatang besar, lurus, tegap, serta percabangannya banyak dan pendek (lihat Rp225-juta untuk Sawo Istimewa, Trubus Oktober 2003). Oleh karena itu hobiis perlu jeli dalam mengenali bibit cikumega, merawatnya dengan intensif, dan tunggulah 5 tahun kemudian untuk mendapatkan buahnya yang besar dan lebat. (Andari Titisari)


Keterangan foto :

  1. Buah sawo cikumega berbobot 500 gram per butir
  2. Pohon sawo cikumega berumur 7 tahun dengan tinggi 4 meter bertajuk dan berdaun lebar di kediaman Prakoso Heryono
  3. Cikumega butuh perawatan intensif dan umur tanaman cukup untuk hasilkan buah bongsor dan banyak
  4. Lie Ay Yen bersama pohon sawo cikumega berumur 3 tahun setinggi 2 meter. “Buah masih jarang dan belum optimal bobotnya,” tutur Lie Ay Yen
Previous articleDalhari Lebat dalam Pot
Next articleOkulasi Mangga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img