Sunday, November 27, 2022

Ciuman Tanda Kasih Sjahrizal

Rekomendasi

 

Kolam berkapasitas 40 ton itu terlihat asri. Selain dikelilingi beraneka tanaman hias seperti phalaenopsis, dendrobium, dan alokasia, dari kejauhan jejeran bukit birukehijauan menjadi latar belakang kolam itu. Di sanalah setiap petang setelah menempuh perjalanan 2 jam dari kota Bandung, Sjahrizal bercengkerama dengan puluhan kohaku, sanke, showa, dan kinginrin.

Kedekatan mantan direktur PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan koinya tampak dari gerakan anggota keluarga ikan mas itu saat diberi butiran pelet. Mereka saling berebut mengecup tangan Sjahrizal. Alumnus Transportasi ITB itu membalas dengan mengusap-usap punggung setiap koi yang mendekat. ‘Kinginrin yang bersisik putih paling suka dipegang-pegang dan saya cium,’ katanya.

Suhu air 18-24°C membuat penampilan koi-koi itu cemerlang. ‘Suhu rendah membuat warna merah dan putih lebih pekat,’ ujar mentor bidang Perubahan Strategis PT KAI itu. Pattern merah kohaku seperti gincu, misalnya. Bahkan corak putih kinginrin nyaris seputih kertas. ‘Ini seperti pemeliharaan koi di Jepang yang airnya dingin,’ tambah Sjahrizal yang memilih Ciwidey karena alasan seperti negeri Sakura.

Jutaan rupiah

Perkenalan Sjahrizal dengan ikan samurai berawal dari ajakan Budiono, hobiis di Jakarta, pada awal 2002. ‘Buat dulu kolam di sana (Ciwidey, red), nanti saya kasih ikannya,’ katanya menirukan ucapan Budiono. Empat pekan berselang saat kolam sudah jadi, Budiono mengirim 3 koi impor: sanke, showa, dan kohaku ukuran 40 cm. Beberapa waktu berjalan, gaya renang dan asyiknya memberi pakan ampuh menghilangkan stres Sjahrizal yang kala itu menjabat direktur PT KAI periode 2002-2005.

Sjahrizal pun getol berburu koi dari dealer koi Jepang di Bandung dan di ibukota. Sekali berbelanja tak kurang dari Rp15-juta-Rp20-juta dirogohnya. Saat ini total jendral koinya mencapai ratusan ekor dengan 50 ekor di antaranya masuk kategori induk berukuran di atas 50 cm. Sebab itu Sjahrizal membangun 3 kolam besar lain berkapasitas 40 ton.

Posisi Sjahrizal sebagai petinggi di perusahaan BUMN saat itu mempermudah pencarian informasi seputar koi. Saat bertugas ke luar negeri ia memborong buku-buku tentang koi. ‘Semua jenis buku berisi koi saya beli,’ ujarnya. Tak hanya itu, di sela-sela kesibukannya Sjahrizal getol memotret bahkan mengukur panjang koi-koi miliknya.

Mata air

Kolam utama dibangun Sjahrizal berkelok dengan kedalaman 5 m. Kolam itu bersambung dengan kolam berbentuk persegi panjang berkapasitas 40 ton. Kedua kolam itu memiliki bekyshower alami seperti kucuran air terjun. ‘Ini air alami dari mata air,’ ujarnya. Dinding kolam dibuat dari batu sehingga tampak alami.

Pantas biaya pembuatan kolam murah, Rp400.000/kolam. Air kolam dan kucuran air di dinding itu berasal dari mata air tertutup di lereng Gunung Patuha, Kabupaten Bandung. Air cukup deras berdebit 1,6 l/detik. Mata air yang terletak di atas kolam menjamin ketersedian air sepanjang tahun. Air itu bergerak memenuhi kolam pertama sebelum mengalir masuk kolam mud pond seluas 2 m. Mud pond berguna untuk menyaring sisa-sisa pakan. Itu sebabnya air yang masuk ke kolam kedua jernih.

Saking jernihnya, 10 partisi filter biologis yang dibuat di samping kolam tidak dipakai. ‘Sudah 5 tahun tidak dipakai. Filter hanya untuk antisipasi bila mata air kering dan tercemar,’ kata penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) itu.

Serangan kutu

Tak selamanya merawat koi berjalan mulus. Pada tahun pertama pemeliharaan, 40 koi di kolam utama terserang kutu. Kutu yang tinggal di sisik ikan itu bersumber dari air hujan. Sebabnya, ‘Kolam terbuka tanpa atap,’ kenang Sjahrizal. Turunnya hujan juga menurunkan pH kolam. Akibatnya ikan stres dan satu per satu mati.

Agar wabah tak menyebar, koi dikarantina dalam bak fi ber. Bak diberi arus untuk memutar obat selama sebulan penuh. Sayang, ikan akhirnya tetap mati. Kemalangan itu juga dipicu karyawan yang salah merawat. ‘Pakan diberikan berlebihan sehingga bak kotor,’ kenangnya. Karena itu Sjahrizal merasa perlu terjun langsung. Ia pun menambah frekuensi perjumpaan dengan rutin mendatangi koi setiap hari. Namun, upaya itu cuma menyelamatkan 8 koi ukuran 5 cm.

Dua tahun terakhir saat koi tak lagi bermasalah, frekuensi kunjungan Sjahrizal menurun. Pasalnya, kesibukan di kantor dan nurseri menyita banyak waktu. Namun, ‘Setiap weekend saya pasti menginap di sini,’ ucapnya. Awal 2008, Sjahrizal kembali bersemangat membangun kolam. Yang dibangun kolam pemijahan. ‘Banyak koi siap jadi induk. Sayang bila tidak dipijahkan,’ tuturnya. Rencananya akan ada 12 kolam di luasan tanah 1,2 ha itu. Bagi Sjahrizal memelihara koi di Ciwidey ibarat di Jepang. ‘Di sini koi-koi saya lebih berkualitas,’ katanya. (Lastioro Anmi Tambunan)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img