Thursday, December 8, 2022

Dari Kontes Mangga LBUN 2003 Para Juara dari Halaman Rumah

Rekomendasi

Wajar saja lazis djiddan menangguk gelar juara. “Daging buah bagus sekali. Warna daging jingga menarik, tebal, halus, dan tidak benyek. Lagipula mengeluarkan aroma harum,” tutur Rudi Sendjaja, juri praktisi pemasaran buah-buahan. Sosoknya pun jumbo dengan biji tipis. Yang dikirim ke panitia lomba rata-rata berbobot di atas 500 g.

Dari segi penampilan luar, ia kurang menarik. Kulit yang kuning kehijauan dipenuhi bintik-bintik berwarna cokelat. Bentuknya bulat lonjong tak beraturan. Namun soal rasa, para juri sepakat, “Enak sekali!” Tak salah memang bila dr H Fuadi Yatim menamai mangga koleksinya lazis djiddan (dari bahasa Arab, berarti enak sekali, red).

Dari Cirebon

Dokter alumnus Universitas Indonesia pada 1970 itu memperoleh lazis djiddan dari seorang kolega di Cirebon. Waktu itu sang rekan berpromosi kalau ia memiliki mangga paling enak. “Kalau sudah makan yang ini, mangga yang lain lewat,” tutur Fuadi menirukan sang rekan.

Tanpa mencicipi buah, langsung saja pengajar mata kuliah psikiatri di Fakultas Kedokteran UI yang hobi tanaman itu meminta 5 entres untuk dibawa pulang ke Jakarta. Fuadi menyambung dengan batang bawah varietas brazil di halaman rumah. Dari 4 okulasi yang hidup, hanya 1 yang dipertahankan.

Tanaman setinggi kira-kira 5 m di halaman samping kediaman di kawasan Cipinang, Jakarta Timur, itu belajar berbuah pada umur 6 tahun setelah penyambungan. Apa yang dikatakan rekan di Cirebon ternyata benar. Mangga yang dari segi rasa dan bentuk mirip indramayu itu langsung menjadi favorit seluruh anggota keluarga.

Tetangga di kiri-kanan rumah dan rekan-rekan pun ikut mencicipi kelezatannya. Menurut Drs Hendro Soenarjono, juri pakar hortikultura, kualitas anggota famili Sapindaceae itu akan lebih baik bila ditanam di daerah kering seperti Jawa Timur.

Produktif

Meski agak telat berbuah, lazis djiddan—nama itu disematkan saat akan mengikuti lomba—rajin berbuah dan nyaris tak berhenti sepanjang tahun. Produktivitas cukup tinggi mencapai 400 buah per tahun. Bobot rata-rata 800 g per buah. Kala Trubus berkunjung pada awal Juli, sebuah yang baru saja dipetik mencapai bobot 1,4 kg.

Dengan penampilan dan kualitas rasa seperti itu, rekan-rekan di redaksi sejak awal menjagokan ia bakal keluar sebagai salah satu pemenang LBUN. Sebuah prediksi yang menjadi kenyataan kala para juri sepakat memberikan nilai tertinggi pada mangga jumbo itu.

Usai kemenangan, telepon di kediaman Fuadi kerap berderingmenanyakan bibit. Untuk mengantisipasi permintaan dari para hobiis dan kolektor, pria asal Sijunjung, Sumatera Barat, itu kini memperbanyak bibit hingga 1.000 pohon.

Rasa gado-gado

Dari segi penampilan fisik, campursari di peringkat ke-2 tak kalah jumbo dibanding lazis djiddan. Produksi saat ini rata-rata berbobot 1,2 kg per buah. Daging buah kuning tua, bertekstur lembut, dan berair banyak. Namun, rasanya kalah manis ketimbang lazis djiddan.

Campursari bercitarasa gado-gado. Campuran antara arumanis, golek, dan indramayu. Ia tidak semanis arumanis, tapi lebih enak daripada golek dan indramayu.Menurut Hendro, tekstur daging yang lunak di dalam dan agak keras di luar mirip indramayu.

Mangga di halaman rumah WahyuMulyaningsih di Blora itu enak dikonsumsi setelah matang benar. Ketika masih mengkal ia asam. Buah matang mengeluarkan aroma harum ditandai kulit yang berangsur menguning. Bentuknya beragam: bulat, lonjong, dan benjolbenjol.

Soal bentuk dan rasa gado-gado, diduga lantaran buah dipanen dari batang bawah dan batang atas. Maklum pada 1990 tanaman hasil okulasi itu sempat ditebang hingga tinggal setinggi 1 m karena di halaman rumah dibuat tarub untuk hajat. Saat tunas baru kembali tumbuh, hasilnya adalah mangga campursari. (Baca Trubus edisi Februari 2003)

Buah yang dikirim pada panitia lomba dipetik dari pohon berumur 5 tahun hasil cangkokan dari pohon induk. Buah dipetik pertama kali pada 2000. Tiga tahun mendatang, mungkin tak hanya Wahyu Mulyaningsih yang memanen campursari dari halaman sendiri. Sejak kemenangan pada LBUN 2003 ribuan bibit sudah dikirim ke Bogor, Semarang, Demak, Boyolali, Surabaya, dan Banjarmasin.

Hampir punah

Nun di Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta, sengir tumbuh subur di halaman rumah Shintawatie. Menurut perempuan berkulit putih itu, sengir ditanam dari biji pada 1992. Varietas itu asli Wonosari yang hampir punah. Tak banyak yang tertarik menanam lantaran rasa asam. Daging buah tipis dan berserat dengan biji besar.

Uniknya, mangga yang ditanam Shintawatie dari biji justru berbeda. Rasanya manis, lembut, tapi renyah. Daging berwarna jingga dan tebal dengan biji kecil. Serat yang mengganggu pun lenyap. Meski begitu aroma harum khas sengir tetap melekat tajam. Makanya ibu 2 anak itu tetap menamakannya sengir.

Pemenang ke-3 LBUN itu sudah menunjukkan keistimewaan sejak pertama kali berbuah pada umur 5 tahun. Waktu itu hasil panen hanya 7 buah. Produksi terus meningkat seiring bertambahnya umur tanaman. Rata-rata 500—600 buah per tahun pada panen raya yang biasanya jatuh pada November. Meski tak rutin, panen kecil terjadi pada Juni. Produksi tertinggi dicapai pada 2002 sebanyak 1.000 buah.

Lantaran rasa istimewa, para pedagang mulai mengincar sengir. Shintawatie menolak karena lebih suka membagikan buah berbentuk bulat seperti gedong itu kepada kerabat dan tetangga. “Satu RT sudah mencicipi semua,” ujarnya senang. Sayang, sampai saat ini bibit belum diperbanyak. (Evy Syariefa/Peliput: Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img