Delapan Krisan Lokal Cianjur Terdaftar, Dorong Pengembangan Varietas Unggul

Rekomendasi

TRUBUS.ID — Krisan lokal Cianjur memiliki keragaman warna dan bentuk yang berpotensi dikembangkan menjadi varietas unggul. Upaya pengembangan itu dilakukan melalui karakterisasi, pendaftaran, dan pelepasan varietas agar memiliki identitas serta status yang jelas.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Pemerintah Kabupaten Cianjur mendorong pendaftaran dan pelepasan varietas krisan lokal tersebut. Kolaborasi dengan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan (TPHPKP) Kabupaten Cianjur berlangsung di Cibodas, Cianjur, Jawa Barat, Rabu (23/9).

Pendaftaran varietas menjadi upaya memberikan identitas dan kejelasan informasi mengenai data serta status kepemilikan varietas. Sementara itu, pelepasan varietas merupakan tahapan untuk memperoleh izin komersialisasi sekaligus memberikan perlindungan hukum bagi pemulia atau pemilik varietas.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Liauw Lia Sanjaya, mengatakan pendaftaran dan pelepasan varietas krisan lokal merupakan kewajiban pemerintah daerah yang pelaksanaannya dilakukan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Cianjur.

BRIN memberikan dukungan teknis dalam proses tersebut, terutama untuk pendeskripsian varietas, observasi keunggulan atau keunikan tanaman, serta pelaksanaan observasi berdasarkan petunjuk teknis Direktorat Jenderal Hortikultura.

Menurut Lia, terdapat dua jenis pendaftaran yang dapat dipilih, yakni pendaftaran varietas lokal dan pendaftaran varietas hasil pemuliaan.

“Pendaftaran varietas lokal diperuntukkan bagi varietas khas daerah yang dimiliki masyarakat dan diajukan oleh kepala daerah, baik bupati maupun gubernur,” jelas Lia.

Penamaan varietas juga harus mengikuti ketentuan yang berlaku, antara lain Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 dan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2004, serta persyaratan administrasi yang mengacu pada dokumen pendaftaran varietas.

Delapan varietas krisan terdaftar

Upaya karakterisasi dan pendaftaran tersebut telah membuahkan hasil. Pada 2025, sebanyak delapan varietas krisan lokal Cianjur telah terdaftar.

Kedelapan varietas itu yaitu Nuria Putih, Pompon Hijau, Puma Hijau, Spider Shalek, Laras Hati, Moha, Mados, dan Jalsi.

Sementara itu, varietas lokal yang direncanakan untuk didaftarkan atau dilepas pada 2026 antara lain Jimla Kuning (Jalsi Sunny), Rados Kuning (Mados Sunny), Gompi Lemon, Funny Captiva, serta Nuria Putih dan Laras Hati yang telah dilepas.

Menurut Lia, data tersebut menunjukkan kekayaan krisan lokal Cianjur memiliki keragaman yang dapat terus dikembangkan melalui karakterisasi dan pengujian terukur.

Krisan unggul harus teruji

Lia menjelaskan, calon varietas tidak cukup hanya memiliki bunga dengan penampilan menarik. Untuk dapat dilepas sebagai varietas, karakter dan keunggulannya harus dapat dibuktikan melalui observasi maupun pengujian sesuai ketentuan.

“Berdasarkan Permentan 25 Tahun 2025 dan petunjuk teknis Direktorat Jenderal Hortikultura, deskripsi varietas harus disusun berdasarkan hasil observasi, dengan pemisahan data kuantitatif dan kualitatif,” ujarnya.

Karakter kuantitatif antara lain dicatat berdasarkan panjang, berat, produksi, umur tanaman, dan umur simpan. Calon varietas juga harus memiliki ciri khusus yang dapat menjadi penciri varietas.

Adapun ketahanan terhadap organisme pengganggu tanaman (OPT) atau cekaman lingkungan harus didukung data hasil pengujian lapang atau laboratorium dengan metode standar.

Dengan demikian, pelepasan varietas tidak hanya didasarkan pada penampilan bunga. Keunggulan harus dapat diukur, didokumentasikan, dan dibandingkan dengan varietas pembanding.

Dokumentasi pengujian juga mencakup data curah hujan dari stasiun meteorologi setempat atau lokasi terdekat. Foto yang disertakan harus menggambarkan kondisi umum tanaman pada fase vegetatif dan generatif serta karakter penciri calon varietas bersama varietas pembanding dalam satu frame.

Pengujian keunggulan varietas meliputi uji adaptasi dan uji observasi. Uji observasi antara lain diperuntukkan bagi varietas yang membutuhkan lingkungan spesifik, varietas lokal yang telah berkembang di masyarakat sekurang-kurangnya lima tahun dan masih berkembang dengan baik, serta varietas yang produksinya terbatas dan memiliki permintaan pasar relatif sedikit.

Parameter keunggulan dapat meliputi daya hasil, ketahanan terhadap OPT dan cekaman lingkungan, umur atau musim panen, mutu hasil, ketahanan simpan, bentuk tanaman, hingga keunikan organ vegetatif dan generatif.

Pada tanaman hias, nilai pasar spesifik juga dapat menjadi salah satu aspek yang dinilai melalui uji preferensi konsumen.

“Uji observasi bertujuan mengetahui sifat-sifat unggul suatu varietas tanaman florikultura pada lingkungan tempat produksinya,” jelas Lia.

Pelaksanaan pengujian membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten, petugas lapang, fasilitas pengujian yang memadai, serta pemahaman terhadap pedoman pengujian.

Calon varietas harus ditanam sebagai satu populasi pada satu lokasi dan tidak tercampur dengan varietas lain. Pengamatan dilakukan minimal selama satu musim tanam.

Calon varietas juga harus memiliki sifat unggul dan seragam serta berbeda dari varietas pembanding yang telah terdaftar atau varietas yang beredar di masyarakat apabila belum tersedia varietas pembanding terdaftar.

Berpeluang menjadi komoditas bernilai tambah

Bagi Cianjur, pendaftaran dan pelepasan varietas krisan bukan sekadar pencatatan. Pengakuan terhadap varietas lokal menjadi bagian dari upaya menjaga sumber daya genetik sekaligus membuka peluang pengembangan hortikultura berbasis potensi daerah.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Cianjur, Nurul Hikmat, mengapresiasi kerja sama dengan BRIN yang telah berlangsung selama dua tahun dalam membangun pertanian Cianjur.

“Semoga kegiatan yang sudah dilaksanakan selama dua tahun ini dapat memberikan manfaat bagi petani krisan di Cianjur,” ujarnya.

Kolaborasi antara BRIN dan Pemerintah Kabupaten Cianjur menunjukkan pengembangan varietas lokal membutuhkan sinergi riset, pemerintah daerah, petani, dan sistem perlindungan varietas.

Melalui karakterisasi dan pengujian berbasis standar, krisan lokal Cianjur tidak hanya dapat dipertahankan sebagai kekayaan hayati, tetapi juga berpeluang dikembangkan menjadi komoditas hortikultura dengan identitas dan nilai tambah.

Sumber: https://www.brin.go.id/news/130559/delapan-krisan-lokal-cianjur-sudah-terdaftar-brin-dorong-varietas-unggul-baru

Artikel Terbaru

Beras Pratanak Dikembangkan untuk Tingkatkan Nilai Tambah Petani

Trubus.id — Beras pratanak dengan indeks glikemik rendah dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen sekaligus mendorong kesejahteraan petani....

More Articles Like This