Friday, December 2, 2022

Dari Timur Menggapai Langit

Rekomendasi

 

Sengon bongsor itu memang bukan varietas biasa. Namanya varietas solomon. Seperti namanya, sengon itu memang berasal dari Kepulauan Solomon, Samudera Pasifik, yang bertanah vulkanik nan subur. Agus mengebunkan 40 varietas solomon pada pertengahan 2005. Di kebun Agus tegakan berdiameter 20 cm dan tinggi 15 meter memang hanya satu pohon. Tiga puluh sembilan pohon lainnya berdiameter 12-18 cm dengan tinggi 11-12 m.

Meski demikian, Agus cukup puas dengan hasil itu. Oleh karena itu, pekebun kelahiran Temanggung 4 Agustus 1961 itu menanam lagi 2.000 bibit solomon pada Januari 2007. Artinya pada Agustus 2008, umur pohon 20 bulan. Ketika Trubus berkunjung ke kebun di ketinggian 500 m dpl itu sengon tumbuh subur. Tinggi pohon rata-rata 12 meter dan berdiameter 12 cm. Bandingkan dengan pertumbuhan varietas lokal pada umur sama, tinggi 10 m dan diameter 9 cm.

Produksi tinggi

Padahal, Agus menanamnya dengan perlakuan sama. Pada awal tanam, ia memberikan 18 kg pupuk kandang per lubang tanam berjarak 3 m x 3 m. Dengan kecepatan tumbuh 2-3 m per tahun, pada umur 7 tahun varietas solomon setinggi 17 m dan berdiameter 30 cm sehingga menghasilkan 2 m3 kayu. Itu berarti produktivitas solomon 3 kali lipat ketimbang varietas lokal yang kini banyak dibudidayakan pekebun.

Solomon yang merupakan benih introduksi itu terbukti unggul dikebunkan di Temanggung. Oleh karena itu, Agus berniat memanfaatkan polongpolong

tua sebagai benih. Sengon mulai berbuah pada umur 4-5 tahun. Langkah itu ditempuh lantaran varietas solomon belum tersedia di tanahair. Dulu Agus memperoleh benih varietas solomon dari Dr Ir Eko Bhakti Hardiyanto, periset sengon dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.

Eko Bhakti Hardiyanto mengimpor benih solomon pada 1992. Harga sekilo benih Rp2,5-juta terdiri atas 20.000-25.000 biji. Harga itu terbilang mahal ketimbang harga benih varietas lokal yang berkisar Rp40.000-Rp50.000 per kg. Menurut Eko Bhakti sangat mungkin untuk memanfaatkan polong solomon sebagai benih. Selain solomon, Agus juga membudidayakan 1.000 bibit varietas morotai.

Saat ini umur morotai 2,5 tahun. Tinggi pohon 12-15 m dan berdiameter 14 cm. Pertumbuhan morotai termasuk bongsor bila dibandingkan dengan varietas lokal. Petani berprestasi se-Jawa Tengah itu memperoleh benih morotai juga dari Eko Bhakti. Pada 2003 Eko dan tim ekspedisi Universitas Gadjah Mada berkunjung ke Morotai, Maluku Utara. Dari sanalah ia mengantongi benih sengon varietas morotai.

Lokal

Varietas sengon asal Maluku itu justru sohor di mancanegara. Sebutannya di negeri orang adalah Falcataria moluccana. Jutaan pohon morotai antara lain dikebunkan di Hawaii, Amerika Serikat. Masyarakat setempat menyebutnya bataiwood atau molucca albizia. Kayunya terkenal sebagai pohon berkecepatan tumbuh sangat tinggi dan menjulang hingga 40 m. Pohon bercabang banyak itu digunakan sebagai peneduh di perkebunan kopi.

Morotai tumbuh baik walau di tanah miskin hara. Adaptasi morotai juga luas, dari dataran rendah hingga ketinggian 1.500 meter dpl. Menurut Muhammad Yamin Mile MSc, periset Badan Penelitian Kehutanan, Ciamis, Jawa Barat, sifat pertumbuhan morotai mirip sengon asal Wamena, Papua, yang cepat. Namun, menurut Yamin pertumbuhan sengon juga dipengaruhi lokasi budidaya, bukan semata-mata faktor genetik.

Penelitiannya menunjukkan pertumbuhan bibit sengon asal Wamena, Papua, lebih rendah dibanding bibit dari Desa Batulawang, Banjar, Jawa Barat. Padahal saat di persemaian, benih asal Wamena memperlihatkan keunggulan pertumbuhan seragam serta penampilan lebih baik dibanding dengan sumber benih lain. Perbedaan pertumbuhan benih asal Wamena itu karena perbedaan ketinggian tempat asal dengan lokasi penelitian.

Sumber benih asal Wamena berada di ketinggian 2.000 m dpl, sedangkan lokasi penelitian di ketinggian 50 m dpl. Perbedaan ketinggian mengakibatkan perbedaan suhu dan kelembapan yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Memilih benih pun mesti disesuaikan dengan ketinggian lahan. Benih-benih lokal lain yang termasuk unggul antara lain berasal dari Bogor, Jawa Barat, Purworejo, Jawa Tengah, dan Kediri, Jawa Timur.

Menurut Maman dari Balai Penelitian Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung, dari segi varietas, masyarakat tak pernah pilih-pilih. Asalkan perawatan baik, hasil bakal diperoleh. Oleh sebab itu, penanaman sengon harus cermat. ‘Jangan asal ditancapkan kemudian ditinggalkan,’ kata Maman. Usahakan memberikan pupuk sebagai nutrisi dasar bagi tanaman sengon. Keragaman dalam satu populasi kemungkinan disebabkan perolehan sinar matahari dan jumlah air yang berada di sekitar tanaman.

Riset Kunihiro Seido dari Japan International Coorporation Agency membuktikan varietas lokal asal Bogor, Purworejo, dan Kediri memiliki keseragaman tinggi antarpopulasi. Jika berhasrat mengebunkan sengon, varietas-varietas top itu layak menjadi pilihan: varietas dari timur-morotai dan solomon- atau varietas lokal. (Vina Fitriani/Peliput: Faiz Yajri & Niken Anggrek Wulan)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Balitbangtan Menjajaki Kolaborasi dengan Turki atas Keberhasilannya Sertifikasi Varietas

Trubus.id — Balitbangtan yang telah bertransformasi Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) mulai memperkuat jejaring internasional salah satunya dengan kunjungan ke...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img