Wednesday, August 10, 2022

Demam Kaktus

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Sukulen berbonggol Pachypodium gracilius berpadu dengan pot artistik menambah nilai estetika.(foto: sugita wijaya)

Masyarakat perkotaan menggemari kaktus dan sukulen. Sosok elok, tak perlu lahan luas. Pasar terus berkembang.

Kaktus lekat dengan kehidupan sehari-hari baik bagi lapisan menengah-atas maupun bawah. Tanaman anggota keluarga Cactaceae itu menembus batas kehidupan sosial. Penampilan tanaman yang khas menjadikan kaktus mudah dikenali. Coba saja tanyakan kepada anak usia sekolah dasar apa tanaman yang berduri? Mayoritas pasti menjawab kaktus. Nama kaktus pinjaman bahasa Yunani kuno, kaktos bermakna tanaman berduri.

Harga kaktus sambungan melonjak tajam.

Bicara kaktus tentu tak bisa meninggalkan kelompok besarnya yakni tanaman sukulen. Kaktus dan sukulen memiliki penggemar fanatik. Pasang surut tren tanaman hias tak membuat mereka berpaling lama. Boleh jadi mereka larut dalam ingar-bingar jenis tanaman tertentu. Namun, kaktus dan sukulen selalu ada di hati pencinta sejatinya.

Seni

Masyarakat awam sering kali bingung membedakan antara kaktus dan sukulen. Lain halnya dengan para kolektor maupun pehobi yang sudah lincah membedakan keduanya. Kaktus termasuk dalam kelompok tanaman sukulen, tetapi tanaman sukulen belum tentu kaktus. Cara membedakannya cukup mudah. Tanaman keluarga kaktus tidak memiliki daun, kecuali genus pereskia. Ciri khas lain yakni mempunyai getah berwarna bening.

Kaktus memiliki 127 genus terdiri atas 1.750 spesies. Sementara tanaman sukulen memiliki daun. Sebut saja haworthia, agave, gasteria, echeveria, dan sukulen berbonggol alias kaudeks. Setiap jenis tanaman memiliki kelas masing-masing. Ada yang kelas pemula, ada pula kelas kolektor. Perbedaan kelas itu tentu berpengaruh pada harga. Mengikuti perkembangan kaktus dan sukulen mirip industri fesyen, yakni akan selalu hadir jenis, bentuk, warna, dan corak baru. ehobi selalu ketagihan untuk mengoleksi tanaman paling trendi.

Tren tanaman kaktus dan sukulen kali ini boleh jadi tidak sebombastis aroid. Namun, keberadaannya dalam percaturan tanaman hias di tanah air tak bisa dianggap enteng. Posisi kaktus dan sukulen makin kuat lantaran mudah dirawat. Selain itu tanaman juga bisa digunakan untuk berbagai keperluan seperti tanaman koleksi, penghias taman, pemanis ruangan, bahkan suvenir.

Kedua jenis tanaman hias itu menjadi jawaban bagi pehobi tanaman hias di perkotaan yang menginginkan tanaman berkarakter bandel dan tanpa membutuhkan ruang simpan yang besar. Yang menarik, kaktus dan sukulen juga bisa berpadu dengan seni. Pehobi cenderung memadukan tanaman dengan pot keramik artistik buatan tangan. Kombinasi antara tanaman berkarakter menarik dengan pot unik memperelok ruang. Indonesia bahkan berhasil menembus pasar ekspor pot kelas koleksi ke Jepang yang juga gandrung kaktus dan sukulen.

Masa depan cerah

Rupanya tren itu sangat diminati kaum urban dan sukses menambah antusias pehobi baru. Pehobi kaktus dan sukulen paling banyak anak muda di perkotaan dari kalangan menengah ke atas. Peningkatan jumlah penggemar baru berimbas pada peningkatan harga tanaman. Di sisi lain populasi tanaman belum mencukupi. Sepanjang 2020 Gymonalycium mihanovihcii merupakan jenis kaktus yang paling bersinar.

Kemunculan tanaman dengan warna dan corak menarik membuat pehobi ketagihan untuk memiliki tanaman paling anyar.

Seorang pehobi berani membeli sepot mihanovichii berdiameter 8 cm Rp40 juta. Pada pameran kaktus dan sukulen di Surabaya, Jawa Timur, 4 pot Pachypodium gracilius ukuran 6 cm dilepas dengan harga Rp50 juta. Padahal, dahulu harga sepot gracilius sekitar Rp3 juta. Kaktus tempelan pun naik daun. Dahulu harga jual hanya Rp10.000—Rp25.000. Kini, Rp250.000 per pot.

Portulaca mengikuti tren kenaikan harga. Tanaman sejengkal tangan kini menyentuh Rp1 juta. Hal itu menunjukkan lalu lintas perniagaan kaktus dan sukulen yang luar biasa. Peningkatan permintaan maupun harga merupakan efek dari pandemi. Namun, harga tanaman masih rasional. Rentetan peristiwa itu membuktikan keriuhan dunia kaktus dan sukulen. Jika cermat mengamati media sosial selalu ada 2 grup baru penggemar kaktus dan sukulen per sebulan.

Mereka tersebar di berbagai kota. Belum lagi kisah sukses petani di Lembang, Jawa Barat, yang rutin mengekspor ribuan tanaman. Fenomena itu barometer masa depan kaktus dan sukulen di tanah air. (Sugita Wijaya, ketua Cactus and Succulent Society of Indonesia)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img