Friday, December 9, 2022

Demi Cawan Bermutu

Rekomendasi

Fuad Affandi bagai peribahasa maksud hati memeluk gunung, sayang tangan tak sampai. Hasrat memiliki alat pembungkus sayuran, betapa sulit terwujud saat mulai beragribisnis pada pengujung abad ke-20. Bagi dia harganya terlampau mahal. Padahal, pasar swalayan yang akan ia pasok, mensyaratkan beragam sayuran mesti dikemas rapi dalam plastik transparan. Semula pengasuh Pondok Pesantren Al Ittifaq di Bandung, Jawa Barat, itu hanya menjual hasil panen ke pasar tradisional di Ciwidey, Kabupaten Bandung.

 

Namun, penerima Satya Lencana Wirakarya itu tak pasrah. Ia membeli pengering rambut yang menyemburkan uap panas itu untuk merekatkan plastik pembungkus sayuran. Dengan peranti itu ia rutin memasok 27 jenis sayuran ke pasar swalayan di Bandung dan Jakarta. Kini ia mengirimkan 3,5 ton sayuran setiap hari. Tentu saja tanpa alat pengering rambut karena pengemas sayuran telah terbeli. Sebuah inovasi, meski betapa sederhananya, amat penting di dunia agribisnis, termasuk jamur merang.

Para pekebun jamur merang Volvariella volvacea (bahasa Yunani volva berarti cawan) seperti tak henti berinovasi. Mereka menambah sebuah drum untuk pasteurisasi, memanfaatkan selubung plastik, pemanfaatan pupuk hayati, dan memberi uap panas. Langkah itu berdampak besar karena mampu meningkatkan produksi hingga 50% dan meningkatkan kualitas seperti selera pasar. Prinsip para pekebun jamur merang adalah cawan tak retak, nasi tak dingin. Maka (pasar) tuan tak hendak, kami pun tak ingin. (Sardi Duryatmo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Keunggulan Kapal Canggih Penebar Pakan Ikan

Trubus.id — Kapal penebar pakan ikan bisa menjadi alternatif para pembudidaya yang memelihara ikan di tambak yang luas. Salah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img