Monday, August 8, 2022

Dari Juragan sampai Doktor Bibit

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Pertengahan 2005 memang jadi ‘masa suram’ buat kelahiran Jepara itu. Padahal ia baru saja berbulan madu dengan lengkeng. Di kantongnya sempat ada Rp150-juta hasil penjualan 1.500 bibit lengkeng pingpong selama 3 bulan pada 2004. Mata jeli Eddy menemukan bibit lengkeng jumbo itu di Karawang pada 2003. Ketika itu dari ujung pucuk bibit setinggi 50 cm muncul 3 buah seukuran bola pingpong berwarna cokelat kemerahan.

‘Ini lengkeng istimewa,’ ahli desain interior itu membatin. Musababnya Dimocarpus longan itu berbuah di Karawang yang dataran rendah dan panas. Sifatnya pun genjah. Sejak itu setiap minggu -sembari mengurus proyek taman- Eddy membawa bibit ke Jakarta. Bibit dibesarkan dan diperbanyak di nurseri Arumdalu-kongsiannya dengan seorang teman. Alumnus Institut Seni Indonesia, Yogyakarta yang senang tanaman itu yakin suatu saat lengkeng pingpong bakal populer.

Geger

Prediksi Eddy tepat. Lengkeng berdaun melengkung dan berbatang nglancir asal Vietnam itu menjadi tanaman buah paling diburu pada 2004. Ketika itu dunia perbuahan geger mendengar lengkeng berhasil dipanen di dataran rendah dan berumur genjah. Seluruh stok di kebun Arumdalu pun ludes dibeli konsumen.

Lantaran penyedia bibit masih jarang, harga lengkeng pingpong mahal: Rp100.000-Rp125.000 per batang. Eddy pun ketiban untung. Total jenderal selama hampir 2 tahun terjual 4.000 bibit. Nilai omzetnya Rp400-juta.

Sayang, pria 43 tahun itu kemudian mesti berpisah dengan Arumdalu. Maka dimulailah masa-masa suram di Sentul. Aset sebesar 40%-sebagian berupa bibit-di Arumdalu dengan tergesa-gesa dipindahkan ke sebuah tanah kosong di pinggir jalan. Namun, di sana Eddy tak bisa membesarkan bibit menjadi indukan karena takut sewaktu-waktu digusur.

Dewi Fortuna menyambangi ketika seorang teman meminjamkan lahan seluas 2.000 m2 di Cijantung, Jakarta Timur. Berbarengan dengan itu, dari kawan lain Eddy mengenal buah tin Ficus carica yang tercatat di 2 kitab suci: Al Qur’an dan Injil.

Mesti beda

Naluri bisnis Eddy langsung terusik. Dalam hitungannya, jika dikemas sebagai buah religi, tin bakal jadi buruan kolektor. Sayang, bibit yang ditunjukkan sang kawan tidak dijual. Pantang menyerah, pria berkumis itu keluar-masuk kebun pembibitan di berbagai daerah. Kebun raya, wihara, dan pesantren pun tak luput menjadi tempat pencarian.

Akhirnya dari Puncak, Cianjur, ia mendapat 6 ara hibrid: negrone, black ishia, conadria, flanders, long yellow, dan panachea tiger. Sekali lagi perhitungannya tepat. Dari ara Eddy mendapat untung berlipat-lipat. Dari negrone saja ia mendulang Rp35-juta hasil penjualan 100 bibit selama 3 tahun.

Berkat tin, awan mendung pun mulai tersibak. Eddy menemukan formula pas untuk melanggengkan bisnis bibit buah: pilih jenis berbeda dan unggul. Sumbernya dari lokal, bahkan mancanegara. Resep itu ternyata manjur. Dari lengkeng pingpong, diamond river, dan itoh-asal Vietnam dan Thailand; miracle fruit; srikaya new varietas-dari Australia, dan ara kocek lelaki gempal itu bertambah tebal.

Dari perniagaan sepanjang 2007 ia memperoleh laba bersih Rp200-juta. Dari rupiah asal buah itu Eddy membeli lahan seluas 3.000 m2 di Parung, Bogor, untuk kebun produksi. Di sana ratusan bibit terhampar dan siap dikirim ke pembeli di Medan, Padang, Riau, hingga ke Papua. Rata-rata sirkulasi bibit per bulan mencapai 750 buah. Maka dari penangkar kakilima, Eddy jadi juragan bibit.

Doktor bibit

Yang juga mendapat berkah dari bibit ialah Lutfi Bansir. Kelahiran Tanjung Selor itu sejatinya berstatus pegawai negeri sipil di Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur. Sehari-hari sepulang kantor Lutfi sibuk di kebun bibit miliknya seluas 2,7 ha. Di kebun itu Lutfi membesarkan durian, jambu air, mangga, lengkeng, dan srikaya sebagai pohon induk.

Buah memang jadi dunia ayah 2 anak itu. Total jenderal ia menanam 30 varietas jambu air, 20 varietas durian, 4 varietas lengkeng, 7 varietas silangan nangka dan campedak, 8 varietas jambu, dan 5 varietas rambutan. Itu hasil perburuan ke berbagai daerah dan negara selama 4 tahun terakhir. Dari Kinibalu, Malaysia, misalnya Lutfi mendapat 7 jenis jambu air. Sebut saja madu merah dan madu hijau. Dari Thailand didapat varian citra-thab thin chan.

Di kebun, tanaman itu diperbanyak. Jenis introduksi dan unggul membuat bibit itu menjadi buruan pembeli dari Tarakan, Jakarta, Malang, dan Surabaya. Pantas bila rupiah pun direngkuhnya. Setiap bulan dari perniagaan itu diperoleh Rp6-juta-Rp12-juta. Laba dari buah itulah yang dipakai Lutfi untuk bolak-balik Bulungan-Malang.

Di Malang, master budidaya pertanian itu tengah mengejar gelar doktor dari Universitas Brawijaya-kesempatan yang datang dari Bupati Bulungan karena Lutfi intens mengembangkan bibit buah. Ketika akhir pekan tiba ia kembali ke Bulungan untuk mengontrol kebun.

Di Malang pula, bersama Prof Ir Sumeru Ashari MAgr Sc PhD, guru besar hortikultura dari Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Lutfi menyeleksi 8 durian unggul dari 3.000 durian di Kasembon, Malang. Itulah salah satu bibit andalan yang bakal dikembangkan. ‘Nantinya saya betul-betul jadi doktor bibit. Diberi kesempatan karena bibit dan dibiayai oleh bibit,’ kata Lutfi . Maka buat Eddy dan Lutfi tiada waktu tanpa bibit. (Destika Cahyana/Peliput: Ari Chaidir)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img