Sunday, August 14, 2022

Delapan Inovasi Paling Top Dua Sekawan Dongkrak Produksi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Datuk Tan Ameh tidak menyangka produksi jagung organiknya di tanah marjinal bisa melesat demikian tinggi. Pekebun di Kecamatan Padangsago Tujuh Kuto, Padangpariaman, Sumatera Barat, itu semula mengandalkan pupuk organik asal kotoran sapi. Untuk setiap meter persegi lahan itu Datuk memberi 1 kg kotoran sapi. Dengan cara itu tiap 3,5 bulan Datuk memanen 3,5 ton/ha jagung.

Produksinya meningkat setelah pada 2008 mikoriza dan bakteri penambat nitrogen nonsimbiotik diberikan di lahan. Di awal penanaman sesendok fungi mikoriza arbuskular (FMA) kira-kira 2,5-5 g diberikan pada setiap tanaman. Berikutnya 2 minggu sekali seliter cairan berisi bakteri azotobakter dan azospirillum diencerkan 4 liter air lalu disiramkan sebanyak 10 ml per tanaman. Proses ini berlangsung hingga buah jagung muncul dari ketiak daun.

Selama aplikasi itu terlihat perbedaan mencolok pada tanaman. Ukuran tongkol lebih besar, tanaman setengah kali lebih tinggi daripada biasanya, dan daun hijau lebih banyak. Singkat kata tanaman terlihat subur. Maklum mikoriza juga menghasilkan hormon pertumbuhan seperti auksin dan sitokinin. Saat jagung dipanen total volume mencapai 8 ton/ha.

Kombinasi

Menurut Yenni Bakhtiar, kepala Laboratorium Agromikrobiologi BPPT Serpong di Tangerang, mikoriza sebenarnya tersedia pada sebagian besar tanaman, tetapi ia tidak dominan di tanah karena kalah bersaing dengan belasan bahkan puluhan puluhan mikroba lain.

Apa peran mikoriza? Fungi ini memberi pengaruh besar terhadap peningkatan produksi tanaman. Mereka menumpang di akar-tepatnya jaringan korteks-beragam tanaman, termasuk jagung. Fungi itu bersifat biotrofik alias hanya indekos di akar tanaman hidup. Antara mikoriza dan tanaman inang terjadi simbiosis mutualisme alias kerjasama saling menguntungkan.

Ketika akar sulit mendapatkan fosfor, melalui hifa atau benang-benang halus yang mengelompok-disebut arbuskula-ia akan mengambilnya dari dalam tanah. Hifa itu bak perpanjangan akar. Mikoriza menyediakan fosfor sesuai kebutuhan tanaman. Tidak kurang, tidak lebih. Begitu juga keperluan tanaman akan air dan unsur hara.Sebagai imbalannya, tanaman memberikan energi hasil fotosintesis untuk kelangsungan hidup mikoriza. Sejauh ini mikoriza yang dipakai bersifat tunggal. Padahal mikoriza terdiri atas 13 genus dan 230 spesies yang berfaedah serupa. ‘Riset-riset di dalam dan luar negeri sudah menunjukkan kombinasi lebih dari satu genus sangat baik,’ ujar Yenni yang tengah meriset kombinasi mikoriza dan bakteri penambat nitrogen nonsimbiotik itu.

Riset Yenni itu yang dipraktikkan oleh Datuk Tan Ameh. Alumnus Adelaide University di Australia itu menjelaskan bakteri penambat nitrogen dipakai karena mereka terbukti mendongkrak fosfor dalam tanah seperti mikoriza. Cara kerjanya sederhana. Setelah bakteri seperti azotobakter mengikat nitrogen, ia akan menguraikan diri dengan melepaskan nitrogen dan fosfor.

Lebih kuat

Menurut Prof Dr Syekhfani, ahli kimia tanah dari Univeristas Brawijaya, mikoriza berperan melepaskan unsur fosfor yang diperlukan tanaman. Unsur ini di daerah tropis seperti Indonesia sulit diserap tanaman karena ia terikat dengan unsur lain seperti besi (Fe) dan alumunium (Al) membentuk senyawa kompleks. Mikoriza itu berperan membuka ikatan. ‘Tanaman yang kekurangan fosfor tidak dapat tumbuh normal karena metabolismenya terganggu,’ ujarnya.

Sejatinya mikoriza memiliki enzim pospatase. Enzim ini mampu menghidrolisis senyawa phytat (my-inosital 1,2,3,4,5,6 hexakisphospat) yang merupakan fosfat kompleks di tanah. Phytat itu mengurai lewat hidrolisis menjadi myoinosital, fosfor bebas, dan mineral. ‘Kehadiran mikoriza untuk mempercepat proses penguraian fosfat komplek menjadi lebih sederhana sehingga ia mudah diserap tanaman,’ ujar Prof Dr Jamalludin APU, peneliti Balitjas, Maros, Sulawesi Selatan. Pantas jika produksi jagung bisa menjulang.

Pekebun di tanahair sebetulnya sangat diuntungkan dengan harga mikoriza yang murah. Harga pupuk mikoriza di pasaran berkisar Rp25.000-50.000 per kg. Menurut Yenni, Technofert (mikoriza buatan BPPT) dijual Rp25.000 per kg. Dibandingkan harga pupuk sejenis di Jepang, 11.000 yen setara Rp880.000 per kg. Yang menggembirakan,’Aplikasi mikoriza dapat menekan pengunaan pupuk kimia lebih dari 40%,’ katanya. Jagung yang dikelola intensif menghabiskan SP36 dan KCl masing-masing 100 kg setiap periode tanam, serta 300 kg Urea. Artinya ada penghematan belanja pupuk Rp1,95-juta.

Pemanfaatan mikoriza dalam budidaya tanaman berdampak ganda. Tanaman subur dan produksi meningkat. Daya tahan penyakit juga naik, terutama yang menyerang melalui akar. Ini tak lepas dari simbiosis FMA yang meningkatkan jumlah metabolit sekunder penolak patogen seperti fitoalexin, enzim peroksidase, dan senyawa PR (phatogenesis related) protein. Penelitian lain menyebutkan mikoriza efektif mengurangi stres tanaman.

Manfaat mikoriza dan bakteri penambat nitrogen tak hanya dirasakan pekebun jagung. Riset Yenny membuktikan mikoriza memacu pertumbuhan dan meningkatkan produksi beragam tanaman pangan, perkebunan, sampai hortikultura, terutama yang dibudidayakan di tanah miskin hara seperti podsolik merah kuning, latosol, dan gambut. Sekadar menyebut contoh padi, kelapa sawit, kopi, kakao, tembakau, kedelai, dan stroberi. Dua sekawan itu bukan sekadar singgah. Mereka menyediakan unsur hara bagi tanaman. (Dian Adijaya S/Peliput: Nesia Ardityasa dan Tri Susanti)

Previous articleDaun Ungu
Next articleAglaonema Terbaik Indonesia
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img