Tuesday, August 9, 2022

Delapan Inovasi Paling Top Bahan Bakar Ganggang dari Cianjur

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Di laboratorium munculnya lapisan minyak di kolam dekat pohon kepel Stelechocarpus burahol itu terjawab. Minyak berasal dari trigliserid-sejenis lemak-yang diproduksi alga Botryococcus sp. Ingatan Kabinawa menerawang pada jurnal-jurnal luar negeri yang dibacanya selama 32 tahun meneliti ganggang. Ia paham betul strain botryococcus yang lain-yakni Botryococcus braunii-lama dipromosikan negara industri seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Perancis, dan Inggris untuk memproduksi trigliserid.

melaporkan braunii menjadi bahan baku biodiesel karena efisien. Braunii disebut-sebut mampu memproduksi 60-86% trigliserid. Bahkan dengan sedikit tambahan teknologi, negara maju mampu memperoleh 90-95% biodiesel dari 1 l bubur alga.

Naluri meneliti Kabinawa pun tergugah. Ia lantas mengkultur (memperbanyak, red) Botryococcus di botol kultur volume 10 ml, 100 ml, 300ml, hingga 1.000 ml dan 2.000 ml. Selanjutnya diperbanyak lagi di akuarium volume 5-10 l. Dan terakhir dikultur di bak fiber sampai volume 75 l. Menurut Kabinawa, perbanyakan Botryococcus skala 100 ml-1 ton dijaga suhunya 28-30oC. Intensitas cahaya diatur pada kisaran 2.500-3.000 lux dengan lama penyinaran 24 jam. Keasaman dipertahankan pada pH netral. Kultur pun diberi gelembung CO2 1% agar ganggang tumbuh optimal.

Mengagumkan

Dari ganggang hasil perbanyakan itulah Kabinawa mulai meneliti potensi Botryococcus sebagai bahan baku biodiesel. Ia juga membandingkan dengan ganggang lain yang juga dikoleksi. Sebut saja Chlorella pyrenoidosalokal, Scenedesmus sp lokal, dan mix culture mikroalga (Spirulina platensis, Lyngbya, Chlorella, dan Scenedesmus). Ternyata produksi Botryococcus sp strain lokal INK hasil temuannya itu sangat mengagumkan.

Alga asal Cianjur itu memproduksi 90-93,33% biodiesel dari bubur biomassa. Bandingkan dengan Chlorella pyrenoidosa (60%), Scenedesmus sp (70-80%), dan mix culture mikroalga (63,3%). ‘Artinya produksinya sudah mendekati braunii yang dibanggakan negara maju. Dengan sedikit tambahan teknologi, produksinya tak akan kalah,’ ujar Kabinawa. Profesor riset LIPI itu lantas memproduksi biodiesel skala laboratorium menggunakan akuarium.

Menurut Kabinawa, dari skala laboratorium bisa ditingkatkan menjadi semi komersial. Kolam perbanyakan bisa menggunakan fiber atau semen yang dilapisi serat polyvinil agar licin sehingga alga tumbuh nyaman. Syaratnya, ‘Tinggi kolam maksimal 50 cm dan tinggi volume kultur 30-40 cm,’ katanya. Tujuannya agar cahaya matahari untuk fotosintesis bisa menembus hingga dasar kolam. Kolam-atau disebut juga bioreaktor-dilengkapi pengocok elektris yang memutar searah jarum jam dengan kecepatan 30-40 cm/detik. Kolam juga diberi selang pemasok udara yang dilengkapi CO2 1%. Di kolam itu alga bisa dipanen setiap 7 hari.

Teknologi

Alga yang dipanen dipisahkan dari air sehingga terbentuk bubur botryococcus. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan larutan chloroform, metanol, dan aquades dengan perbandingan 2:1:0,8. Bubur botryococcus dikocok dengan larutan itu hingga homogen, lalu diaduk dengan kecepatan

30-40 cm/detik selama 3-4 jam. Selanjutnya dimasukkan ke dalam sonicator yang diset pada suhu 50-600C selama setengah jam lalu diputar pada kecepatan 3.500rpm selama 15 menit. Proses itu membuat bahan yang tadinya homogen membentuk 3 lapisan. Yang paling tengah minyak alga alias trigliserid yang akan diproses lebih lanjut. Bagian bawah biomassa dan yang paling atas campuran metanol dan air.

Berikutnya dilakukan pembuatan biodiesel dengan proses transesterifikasi. Yaitu pemisahan trigliserid oleh alkohol menjadi asam lemak dan gliserol. Biar cepat digunakan katalis sodium methalonat. Caranya masukkan minyak alga dan alkohol pada tangki ekstraktor. Lalu kocok dan panaskan pada suhu 55-600C. Setelah suhu mencapai 600masukkan sodium methalonat dan diamkan selama 25-30 menit. Selanjutnya disonicasi selama 30 menit pada suhu 600C. Proses berikutnya, masukkan ke dalam labu pemisah dan diamkan selama 10-12jam. Dari bahan itu akan terbentuk 2 lapisan: biodiesel di lapisan atas. Di bagian bawah gliserol dan metanol.

Biodiesel baru dapat digunakan setelah dimurnikan dengan menguapkan air yang masih bercampur. Hitung-hitungan Kabinawa, produksi biodisel dari alga mencapai 100.000 l per ha per tahun. Itu 16 kali lipat dari biodiesel asal sawit dan 66 kali lipat ketimbang biodiesel dari jarak dengan luasan kebun yang sama. Dengan hitungan itu, Kabinawa berharap, suatu saat alga dari sumur di Cianjur bisa mengatasi krisis bahan bakar minyak bumi. (Destika Cahyana/Peliput: Karjono)

Previous articleDaun Ungu
Next articleAglaonema Terbaik Indonesia
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img