Wednesday, August 17, 2022

Delapan Inovasi Paling Top Adopsi Teori Newton pada Buah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Secara sederhana teori itu menunjukkan, semakin jauh jarak kedua benda, maka semakin kecil pengaruh kekuatan tarikannya. Contohnya pada gravitasi matahari. Pengaruh gravitasi matahari di planet merkurius yang dekat matahari tentu jauh lebih besar ketimbang di planet bumi yang jauh. Beruntung merkurius berotasi saat mengelilingi matahari-untuk mengimbanginya-sehingga tidak tersedot ke matahari. Pun dengan bumi, ia juga berputar di sumbunya meski pengaruh gravitasi matahari jauh lebih kecil.

Logika itujuga berlaku di dunia pertanian, khususnya buah-buahan. Bedanya kekuatan gaya tarik menggambarkan ukuran dan kualitas buah. Massa benda mewakili diameter batang atau cabang. Dan kuadrat jarak menggambarkan posisi buah di batang dan cabang serta kedudukannya dari permukaan tanah. Artinya, ukuran dan kualitas buah semakin baik bila muncul di batang atau cabang yang berdiameter besar serta jaraknya dekat dengan permukaan tanah atau batang utama. Sebaliknya, semakin kecil cabang tempat buah menggantung dan semakin jauh buah dari permukaan tanah, maka ukuran dan kualitas buah kian menurun.

Monthong 13,5 kg

Tak percaya? Tengok saja durian di kebun Plantera Fruit Paradise di Ngebruk, Kendal, Jawa Tengah. Buah yang muncul dekat permukaan tanah dan dekat batang ukurannya jauh lebih besar ketimbang yang jauh dari permukaan tanah dan batang. Kualitas buah juga jauh lebih baik. ‘Semakin dekat jarak buah ke permukaan tanah dan batang, buah lebih manis dan legit,’ kata Pien Sanjaya, asisten direktur produksi PT Cengkeh Zanzibar di Kendal, Jawa Tengah.

Di sana Trubus melihat monthong yang muncul dekat permukaan tanah dan dekat batang bobotnya 13,5 kg. Jaraknya hanya 60 cm dari permukaan tanah dan 25 cm dari batang utama. ‘Biasanya yang dekat batang berbobot 5-7 kg, yang jauh 3-4 kg,’ ungkap Pien. Buah dikatakan jauh dari batang utama bila berjarak lebih dari 1 m. Untuk memperoleh buah di dekat permukaan tanah dan batang, Pien hanya mempertahankan dompolan bunga yang muncul di sana. Pada durian umur 3 tahun, yang dipilih ialah cabang pertama dari permukaan tanah. Satu dompol berisi 10-15 bunga. Bunga yang muncul ditempat lain dirompes.

Dengan alasan serupa Jerry Suwanto SSn, pemilik Ndeso Buah, di Karanganyar, Jawa Tengah, hanya mempertahankan bunga durian yang letaknya dekat batang utama agar menjadi buah.

Itu karena umur pohon sudah cukup dewasa, 8-9 tahun, sehingga lingkar batang utama sudah lebih besar daripada paha orang dewasa. ‘Saat muda dulu, hanya yang dekat permukaan tanah yang dibuahkan. Sekarang karena diameter batang tambah besar agak jauh juga tak masalah,’ kata perancang interior itu.

Efektif

Sejatinya, logika ala Newton itu sudah diterapkan pekebun di Thailand dan Taiwan. Pekebun durian di negeri Siam memotong pucuk batang utama durian agar sosok pohon tetap pendek sejak awal 90-an. Sebut saja di Supatra Land. Pohon durian umur 10 tahun di sana hanya setinggi 3-5 m. Tujuan utamanya agar perawatan pohon dan buah mudah. Panen pun gampang. Teknik itu ternyata bermanfaat ganda karena ukuran buah dan kualitas buah menjadi lebih baik.

Di Taiwan teori Newton digunakan pada jambu air dan belimbing sejak pertengahan 90-an. Di sana jambu air produksi komersial tingginya hanya 3-4 m. Bandingkan dengan jambu air di tanahair yang tumbuh meninggi dengan letak buah tidak beraturan. Di sana buah yang dipertahankan hanya yang dekat batang atau pada cabang yang kuat. Wartawan Trubus, Onny Untung, sempat mencicip jambu air di Taiwan pada 2003. Buah yang dipetik dari dekat batang berukuran besar, hampir 250 g. Rasa manis pun lengket di lidah. Pun belimbing, cabang buah bintang itu dibuat horizontal agar tidak tinggi.

Menurut Dr Ir Reza Tirtawinata, pakar buah di Bogor, sosok dan struktur tanaman yang ringkas dan kompak kunci keberhasilan Taiwan memproduksi jambu air. Pekebun di sana membuat jarak antara ujung akar dengan ujung tajuk daun sependek mungkin. ‘Penyaluran air dan unsur hara dari akar ke tajuk efisien. Begitu juga hasil fotosintesis dari daun yang disalurkan ke seluruh bagian tanaman benar-benar efektif,’ katanya.

Yang lebih menarik pekebun Taiwan mengatur pembuahan dengan teknik pengeratan batang. Pengeratan dilakukan dekat permukaan tanah, bahkan di bawah permukaan tanah dengan cara menggali tanah di sekitar batang. Lebar keratan hanya 0,5-1 cm. Pada saat luka berangsur sembuh mereka menimbun luka dengan tanah yang telah dicampur pupuk. Dari bekas keratan tumbuh akar baru yang menjadi jalan pintas penyaluran air dan unsur hara. ‘Dengan cara itu aliran air dan hara lebih efektif lagi,’ tutur Reza.

Naga pendek

Teori gravitasi itu juga berlaku di tanaman buah sukulen seperti buah naga. Haris Al Kurni, adik pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, Lawang, Malang, memperkenalkan teknik budidaya buah naga superpendek. Batang utama dipangkas hanya 1 m. Sulur dari ujung batang utama ditopang para-para bambu. Lazimnya, batang utama buah naga dipertahankan hingga ketinggian 2-2,5 m.

Meski cara itu ditemukan tak sengaja-lantaran turus yang tersedia panjangnya hanya 1-1,5m-Haris memperoleh manfaat luar biasa. ‘Kualitas buah benar-benar tak terduga, ukuran buah besar-besar, 90% masuk grade A,’ kata kelahiran Malang 33 tahun silam itu. Grade A ialah buah dengan bobot sekilo berisi 2-3 buah atau setara 333-500 g per buah. Grade B sekilo isi 5-6buah setara 166-200 g, dan buah sisa sekilo di atas 6 atau kurang dari 166 g. Di pekebun lain grade A paling 70-80%.

Pantas buah naga dari kebun Haris menjadi rebutan toko buah modern di Surabaya. ‘Ada 4 toko buah yang sudah kami pasok,’ katanya. Pada Desember 2008 hingga Januari 2009 diperoleh 2,2 ton buah naga dari 1.000 tanaman. Dengan kualitas buah seperti itu, Kini Haris mencoba memperpendek batang utama hingga 70 cm. Sayang, buah dari batang superpendek belum dapat disaksikan.

Mudah rawat

Menurut Prof Dr Ir Tatik Wardiyati MS, pengajar fisiologi tumbuhan di Universitas Brawijaya, teknik memperpendek pohon mulanya dipakai pekebun Thailand untuk mengatasi kesulitan panen pada pohon yang tinggi. Belakangan diketahui teknik itu sekaligus membuat tanaman tetap produktif. ‘Pemangkasan jadi lebih sering dan teratur, maka regenerasi sel pohon lebih cepat. Umur produktif tanaman menjadi lebih panjang,’ katanya. Padahal, dulu sedikit sekali pekebun buah di tanahair yang melakukan pemangkasan.

Komentar Tatik mirip pengalaman Eddy Soesanto, pemilik nurseri Tebuwulung, di Jakarta Timur. Di awal 2008 ia ‘menggunduli’ indukan srikaya new varietas yang kelewat tua agar banyak tunas muda muncul. Yang dipertahankan hanya batang utama dan cabang primer. Tak disangka dari cabang primer muncul bunga dan menjadi buah. Menurut pengamatannya buah yang muncul dekat permukaan tanah dan dekat batang berukuran jauh lebih besar ketimbang yang muncul di ujung cabang dan ranting. ‘Bisa 25% jauh lebih besar,’ katanya.

Srikaya berbuah besar juga Trubus lihat di kebun Markus Amin di Pondokrajeg, Bogor. Dari 26 buah pentil yang muncul, pemilik nurseri Virosa itu mempertahankan 8 buah dekat permukaan tanah dan cabang primer. Buah pun besar-besar. Artinya, tak hanya Newton yang berhutang pada apel yang menimpa kepalanya. Pekebun buah juga berhutang pada teori gravitasi Newton. (Destika Cahyana/Peliput: Tri Susanti)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img