Tuesday, August 9, 2022

Dari Afrika Mendarat di Kudus

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Gambar buah yang diterima wartawan Trubus, Nesia Artdiyasa, itu lalu menyebar ke seluruh pelosok tanahair. Para pencinta buah di Nusantara pun terenyak melihat buah berpenampilan unik itu. Para importir bibit buah kebanjiran telepon yang menanyakan keberadaan buah itu di negeri Khatulistiwa.

Tiga bulan berselang sebuah kabar mengejutkan datang dari Eddy Soesanto, penangkar buah di Depok. ‘Kita tak perlu mengimpor dari Jamaika. Di Kudus, Jawa Tengah, ackee-nama buah itu-tumbuh di tengah kota,’ katanya. Di Kota Jenang itu ackee pernah ditanam sebagai tanaman penghijauan.

Asin dan gurih

Secuil informasi itu memancing Trubus menelusuri ackee di Kudus pada Februari 2009. Ditemani Mujib Bambang Suroso, penangkar buah di Kudus, Jalan Raya Sunan Kudus disusuri dengan Daihatsu Espass merah. Seratus meter dari mulut jalan, Mujib menepi mendekati pohon yang tumbuh di kiri jalan. ‘Itu buahnya,’ ujar Mujib sambil menunjuk ke dompolan buah berwarna merah dengan semburat kuning seukuran salak.

Beberapa buah yang tergantung tampak terbelah karena tua. Di antara kulit yang terbuka tersembul 3-4 juring buah berwarna jingga muda dihiasi biji-biji bulat hitam. Penampilan buah sama persis dengan foto ackee yang diterima Trubus dari Maurice Kong, direktur Rare Fruit Council International di Florida, Amerika Serikat. Eureka! Itu benar-benar ackee Blighia sapida.

Dengan cekatan Mujib memanjat pohon dan memetik beberapa dompol buah. Trubus membuka buah yang terbelah, lalu dicicip. Begitu digigit daging buah terasa lembut. Teksturnya seperti daging buah durian. Bedanya, bukan rasa manis yang menyergap lidah, tapi rasa asin dan gurih, mirip rasa keju.

Terus berbuah

Di sepanjang Jalan Raya Sunan Kudus terdapat 50 pohon yang tumbuh di trotoar kanan dan kiri jalan. Setiap pohon masing-masing berjarak 10 m. Hampir seluruh pohon setinggi 3-4 m itu tengah berbuah. ‘Di sini ackee terus-menerus berbuah,’ kata Mujib.

Sayang, buah yang muncul sepanjang tahun belum dimanfaatkan. Di Jamaika ackee dikonsumsi dan diolah menjadi beragam menu makanan. Daging buah matang ditumis dengan ikan kod yang diasinkan dan sayuran lain, serta diberi bumbu lada. Rasanya gurih sedikit pedas. Ackee and saltfish-nama hidangan itu-menjadi menu istimewa yang kerap disajikan di restoran-restoran mahal di Jamaika.

Makanan berbahan ackee berasa gurih karena berkadar lemak tinggi seperti alpukat. Rasa gurih itulah yang membuat hidangan menjadi lezat. Selain lezat, pera roja-sebutan ackee di Meksiko-menjadi makanan favorit karena kaya nutrisi seperti asam lemak esensial, vitamin A, dan protein (lihat tabel).

Di Kudus ackee sekadar menjadi tanaman peneduh. Buah seringkali dibiarkan gugur dan berserakan di bawah pohon. ‘Warga Kudus tidak ada yang tahu kalau buah ackee bisa dikonsumsi,’ ujar Mujib. Ayah 2 anak itu mulanya juga tidak tahu-menahu soal tanaman itu.

Namun, setelah melihat foto ackee di Trubus (baca Sensasi Tiga Benua, edisi Oktober 2008), ia teringat pernah melihat tanaman itu tumbuh di sepanjang trotoar Jalan Raya Sunan Kudus yang hampir setiap hari dilewati. Begitu diamati, penampilan buah mirip dengan yang di majalah.

Mujib lalu mengecek asal-muasal ackee ke kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kudus. Anggota famili Sapindaceae itu sumbangan dari perusahaan rokok terbesar di Kudus untuk penghijauan kota. Mereka menanamnya pada 2005.

Gregori Garnadi Hambali, ahli botani di Bogor, juga pernah melihat ackee tumbuh di kebun percobaan milik Departemen Pertanian di Cimanggu, Bogor, pada 1970-an. ‘Cuma saya belum lihat lagi apakah tanaman itu masih hidup apa tidak,’ ujarnya.

Beracun

Greg menduga ackee yang tumbuh di tanahair berasal dari Amerika. Julia F Morton dalam bukunya Fruits of Warm Climate menyebutkan ackee banyak tumbuh di Jamaika. Kapten William Bligh pertama kali membawanya dari Afrika Barat pada 1793 ke Jamaika. Itulah sebabnya nama ilmiah ackee Blighia sapida merujuk nama prajurit angkatan laut kerajaan Inggris itu. Sejak itu palo de seso-sebutan ackee di Kuba-mulai dibudidayakan dalam skala luas.

Di Jamaika budaya mengkonsumsi ackee lestari hingga sekarang. Daging buah kerabat rambutan itu dikemas dalam kaleng, lalu diekspor ke Inggris dan Amerika Serikat. Pada 2005 nilai ekspor ackee kalengan mencapai US$400-juta atau setara Rp4-triliun.

Namun, hati-hati bila mengkonsumsi ackee. ‘Buah muda beracun,’ ujar Greg. Buah muda mengandung racun hipoglisin A dan B. Hipoglisin A terdapat pada biji dan daging buah muda. Sedangkan hipoglisin B hanya terdapat pada biji. Di dalam tubuh manusia hipoglisin diubah menjadi asam metilensiklopropil asetat (MCPA). Senyawa itu menghambat aktivitas enzim yang mengurai senyawa acyl-CoA, koenzim yang berperan pada metabolisme asam lemak.

Hipoglisin mengikat koenzim A, karnitin, dan karnitin asiltransferase I dan II sehingga kinerjanya terhambat. Senyawa beracun itu juga menghambat betaoksidasi pada asam lemak. Betaoksidasi menghasilkan adenosin triposfat (ATP), nikotinamid adenin dinukleotid (NADH), dan asetil koenzim A yang merupakan pasokan energi dari hasil glikolisis. Bila betaoksidasi terhambat, tubuh tidak bisa mengurai cadangan glukosa yang disimpan dalam hati sehingga kadar gula dalam darah berkurang alias hipoglikemia.

Aman

Menurut Maurice Kong, buah yang benar-benar matang aman dikonsumsi. Cirinya buah membelah penuh atau sebagian, tetapi masih menggantung di pohon. Sebelum diolah, daging buah sebaiknya direbus dalam air bergaram atau susu, kemudian ditumis dengan mentega. Tambahkan bahan lain dan bumbu agar citarasanya semakin lezat.

Bukti amannya ackee pernah disaksikan Maurice Kong di salah satu hotel di Jamaika. Hotel itu menyajikan hidangan berbahan ackee 3 kali dalam 5 hari. Jumlah tamu yang menginap di hotel itu rata-rata 3.000 orang setiap pekannya. Namun, dari tamu sebanyak itu tak satu pun yang dilaporkan meninggal akibat keracunan ackee. Kini ackee hadir di tanahair. Jadi tak perlu jauh-jauh ke Jamaika bila ingin mencicipi lezatnya menu khas negara penghasil bauksit terbesar di dunia itu. (Imam Wiguna)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img