Friday, August 12, 2022

Dari Lomba di Biak Dendrobium schulleri Permata Belantara Terbaik 2005

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Di lomba bertajuk Anggrek Permata Belantara Indonesia 2005 itu, Dendrobium schulleri koleksi Zandra Ka. ar dinobatkan sebagai grand champion. Sebelumnya anggrek asal Biak itu menyabet gelar the best species. Piala Kristiani Susilo Bambang Yudhoyono dan Piala Menteri Pertanian Republik Indonesia pun bersemayam di Papua.

Dendrobium schulleri setinggi 150 cm itu memang layak juara. Menurut Dr. Irawati, juri dari Bogor, sang juara yang bertanding di kelas 02 tampil paling prima di antara 199 peserta. Sosok jangkungnya semarak dengan bunga berwarna kuning kehijauan polos. Warna bunga anggrek asal Pulau Numfor itu salah satu keunggulannya. D. schulleri lainnya kebanyakan “dikotori” sapuan warna cokelat tidak merata.

Ada 9 tangkai sepanjang 50—60 cm digelayuti 11—28 kuntum. Bunganya yang berbentuk bintang dan berukuran 6—8 cm tidak kalah menarik dibanding anggrek hibrida. Daun dan bulbnya mulus tanda dirawat sejak kecil. “Tanaman yang baru dicabut dari hutan tidak boleh dilombakan,” tandas Irawati, direktur Kebun Raya Bogor. Pantas, dengan penampilan prima, 5 dari 7 juri yang diketuai Moling Simardjo memilihnya sebagai yang terbaik.

Saingan berat

Pada babak penyisihan di kelas 02, ia bersaing ketat dengan D. liniale. Peserta nomor 154 milik PAI Jayapura itu tak kalah menarik. Sosok setinggi 2 m tampak semarak oleh bunga bunga kecil berwarna putih. Keduabelas tangkainya sepanjang 75—100 cm dipenuhi ratusan kuntum berbentuk bintang. Sayangnya, bunga D. liniale selebat itu dianggap sudah lazim.

Saat memperebutkan gelar dendrobium spesies terbaik D. schulleri mendapat perlawanan dari D. spectabile, juara kelas 03. Dendrobium keriting saingannya itu memiliki 4 tangkai sepanjang 40 cm. Setiap tangkai dilekati 13–16 kuntum bunga yang kompak menebar aroma. Uniknya, sepal dan petal D. spectabile tidak sekeriting lazimnya. Saat memperebutkan grand champion, si keriting itu pula pesaing berat D. schulleri.

Kompetitor lain adalah dendrobium jaap salossa. Anggrek yang mengamb i l nama gubernur Papua, Jaap Salossa, itu kampiun anggrek hibrida. Penampilannya juga semarak bunga. Koleksi Yulieta Bram Atururi, ketua PAI Provinsi Irian Jaya Barat itu, mempunyai corak menarik. Sepal dan petal hijau kekuningan berkombinasi lidah merah.

Jawa absen

Di babak penentuan grand champion, D. spectabile dan D jaap salossa mesti menyerah pada D. schulleri. Juri yang terdiri dari Moling Simardjo, I Suci Elmi, Emma Salossa, Dr Irawati, Sienvanita, Kessie Manuputti, dan Diah Widiastoeti, sempat melakukan pemungutan suara untuk menentukan pemenang. Hasilnya 5:2 untuk kemenangan D. schulleri. Dengan demikian, anggrek berumur 2 tahun itu meraih 4 penghargaan sekaligus. Yakni juara seksi 02 (dendrobium bentuk bintang), juara kelas dendrobium, juara spesies, dan grand champion.

Sayang, lomba yang diadakan di Biak itu tidak diramaikan oleh peserta asal Jawa. Jarak cukup jauh menjadi salah satu kendala. Anggrek hibrida yang biasanya mendominasi lomba, sepi peserta. Namun, prestasi Dendrobium schulleri serta sukses penyelenggaraan lomba dan pameran yang dipimpin Bupati Yusuf M. Maryen jadi kebanggaan masyarakat Biak Numfor. (Syah Angkasa)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img