Thursday, August 11, 2022

Daun Sembung Kikis Bronkitis

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Selama 8 tahun suara batuk itu menyayat hati. Wajah Icin tampak merah kebiruan menahan sakit. Tubuhnya pun membungkuk untuk mengurangi nyeri di dada. Sesekali napasnya terengahengah. Panas tinggi, sesak napas, serta batuk berdahak benar-benar menyiksa hidupnya. Wanita asal Bandung itu memang divonis mengidap bronkitis akut.

Infeksi cabang tenggorokan yang ia alami telah menahun. Lendir kental kehijauan selalu membanjiri saluran pernapasannya. Setiap 5—10 menit, batuk berdahak menghujam tenggorokannya. Alhasil sepanjang hari, ibu 8 anak itu hanya duduk terkulai lemas. Seluruh badannya terasa remuk. “Memasak pun kadang tak sanggup,” katanya. Kegiatan sehari-harinya sebagai ibu rumah tangga terbengkalai.

Selain bronkitis, Icin menderita darah tinggi, jantung, dan asam urat, sehingga ibu kelahiran 1929 itu tak mampu bergerak leluasa. Sesak napas akibat batuk membuatnya harus rebahan sambil menahan nyeri di dada. “Berjalan 5 m saja, saya terengah-engah,” tutur Icin.

Bukan tanpa usaha ia menghadapi penderitaan. Hampir seluruh dokter di daerahnya, Majalaya, telah didatangi. Setiap minggu sekali Icin kontrol ke rumah sakit. Rawat inap pun pernah dijalani di RS Hasan Sadikin, Bandung. “Ibu tak sanggup kalau terus-terusan berobat. Obatnya mahal, minimal Rp300-ribu sekali berobat. Itu pun hanya 1/2 resep saja,” kata Ia Maria, anak bungsunya, yang biasa menebus resep.

Namun, semua biaya itu tak dihiraukan demi kesembuhan. Sampai-sampai sawah warisan keluarga rela dijual untuk biaya pengobatan. Tanah miliknya seluas 20 tumbak (280 m2, red) di Rancaekek, Bandung juga dilepas sebagai ongkos pemeriksaan dokter dan menebus obat. Celakanya, kesembuhan yang ia dambakan tak kunjung datang. Malah peradangan pada batang tenggorokan semakin menjadi. Daya tahan tubuhnya turun drastis. Wanita bercucu 11 itu menjalani hari-hari dengan kenelangsaan.

Berkat sembung

Hingga akhirnya, 2 bulan lalu Ia Maria, si bungsu yang kuliah di Bandung, mengabari ramuan daun sembung bisa digunakan untuk pengobatan bronkitis. Icin pun segera mencarinya di sekitar rumah. Sayang Blumea balsamifera itu tidak ditemukan walau dicari hingga ke Solokan Garut, Majalaya.

Berprinsip pantang menyerah, Icin meminta si bungsu untuk mencari tanaman anggota keluarga Asteraceae itu di Bandung. Mulai dari kos-kosan, lingkungan kampus STKIP hingga Bale Endah, ditelusuri untuk mendapatkan daunsembung. Berhasil. Ia memperoleh ramuan daun sembung dalam bentuk cairan dari pengobat, Sarah Kriswanti. Si bungsu membeli 2 botol yang masing-masing berisi 1 liter.

Icin kemudian mencoba ramuan itu. Ia meminumnya setelah dihangatkan, 2 seloki atau 1/3 gelas sekali minum. Rasa hangat menjalar di tenggorokannya. “Sanajan pait saeutik tapina haneut kana awak jeung tikoro (Walaupun sedikit pahit tetapi hangat di badan dan tenggorokan, red),” kata Icin.

Selama 2 minggu Icin rutin meminumnya, 3 kali sehari setelah makan. Khasiat ramuan itu mulai dirasakan istri H Adang As’ad itu. “Sejak minum ramuan daun sembung badan ibu agak enak,” ucap Ia Maria kepada Trubus. Batuk berdahak disertai sesak napas pun sirna.

Dokter spesialis

Begitu pula dengan Arda. Sejak 2 bulan lalu, siswa kelas 1 SD Darul Hikam itu divonis terkena bronkitis. Batuk disertai demam tinggi sepanjang malam membuat anak itu tampak kurus. “Bobot badannya turun drastis sejak batuk-batuk,” papar ibunya. Saat tengah malam, erangan kesakitan Arda memuncak. Batuk kering memecah keheningan malam. “Buuu… perut Arda sakiit, bu…,” rintih Arda di sela-sela batuknya.

Keesokan hari, ibunya memeriksakan Arda ke dokter spesialis anak. “Ini sudah ke-16 kalinya Arda berobat. Sekali berobat minimal Rp150-ribu untuk dokter saja,” paparnya. Itu dilakukan tiap 3 hari sekali selama 2 bulan nonstop. Berbagai macam obat batuk pun telah dicobakan untuk putranya. Namun, hasilnya nihil, batuk Arda tak kunjung reda.

Oleh karena itu kesedihan Nia, sang ibu, tak dapat disembunyikan. Terkadang tangisan menyeruak tatkala menatap wajah anak 7 tahun itu yang pucat dan tampak kecapekan saat batuk. Sesaat setelah batuk Arda pun duduk terkulai lemas. “Dada dan perut sakit sekali kalo batuk. Capek banget, ” ucapnya polos sambil memegang dadanya yang nyeri.

Tanpa sengaja, ibu yang bekerja di Dinas Pertanian Bandung itu bertemu dengan Sarah Kriswanti dalam sebuah perhelatan. Ia pun berkeluh-kesah mengenai kesehatan anaknya. Pengobat di Bandung itu memberikan resep daun sembung. Hanya dalam 2 hari, kesehatan Arda berangsur pulih.

Ramuan daun sembung ia minum 3 kali sehari sebanyak 1 seloki. “Ramuan itu memang mujarab. Arda betul-betul terbebas dari batuk,” kata ibu beranak 2 itu sembari mengusap sayang kepala Arda. Sejak saat itu, Nia tak pernah lagi mendengar Arda batuk-batuk. Meminum obat pun ditinggalkan, termasuk antibiotik. Dokter spesialis yang biasa menangani hanya tersenyum menyaksikan kesembuhan Arda.

Gunung Wayang

Menurut Sarah, ramuan itu dibuat dari campuran daun sembung kering 15 g, adas manis 1 sendok teh muncung, cengkih 4 butir, sebatang kayu manis 3 cm, kapulaga india 10 butir, kemukus 4 butir, dan gula aren serta garam secukupnya. Setiap orang bisa membuat sendiri. Toh bahanbahannya dengan mudah ditemukan di sekitar tempat tinggal. “Semua tersedia di alam. Murah dan mudah didapatkan,” kata Sarah Kriswanti.

Tanaman sembung banyak ditemukan liar di alam. “Di tanah berpasir, pinggir kali sampai di gunung pun ada,” kata Sarah. Untuk menolong penderita bronkitis, ia sendiri mengambil daun sembung dari Gunung Wayang, Sumedang Utara. Di sana, tanaman perdu itu tumbuh subur.

Semua bahan direbus dalam 600 cc air selama 15 menit dalam panci tertutup. “Selama direbus, panci tidak boleh dibuka agar kandungan minyak asiri tidak menguap keluar,” tuturnya. Minyak asiri sangat berguna untuk mempercepat kesembuhan. Hasil rebusan diminum 3 kali sehari sesudah makan: pagi, siang, dan malam menjelang tidur. Untuk dewasa, ramuan diminum dengan dosis 2 selokiatau 1/3 gelas. Sedangkan untuk anak-anak cukup 1 seloki; balita cukup 1 sendok makan. (Rahmansyah Dermawan)

Ekspektoran

Tanaman sembung berasal dari Nepal. Blumea balsamifera itu mengandung minyak asiri (ngai kamfer), zat bergetah (kapur barus) dan borneol. Kandungan kimia lainnya adalah sineol, limonen, asam palmitin, myristin alkohol sesquiterpen, dimetileter khlorasetofenon, tanin, pirokatechin, dan glikoksida.

Menurut Sarah Kriswanti, peramu obat tradisional di Bandung, bukan hanya bronkitis yang dapat disembuhkan daun sembung. Pilek, asmatis, sinusitis, bahkan jantung bisa disembuhkan. “Antibakteri, melancarkan peredaran darah, dan mengobati daerah peranakan wanita sesudah melahirkan pun bisa,” kata wanita 57 tahun itu sembari tersenyum.

Daun berbentuk bundar telur sampai lonjong itu juga mampu menghilangkan bekuan darah dan pembengkakan, peluruh kentut (karminatif), peluruh keringat (diaforetik), bahkan mampu melawan nyeri dada akibat penyempitan pembuluh darah koroner (angina pektoris).

Daunnya bersifat pedas dan hangat, cocok sebagai peluruh dahak (ekspektoran). “Selain hangat di badan, juga untuk masuk angin” kata Ia Maria, yang sering batuk saat kedinginan. (Rahmansyah Dermawan)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img