Wednesday, August 10, 2022

Dari Teras Memasok Pasar

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Penanaman sayuran dan budidaya ikan secara akuaponik ala Tengku Hazmi di Gunungputri, Kabupaten Bogor (Dok. Trubus)

Mengoptimalkan “lahan” di rumah untuk budidaya sayuran dan atau ikan demi mencukupi kebutuhan sekaligus sumber penghasilan.

Trubus — Halaman rumah Sere Rohana Napitupulu hanya beberapa meter persegi. Namun, warga Kelurahan Malakasari, Kecamatan Durensawit, Jakarta Timur, itu memanfaatkannya untuk budidaya sayuran hidroponik, akuaponik, dan budidaya ikan di kolam bulat terpal berrangka besi. Perempuan 61 tahun itu menebar 200 benih lele di kolam terpal. Memasuki rumah, enam wadah berbagai bentuk berisi air menyesaki meja komputer. Wadah-wadah itu berisi umbi ubi jalar ungu dan cilembu yang ditopang tusuk gigi agar tidak tenggelam.

Menanam sayuran di batang pisang ala Sere Rohana Napitupulu. (Dok. Sere Rohana Napitupulu)

Sere membibitkan umbi tanaman Ipomoea batatas itu dengan memanfaatkan tempat yang ada. Kalau bibitan ubi jalar itu diletakkan di luar, ia kesulitan memantau pertumbuhan atau mencegah serangan hama. Maklum, ia menikmati pertumbuhan tunas-tunas mungil itu menjadi bibit. Setelah tunas mengeluarkan daun ke-9, ia memindahkan ke polibag. Lahan untuk berkebun di halaman itu belum mencukupi. Oleh karena itu, ia memanfaatkan lahan fasilitas umum seluas 300 m2 di dekat rumahnya untuk menanam jahe merah, cabai, dan berbagai sayuran daun vertikultur.

Tak terhitung

Sere tidak kesulitan menjual hasil panen. Menjelang panen ia mengumumkan di grup whatsapp yang anggotanya para tetangga sekompleks perumahan dan mempersilakan mereka datang untuk memanen sendiri. “Banyak yang meminta disisakan. Saya jawab, ‘Yang datang duluan yang dapat’ agar bisa memilih sendiri,” kata alumnus Program Studi Teknik Elektro Universitas Kristen Indonesia, Jakarta Timur itu.

Ia menjual sayuran hidroponik, akuaponik, atau vertikultur Rp20.000 per rak sepanjang satu meter berisi lima lubang. Sementara itu harga ikan dari kolam bioflok atau kolam akuaponik sesuai harga di pasar. Pada Maret ketika pandemi Covid-19 merebak, tetangga ramai-ramai membeli jahe merah hasil panen Sere. Ia menenanam jahe bekerja sama dengan sebuah produsen herbal yang membeli sebagian hasil panen.

Pegiat pertanian perkotaan di Malakasari, Jakarta Timur, Sere Rohana Napitupulu. (Dok. Sere Rohana Napitupulu)

Ibu 3 anak itu membuat sayuran buah seperti mentimun, terung, atau cabai dalam pot dan mempersilakan tetangga membeli Rp10.000 per pot. Jika selesai panen sang tetangga enggan meneruskan perawatan tanaman, ia tinggal mengembalikannya kepada Sere. “Cara menjual tanaman dalam pot itu untuk mengurangi beban saya dan pekerja untuk menyiram,” kata Sere. Jika dihitung-hitung, setiap bulan Sere memproduksi 8–12 rak sayuran setara Rp160.000—Rp240.000 dan 12–13 kg lele seharga Rp15.000 setara Rp180.000—Rp195.000.

Masih ada sayuran buah dalam pot yang terjual 5–10 pot setara Rp50.000—Rp100.000 per bulan. Total omzetnya hanya Rp390.000—Rp535.000 belum dipotong biaya listrik, bibit, dan pakan ikan, pupuk, media tanam, serta gaji pekerja yang merawat. Namun itu belum menghitung penghematan belanja bulanan. Ia jarang membeli bahan pangan mentah kecuali beras atau bumbu rempah-rempah.

Sere menyatakan, hasil tak terhitung pertanian perkotaan adalah pasokan udara segar atau serapan polutan tanaman. “Sekecil apa pun lebih baik daripada tidak ada sama sekali,” ujarnya. Aktivitas merawat tanaman setiap hari membuatnya tidak langsung berjemur dan mempertahankan kesehatannya. Terbukti ia tetap bugar meski berusia enam dekade lebih serta mengidap diabetes, mag, dan tekanan darah rendah. Semangat menanam itu kini diikuti pekerja perawat kebun yang tinggal di perbatasan Jakarta Timur dan Bekasi.

Sejak pandemi merebak, tetangga Sere banyak yang ikut menanam di halaman rumah. Aktivitasnya bertambah dengan mengajarkan teknik merawat tanaman melalui telepon. Di Gunungputri, Kabupaten Bogor, Tengku Hazmi (39) bahkan memanfaatkan tembok pagar, dak rumah, dan balkon untuk berakuaponik. Selokan di depan rumah pun ia pasangi tutup beton untuk meletakkan tanaman. Ia membuat kolam lele berukuran 2 m x 1 m di dak rumah. Hazmi menanam sayuran seperti kangkung, selada keriting, bayam merah, dan cabai rawit. Selain lele, ia juga membudidaya ikan nila.

Barang bekas

Rumah tangga Hazmi dengan enam anggota keluarga itu jarang belanja sayur. Sebaliknya para tetanggalah yang datang “berbelanja”. Omzet Hazmi dari perniagaan “hasil bumi” di lahan sempit itu juga tidak banyak, berkisar Rp300.000—Rp400.000 per bulan. Namun kediamannya terasa lebih hidup karena kehadiran berbagai jenis tanaman produktif itu. Gemericik air yang mengalir dari kolam ikan ke meja dan ember tanaman melalui sistem filtrasi membuat suasana bekerja dari rumah akibat pandemi covid terasa tidak terlalu buruk baginya.

Perangkat akuaponik di pekarangan rumah Sere. (Dok. Sere Rohana Napitupulu)

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Prihasto Setyanto, M.Sc menyatakan, pandemi korona menyebabkan gangguan distribusi yang mengakibatkan jurang lebar antara wilayah surplus (sentra produksi) dan wilayah minus (pasar) komoditas. Efeknya harga di sentra anjlok sementara pasar kekurangan pasokan. Oleh karena itu, kementerian mengupayakan untuk membeli hasil panen petani lalu menyalurkannya kepada masyarakat terdampak.

Pihaknya berupaya menggandeng pemerintah daerah sentra untuk melakukan tunda jual. Teknisnya dengan menyediakan gudang penyimpanan. Prihasto mencontohkan, “Di sentra bawang merah Kabupaten Brebes, petani harus menyewa gudang untuk menyimpan bawang merah dengan biaya Rp400.000 per ton,” kata pria kelahiran 51 tahun lalu di Sumenep, Jawa Timur, itu.

Semua itu memerlukan waktu sementara setiap hari masyarakat di daerah pasar harus makan. Itulah saatnya masyarakat perkotaan mengembangkan pertanian lahan sempit. Sejak 2015 gerakan pertanian perkotaan bermunculan di berbagai daerah. Pemicunya, “Pertambahan penduduk meningkatkan kepadatan di kota-kota sekaligus memicu pertambahan kebutuhan bahan pangan,” kata Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, Dr. Yudi Sastro, M.P.

Pandemi korona yang memaksa orang lebih banyak tinggal di rumah—baik untuk bekerja dari rumah atau memang kehilangan pekerjaan—memberikan kesempatan lebih untuk bertanam di rumah. Biaya modal selalu menjadi kendala. Menurut Sere pertanyaan pertama hampir semua orang yang belajar menanam adalah biaya. “Setelah saya menjelaskan, mereka bertanya, ‘Berapa biaya sampai panen’. Padahal, biaya bisa kita tekan dengan menggunakan barang bekas,” kata peraih Anugerah Lingkungan Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup pada 2014 itu.

Batang pisang

Menurut Sere yang penting adalah kemauan mencoba dan semangat belajar dari kegagalan. Pertama kali menanam sayuran pada 2010–2011, Sere menggunakan botol bekas air mineral berkapasitas 1,5 liter. Ia memotong seperempat bagian atas botol lalu mendorong ke potongan bagian bawah. Sere memilin kain bekas lalu mengikat bagian atasnya. Perempuan kelahiran 12 Mei 1959 itu memelintir kain dan memasang menjulur sampai dasar botol dengan ikatan di bagian atas untuk menahan agar kain tidak melorot. Jadilah pot hidroponik sistem sumbu yang murah dan efektif.

Rak hidroponik lampu kreasi Kepala BPTP Bengkulu, Dr. Yudi Sastro, MP.

Ia melarutkan sebungkus kecil serbuk penyedap masakan untuk lima liter air. Larutan “nutrisi” itu merendam sebagian sumbu. Di pot itulah ia menanam kangkung, bayam hijau, atau seledri. Keruan saja pertumbuhan tanaman itu jauh dari sempurna. “Batang kurus, daun kecil, ujung menguning, dan pertumbuhannya lambat,” katanya mengenang. Bagi Sere yang terpenting bisa memanen sayuran untuk keluarga. Setelah mengenal hidroponik, ia menggunakan larutan nutrisi dengan pupuk AB mix.

Tidak ada biaya sama sekali? “Cari batang pisang, potong, tanami sayur,” kata Sere. Ia membuktikan bahwa potongan batang pisang sepanjang satu meter mampu menyokong pertumbuhan bayam atau kangkung sampai panen. Pada masa pandemi, budidaya hidroponik atau akuaponik menjadi salah satu alternatif menarik lantaran bisa memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus menjadi sumber penghasilan.

Singkat kata tidak ada alasan untuk “berkebun” di rumah. Di mana pun kita bisa menanam sayuran dan atau membudidayakan ikan seperti di teras, di atas got, bahkan di dinding sekalipun (baca: Berkebun di Rumah Kita halaman 36). Serangan organisme pengganggu tanaman memang sulit terelakkan. Namun, dengan beragam bahan alami seperti bawang putih atau lada, para pehobi itu mampu mengendalikannya (baca: Bahan Alam Atasi Hama halaman 20).

Vertikultur ala Sere. (Dok. Sere Rohana Napitupulu)

Warga gang sempit yang rumahnya tidak pernah memperoleh sinar matahari pun bisa berhidroponik. Caranya membuat rak hidroponik sistem sumbu dengan memasang lampu. Ketika bertugas di Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BPPP) DKI Jakarta, Yudi membuat rak tiga tingkat untuk menanam selada keriting. Rak itu selamanya tidak perlu terkena sinar matahari. Sebagai penggantinya, Yudi memasang lampu light-emitting diode (LED) berbentuk tabung.

Selada keriting panen 21 hari pascasemai karena lampu menyala 24 jam. Agar bisa teratur mengonsumsi sayuran, Yudi menyarankan penyemaian di tiap bak berjarak dua hari.
Menurut Yudi dengan 12 bak tanam, keluarga bisa memanen dua hari sekali dan mengonsumsi sayuran tiap hari. Bahkan, penanaman sayuran di pot alias tasalampot pun bis apanen berkesinmabungan. Kuncinya memahami umur produksi sayuran (baca: Jurus Panen Tak Putus, halaman 22—23). Yudi mengatakan, menanam tidak melulu memerlukan lahan luas terbuka. Siapa pun bisa “bertani” walau dalam ruangan sekalipun. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img