Tuesday, November 29, 2022

Delapan Inovasi Paling Top EFISIENSI DAN MUTU TINGGI

Rekomendasi

Dua tahun menjadi konsultan minyak asiri, Sugono akhirnya berubah pikiran. ‘Mengapa saya tak memproduksi minyak asiri sekalian?’ kata Sugono. Maka dari itu sejak 2006 alumnus Akademi Kimia Analis itu menyuling beragam bahan baku penghasil minyak asiri, terutama nilam. Sugono menginvestasikan Rp200-juta untuk membuat 2 unit penyulingan berteknologi uap tak langsung. Di atas tanah seluas lapangan voli, ia meletakkan sebuah boiler, 2 tangki reaktan, 2 kondensor, dan 2 tangki pemisah.

Sugono mendesain sendiri alat itu dan rekannya, ahli mesin, mewujudkannya. Semua berbahan baku besi nirkarat. Bahan baku tangki mempengaruhi mutu minyak. Nilam menjadi mata dagangan utama. Ia mensyaratkan agar pekebun memanen nilam maksimal pukul 08.00 pada pagi untuk menghindari laju fotosintesis yang sangat kuat dan sejak 15.00 pada sore. Tujuannya supaya rendemen meningkat.

Hitung uap

Nilam Pogostemon cablin itu lalu ia anginanginkan selama 2-3 hari agar layu dan berkadar air 15%. Setelah itu ia memasukkan daun dan ranting tanaman anggota famili Labiatae itu ke dalam tangki reaktan berkapasitas 250 kg. Pada awal memulai bisnis itu, ia menghitung terlebih dulu volume uap panas. Itu yang tak dilakukan oleh para penyuling lain. Caranya dengan menyalakan boiler-ia mengadopsi teknik penyulingan tak langsung-lalu menampung volume uap air rata-rata yang mengalir ke destilator per menit.

Hasilnya 1 kg air per menit. Lalu ia juga mengukur kemampuan uap panas membawa minyak. Menurut riset itu setiap menit 1 kg uap panas mampu membawa 0,5% minyak. ‘Jika saya ingin uap air membawa 1% minyak, saya harus menyediakan 2 kg uap panas per menit,’ kata pria kelahiran Cirebon 15 Mei 1960 itu. Itulah kunci sukses Sugono. Ia pun meningkatkan kalori-bersumber dari gas industri-supaya uap panas yang dihasilkan meningkat 100%.

Analogi sederhana begini. Sebuah mobil mampu membawa beras maksimal 500 kg. Supaya mampu membawa 1.000 kg beras sekaligus kita harus menyediakan sebuah mobil sejenis lagi. Dengan meningkatkan kalori, uap panas yang dihasilkan boiler pun meningkat sehingga minyak lebih cepat keluar. Dampaknya durasi penyulingan jauh lebih singkat: cuma 5-6 jam; penyuling lain, 12-14 jam.

Pada 1,5 jam pertama, pria 48 tahun itu mempertahankan suhu 90-100oC dengan tekanan 0 bar. Tujuannya untuk mengeluarkan senyawa terpen. Baru kemudian ia meningkatkan suhu penyulingan 120oC dan tekanan 1 bar pada jam berikutnya hingga penyulingan usai. Harap mafhum PA baru mendidih pada suhu itu.

Kayu bakar

Dengan cara itu Sugono menghasilkan minyak nilam berkadar PA tinggi 35-40%, meski waktu penyulingan relatif singkat. Menurut Sugono cara di atas dapat diterapkan oleh para penyuling meski mereka menggunakan bahan bakar kayu. Sekilo kayu bakar-bertekstur keras-rata-rata 5.000 kkal. Untuk mendidihkan 50 kg air perlu 5.000 kkal dan menghasilkan 1 liter uap panas. Jika ingin meningkatkan volume uap maka tinggal menambahkan kayu bakar itu.

‘Ini sangat sederhana dan semua orang dapat melakukannya,’ katanya. Dengan kapasitas tangki 250 kg daun nilam, sekali menyuling ia mengunduh 14 kg minyak nilam. Setiap jam ia menghabiskan 9 kg gas industri senilai Rp8.000 per kg atau Rp72.000. Artinya selama 5 jam ia menghabiskan Rp360.000. Sedangkan harga bahan baku Rp2.800 per kg kering atau Rp700.000. Sementara ongkos tenaga kerja Rp65.000. Total jenderal biaya produksi Rp1.125.000.

Karena rendemen 5%, dari 250 kg bahan ia memperoleh 12,5 kg minyak nilam. Artinya untuk menghasilkan 1 kg minyak nilam, ia hanya menghabiskan 20 kg bahan baku. Bandingkan dengan rendemen rata-rata penyuling di Indonesia: 1,8-2,5% atau perlu 55-40 kg bahan baku untuk memperoleh 1 kg minyak. Bila rata-rata produktivitas nilam 30 ton kering per ha, Sugono mampu menghasilkan 1,5 ton minyak; penyuling lain, 750 kg minyak.

Diminta pasar

Pertengahan 2008, ia menikmati harga Rp750.000-Rp1,6-juta per kg. Jika dengan harga terendah Rp250.000 per kg, omzet Sugono Rp375-juta. Setelah dikurangi biaya produksi Rp145-juta, laba bersihnya mencapai Rp230-juta per bulan. Volume produksinya memang relatif kecil ketimbang permintaan yang terus meningkat. Setidaknya ada permintaan rutin 1 ton minyak nilam setiap bulan. Sayangnya, ia kesulitan memperoleh bahan baku.

‘Minyak bagus pasti diminta pasar. Kalau ada minyak asiri bermutu tinggi, hargalah yang mencari,’ kata Mulyono, penyuling dan eksportir beragam minyak asiri selama 40 tahun. Sebagai gambaran, pasar menolak minyak nilam berkadar PA 25. Jika kadar PA 32, Mulyono, direktur PT Scent Indonesia, membayar Rp250.000 per kg. Namun, bila kadar itu membumbung menjadi 34, misalnya, harganya Rp300.000.

Singkat kata mutu tinggi harga juga tinggi. Sayangnya, banyak penyuling abai. ‘Banyak penyuling yang menyuling minyak asiri secara turun-temurun. Memasukkan bahan baku, memanaskan, dan menunggu minyak keluar. Padahal, kunci sukses berbisnis minyak asiri antara lain menghasilkan minyak bermutu secara efisien. (Sardi Duryatmo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img