Friday, December 9, 2022

Dari Hutan Sampai Dapur

Rekomendasi

 

Hiprokrates berkata, jadikan makanan sebagai obatmu.

Yulani Andar Prahasti mengambil sebutir telur ayam kampung, memecah cangkangnya lalu memisahkan kuning telur dari putihnya. Ia lalu mengocok kuning telur itu dengan sesendok madu berkualitas bagus hingga membentuk semacam pasta. Kemudian Yulani menambahkan sesendok air perasan rimpang kunyit untuk menghilangkan bau amis.

Ramuan dari dapur itulah yang ia berikan kepada Aqeelazia Xavia V ketika putri pertamanya itu menderita radang tenggorokan disertai panas tinggi. Ramuan diminumkan hingga habis. “Sore diberikan, biasanya keesokan hari Zia sudah segar kembali,” tutur manajer pemasaran sebuah perusahaan pencetakan di Bogor, Provinsi Jawa Barat, itu. Suhu tubuh si cerdik bercahaya-arti nama Zia-pun kembali normal.

Bahan alam

Yulani ibarat mewujudkan ucapan Hipokrates pada 2.400 tahun silam. Bapak Kedokteran itu menyebutkan, makanan adalah obat. Beragam riset ilmiah yang lahir kemudian memperkuat ucapan Hipokrates. Penelitian oleh Profesor Colin Bins dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Curtin, Australia, misalnya menunjukkan konsumsi teh hijau mampu menurunkan risiko serangan stroke. Diduga kandungan polifenol daun Camelia sinensis antara lain epigalokatekin-3 galat (EG CG), epigalokatekin (EG C), dan epikatekin-3 galat (ECG) berperan sebagai antioksidan kuat. Antioksidan teh hijau mencegah pembekuan darah tidak normal sehingga mencegah stroke.

Dr Ekky M Rahardja SpGK dari Rumahsakit Royal Taruma di Jakarta Barat menyebut makanan yang dimanfaatkan sebagai obat merupakan pangan fungsional. “Orang mengonsumsi bahan makanan itu karena berharap mendapatkan khasiatnya. Misal menyantap tomat karena kandungan lycopenenya bersifat antioksidan,” tutur Ekky.

Namun, makanan juga punya sisi lain: menjadi sumber aneka penyakit ketika kita tidak bijak memanfaatkannya. Salah satunya yang menjadi kini pandemi manusia modern: obesitas alias kegemukan. “Obesitas merupakan penyakit akibat gaya hidup,” kata Ekky M Rahardja. Obesitas muncul ketika manusia modern kini ingin hidup serbapraktis. Dokter Spesialis Gizi Klinik dari Kolegium Ilmu Gizi Klinik Indonesia itu menggambarkan dahulu untuk makan orang harus melakukan aktivitas berburu. Sekarang mau makan orang tinggal menelepon warung penyedia makanan. Faktor gaya hidup menjadi penyebab dominan obesitas, bisa sampai 80%. Kasus obesitas karena faktor hormonal, stres, atau sindrom lapar di malam hari relatif sedikit.

Amerika Serikat merupakan negara paling banyak obesitas (31%), diikuti Meksiko (24%), dan Inggris (23%). Itu terkait dengan kebiasaan penduduk negeri Paman Sam yang mengonsumsi makanan berbahan refined carbohydrate seperti donat, cake, dan produk-produk bakery. Karbohidrat dalam bentuk itu sangat mudah diserap tubuh dalam waktu singkat. Jika tidak dimanfaatkan menjadi energi maka akan disimpan dalam bentuk lemak.

Gerai-gerai penyedia makanan seperti itu yang kini mulai menjamur di tanahair. Belum lagi bermunculannya berbagai olahan makanan yang digoreng atau keripik. Sebuah riset menunjukkan konsumsi kentang dalam bentuk keripik memberi rasa kenyang seperempat kali dibanding mengonsumsi kentang-ukuran sama-dalam bentuk umbi rebus. Artinya untuk mendapatkan rasa kenyang yang sama kita perlu porsi keripik 4 kali lipat. Pantas meski belum ada angka pasti, kasus obesitas di tanahair kian melonjak.

Makin makmur

Menurut Ekky obesitas menjadi masalah seiring dengan meningkatnya pendapatan masyarakat. “Waktu masyarakat masih susah, di kuliah kedokteran kita tidak bicara tentang kegemukan, yang kita bicarakan  kekurangan gizi, malnutrisi. Kemudian ada masa kegemukan sudah ada, tapi malnutrisi masih ada. Sekarang kelihatannya masih dalam posisi itu tapi frekuensi kegemukannya lebih banyak,” tutur kelahiran Jakarta 3 April 1948 itu.

Padahal kegemukan sumber berbagai penyakit, mulai dari diabetes mellitus, darah tinggi, jantung koroner, dan stroke. Penderita obesitas juga kerap terjangkit cendawan pada daerah lipatan, sendinya menjadi nyeri karena menanggung beban yang berat. Kegemukan juga menyebabkan imunitas tubuh terganggu. Pada perempuan kegemukan menyebabkan gangguan hormonal yang mempengaruhi kesuburan, mengganggu siklus menstruasi, dan memicu ovary syndrome.

Obesitas pada pria menyebabkan kadar testosteron, leutenizing (LH), dan follicle-stimulating hormone (FSH) lebih rendah ketimbang pria langsing. Fungsi testosterone antara lain meningkatkan libido alias gariah seksual. Untuk mengembalikan gairah itu perlu terapi pengobatan modern maupun menggunakan herbal. Pengalaman Yasin di Malang, Provinsi Jawa Timur, konsumsi minyak kemiri Aleurites moluccana mampu membangkitkan gairah seksual. Demi memperbaiki kesuburan organ reproduksi banyak pasien perempuan menyambangi dokter dan herbalis. Bukti empiris menunjukkan barucina Artemisia vulgaris, rimpang temuputih Curcuma zedoaria, dan rumput mutiara Hedyotis corimbosa baik untuk menyuburkan rahim.

Oleh karena itu obesitas menjadi penyakit yang perlu diatasi. “Karena obesitas merupakan penyakit gaya hidup, maka cara mengatasinya harus dengan berubah gaya hidup juga,” tutur Ekky. Salah satu kuncinya dengan bergerak untuk membakar kalori dari makanan yang kita asup. Aktivitas bersepeda selama 77 menit misalnya mampu membakar 300 kalori dalam sebuah donat. Itu dibarengi dengan konsumsi makanan mengandung serat tinggi dan mampu meluruhkan lemak.

Riset oleh Prof Dr Ir Suminar Setiati Achmadi, guru besar Ilmu Kimia Fakultas MIPA IPB menunjukkan konsumsi asam gelugur Garcinia atroviridis mampu mengatasi obesitas. Itu karena kandungan asam hidroksisitrat kerbat manggis itu berkhasiat sebagai penurun bobot badan. Itu sejalan dengan riset oleh para peneliti di beberapa lembaga di Thailand. Buah yang tanamannya kerap ditemukan di hutan-hutan Sumatera itu menurunkan berat badan secara signifikan dengan cara menghambat kerja enzim ATP (adenosina trifosfat) sitrat liase yang berperan membentuk asam lemak di dalam hati.

Kehidupan dalam dunia modern pun membuat kita lebih mudah terpapar radikal bebas penyebab berbagai masalah kesehatan termasuk kesehatan kulit. Dalam lingkungan seperti itu kita membutuhkan antiokasidan. Sumber paling mudah dari buah dan sayuran seperti kulit manggis. Seperti kata Bapak Kedokteran zaman Yunani Kuno, Hipokrates, jadikan makanan sebagai obatmu. (Evy Syariefa)

Keterangan Foto :

  1. Madu propolis salah satu pangan fungsional, berkhasiat antara lain sebagai antibakteri dan antiinfeksi
  2. Dr Ekky M Rahardja SpGK, obesitas merupakan penyakit akibat gaya hidup. Untuk  mengatasinya juga dengan mengubah gaya hidup
  3. Konsumsi kentang dalam bentuk keripik memberi rasa kenyang seperempat kali konsumsi dalam bentuk umbi  rebus. Itu berarti untuk mendapat rasa kenyang yang sama  perlu mengonsumsi 4 porsi keripik kentang
  4. Buah dan sayuran sumber antiokasidan tinggi Konsumsi minyak kemiri yang kaya lemak tak jenuh membuat gairah seksual membara

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mentan Ingin Produk Hortikultura Segera Tembus Pasar Mancanegara

Trubus.id — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk hortikultura, seperti buah dan sayur bisa tembus pasar mancanegara. Mengingat,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img