Monday, August 15, 2022

Dari Sijangkung Wabah itu Berawal

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Setelah 2 tahun banting tulang merawat 50 lengkeng pingpong, akhirnya ia bisa memetik 10—20 kg dragon eye’s itu dari 2 pohon yang tumbuh subur. Sisanya, puluhan pohon lain, “Mati, banyak yang tingginya masih 1 meter gara-gara kebanyakan pupuk,” ujarnya. Masa penantian selama 2 tahun yang penuh aral melintang pun usai.

Semua berawal pada akhir 2000. Ketika itu ia jalanjalanke Kuching, 7 jam perjalanan bermobil dari Pontianak. Di sana ia melihat lengkeng berbuah lebat di halaman rumah. Terbersit rasa heran dibenaknya. Kok, lengkeng yang biasanya tumbuh di dataran tinggi bisa berbuah di tempat panas?

Dipetiknya beberapa butir lengkeng itu atas izin si empunya. Air mengucur keluar membasahi tangan begitu kulit buah dikupas. Saat dicicipi, rasa manis langsung menyergap langit-langit mulut. Diamond river, itulah lengkeng dataran rendah yang membuatnya terpukau. Saking terpesonanya, tanpa ragu ia langsung membawa 50 bibit ke kebunnya di Singkawang. Toh, jumlah itu dianggap masih belum cukup. Jadi, sepanjang 2001, secara berangsur-angsur ia membeli bibit setinggi 50—60 cm dengan harga RM40. Total di kebunnya kini tertanam 150 diamond river.

Dalam kunjungan berikut yang entah ke berapa kali, Moelyono menemukan lagi varietas lain, pingpong. Nurseri yang dikunjunginya waktu itu hanya mempunyai stok 10 bibit setinggi 50—60 cm. Tanpa mencoba rasa, diborongnya bibit berumur 6 bulan itu. Padahal, harganya saat itu RM100, lebih dari Rp200.000 per batang. Cerita tentang lengkeng itu berbuah seukuran bola pingpong tampaknya membuat penasaran.

Bibit pingpong yang diboyong memang sedikit lantaran barang tidak ada. Maklum varietas itu di Kuching pun masih langka. Maka teknik lama kembali dipakai. Moelyono datang rutin ke ibukota negeri Serawak itu dan setiap kali pulang, dibawanya 10 bibit pingpong. Saat itu harga bibit berangsur-angsur turun sampai ke RM40, setara Rp80.000-an per batang.

Gara-gara salah merawat, sekitar 50 lengkeng pingpong yang dikumpulkan dalam kurun waktu 1 tahun banyak yang mati. Kalaupun hidup, tumbuhnya merana. Sementara diamond river tumbuh subur.

Saat Trubus berkunjung ke kebunnya, pertengahan Maret, mantan pengusaha kayu itu sudah 4—5 kali mencicipi diamond river dari seratusan pohon; pingpong, baru 2 kali dari 2 pohon yang ditanam pada 9 April 2002. Lengkeng singkawang sebutan pedagang buah di Pontianak—berbuah 2 kali setahun: bulan 4—5 dan 7—8.

Itoh

Ulah Moelyono yang agak nekat itu tak dinyana menimbulkan wabah di Singkawang. Sejumlah pekebun lain meniru langkahnya menanam lengkeng dataran rendah. Demam itu pun merambah ke Pontianak (baca topik utama: Lengkeng Dataran Rendah: 8 Bulan Panen). Yang ditanam kebanyakan diamond river lantaran bibitnya tersedia. Pingpong, untuk sementara masih menjadi koleksi, menunggu pohon induknya siap diperbanyak. Bahkan di penangkarpenangkar besar seputaran Pontianak, yang tersedia hanya bibit diamond river. Wajar karena sumber bibit lengkeng dataran rendah mereka berasal dari Moelyono.

Di Kalimantan Barat pingpong masih langka dan diamond river mendominasi. Nun di Kuching, 2 varietas itu justru mulai ditinggalkan. Pangkalnya ialah kisah sukses Stevenson Chia menyambung diamond river dengan lengkeng thailand sekitar 3—4 tahun lalu. Varietas baru ini terbukti lebih bagus daripada diamond river dan pingpong. Sayang, pemilik TG nurseri ini tidak bersedia mengungkapkan nama varietas lengkeng thailand itu. Teknik yang dilakukannya juga dirahasiakan. “Maaf saya tidak boleh jelaskan,” ujarnya sambil tersenyum lebar.

Steven kini menanam itoh di lahan seluas 60 ha di Miri, 14 jam perjalanan bermobil dari Kuching ke arah Brunei Darussalam. Secara berangsur-angsur 100 ha diamond river yang sudah ada akan diganti dengan varietas baru ini. Saat ini penanaman itoh masih sangat terbatas karena pohon induknya sedikit. Umur pohon induk pun baru 3 tahun. Stevenson tidak menyarankan penanaman pingpong. “Dia memang besar (ukuran buahnya, red) dan kering, tapi buahnya kurang,” kata ayah 3 anak itu.

Munculnya debutan baru itu sudah terdengar oleh para pekebun lengkeng di Kalimantan Barat. Bahkan sejumlah petinggi Departemen Pertanian sudah mengetahuinya. Dr Ir M. Winarno, mantan Direktur Buah, Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura pada 2003 berkunjung ke kebun lengkeng di Miri. “Varietas itoh yang paling bagus,” katanya meyakinkan. Selera konsumen rupanya mendukung pernyataan Winarno. Di Miri, lengkeng itoh dijajakan RM6 per kilo. Diamond river hanya dijual RM3/kg. Lengkeng asal Thailand malah hanya RM2/kg.

Beda

Lengkeng itoh dinobatkan sebagai terbaik karena buahnya pas dengan permintaan konsumen. “Yang diinginkan (lengkeng, red) daging tebal, kering, dan berbiji kecil,” ungkap Ir. Hendrik Virgilius, MS pengelola kebun buah di Singkawang. Nah, itu semua belum bisa dipenuhi oleh diamond river dan pingpong. Rasa diamond river memang manis–18 brix–tapi airnya sangat banyak. Begitu kulit dibuka, air langsung mengucur membasahi tangan. Jari-jari terasa lengket kalau terkena cairan itu. Daging buah tebal dan berbiji kecil.

Lain lagi dengan pingpong. Ukuran buah–sesuai namanya–lebih besar daripada diamond river. Daging buah tebal dan kering, air tidak menetes ketika kulitnya dikupas. Sayang, bijinya besar. Aroma wangi setara dengan diamond river. Kombinasi diamond river dan pingponglahyang terwujud pada varietas itoh. “Itoh sekering pingpong, manis, tapi ukuran buah seperti diamond. Daging lebih tebal daripada diamond,” papar Steven. Kendatipun demikian, dari segi aroma, diamond lebih unggul ketimbang itoh.

Sosok fisik tanaman itoh memang berbeda. Trubus melihat, daun itoh panjang-panjang. Lebih panjang daripada diamond. Ini jelas sangat berbeda dengan daun varietas pingpong yang melengkung ke dalam. Tajuk itoh mirip diamond, kompak dan rata. Sementara tajuk varietas pingpong tak beraturan, menjulur ke segala arah.

Dari segi produktivitas, itoh setara dengan diamond. Mereka berbuah pertama kali 7—10 bulan setelah tanam dari bibit berumur 6 bulan. Panen pertama 1—2 kg/pohon. Pada umur 2 tahun produksi melonjak sampai 40 kg/pohon. Menurut Steven, produktivitas itoh naik 5—10 kg per pohon setiap tahun, seiring bertambahnya umur.

Saat ini bibit itoh setinggi 40—50 cm dijual seharga RM25 di Kuching; diamond river, RM15. Bibit pendatang baru itu belum dimiliki oleh seorang penangkar dan pekebun pun di Kalimantan Barat. Steven siap melayani pembelian dengan minimum order 50 batang sekali pengiriman. Kalau tawaran itu segera ditanggapi, tahun depan bakal ada lagi pekebun buah yang perasaannya berbunga-bunga tatkala itoh memunculkan buah. (Onny Untung/ Peliput: Evy Syariefa)

 

Previous articleBukan Arwana Biasa
Next articleVanili: Sekilo 3-Juta
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img