Thursday, August 11, 2022

Demi Mutu Tinggi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Proses pengeringan di Kampoeng Djamoe di Cikarang, Jawa BaratSyarat ketat  beragam herbal  demi menjaga mutu.

“Yang kami minta daun jati belanda, tetapi yang dikirim daun waru, ya terpaksa kami tolak,” kata Bambang Supartoko, SP, MSi, bagian hubungan masyarakat  PT Sidomuncul, produsen jamu di Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Fakta itu baru diketahui setelah Sidomuncul mengetes simplisia kering itu di laboratorium. “Dari segi zat aktif berbeda ketika di tes di laboratorium,” tuturnya. Menurut Bambang, kesalahan itu bisa disengaja atau karena ketidaktahuan pemasok maupun petani.

Ayah dua anak itu mengatakan, “Ketidaktahuan itu bisa karena penamaan tanaman berbeda di beberapa tempat.”  Masyarakat di beberapa daerah seperti Kabupaten Semarang dan Kabupaten Boyolali menyebut umyung Gynura aurantiaca dengan nama purwoceng. Padahal, antara umyung dan purwoceng merupakan dua spesies berbeda. Khasiatnya pun berlainan. Purwoceng Pimpinella pruatjan sebagai afrodisiak, umyung sebagai penenang. Untuk kesengajaan bisa dikenai sanksi hingga pemutusan kontrak, untuk yang tidak tahu PT Sidomuncul memberikan pembinaan.

Teruji

PT Sidomuncul menetapkan tiga syarat bahan baku bagi petani binaan dan pemasok. Syarat pertama, harus benar. Bahan yang dikirim sesuai dengan apa yang dimaksud PT Sidomuncul. “Kalau bahan berbeda tentu khasiat juga berbeda,” kata Bambang. Menurut pria 44 tahun itu, kalau bahan dikirim dalam bentuk segar sesuai wujud awal tanaman relatif lebih mudah diidentifikasi, tetapi kalau sudah dalam bentuk simplisia akan sulit. “Kami akan memeriksanya di dalam laboratorium,” kata Bambang.

Kedua harus bersih. Bersih dari kotoran kasat mata, seperti kerikil. Bersih pula dari angka kuman, bakteri, dan jasad renik. Pengujian dilakukan di laboratorium mikrobiologi untuk cemaran mikrob. “Keterangan di laboratorium untuk patogen itu harus negatif,” kata Bambang. Selain patogen, bahan baku juga harus pula bebas cemaran pestisida dan logam berat.

Menurut Direktur Standardisasi Obat Tradisional Kosmetik dan Produk Komplementer, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM), Drs Hary Wahyu, Apt, pada obat tradisional dalam bentuk serbuk kandungan kapang dan khamir tidak lebih dari 104 sementara dalam bentuk kapsul di bawah 103 (lihat ilustrasi). “Untuk mikrob patogen harus negatif atau nol,” tutur Hary.

Syarat ketiga, bahan baku harus kering. “Mutu bahan segar memang lebih baik, tetapi tidak setiap saat bahan tersebut kami peroleh karena terkait musim, masa panen sehingga bahan terpaksa digudangkan atau distok,” kata Bambang. Supaya tahan simpan, bahan disimpan dalam bentuk kering. Kadar air bahan penyimpanan SNI 12%, tetapi standar PT Sidomuncul 10%. “Selisih 2% untuk menjaga jika terjadi higroskopis dalam distribusi,” kata Bambang. “Kecuali untuk bahan minuman seperti rimpang jahe, kunyit, dan daun pandan, kami datangkan dalam bentuk segar. Pasalnya, dibutuhkan rasa dan aroma yang alami,” kata Bambang.

Sebelum menetapkan syarat bahan baku, PT Sidomuncul menetapkan terlebih dahulu syarat-syarat tanaman sebagai bahan baku jamu yang akan dipasarkan. Persyaratan itu antara lain  aman dikonsumsi atau tidak memberikan dampak negatif terhadap tubuh atau bersifat toksik. “Kami menguji semua produk di laboratorium toksikologi,” kata Bambang.  Soal aman, PT Sidomuncul mengacu pada seperti standar nasional Indonesia (SNI), Materia Medika Indonesia (MMI), buku Farmakobe herbal, hasil riset nasional maupun internasional.

Beragam

Selain itu Sidomuncul juga memiliki standar yang bersumber dari pengalaman empiris dan riset ilmiah. “Jika tidak memenuhi standar, akan banyak yang dirugikan,” kata Bambang. Perusahaan itu menguji bahan baku agar sesuai standar mutu. “Contoh jahe mesti mengandung minyak asiri dan minyak gingerol, kunyit ada minyak asiri dan kurkumin,” kata Bambang. Namun, menurut Bambang, pasokan ke PT Sidomuncul itu sumbernya sangat beragam, sehingga keseragaman produk sulit didapat. “Ada  60% dari pedagang atau pemasok, 40% dari petani binaan,” kata Bambang. Jika semua persyaratan itu terpenuhi, Sidomuncul menyortir  bahan agar benar-benar tidak bercampur dengan bahan lain. Kemudian herbal dicuci dengan air bersih seperti air dari mata air langsung atau air sumur. “Kalau dari air sungai biasanya banyak cemaran bakteri maupun residu pestisida,” tuturnya. Tahap selanjutnya, untuk perajangan bahan, harus sesuai dengan ketebalan yang diminta. “Kalau terlalu tebal, proses pengeringan lebih lama, sementara kalau terlalu tipis, zat aktif mudah rusak karena oksidasi bahan,” tuturnya. Ketebalan rimpang temulawak saat segar, misalnya, idealnya 4—7 mm.

Pengeringan herbal di bawah sinar matahari dengan diberi alas dan penaung kain hitam. “Kain hitam selain menyerap panas juga menjaga fisik bahan seperti warna tetap bagus,” kata Bambang. Setelah bahan kering, masih perlu disortasi lagi untuk memisahkan kotoran yang mungkin masuk ketika penjemuran. “Kadang, ada juga kotoran yang baru lepas ketika bahan sudah dalam kondisi kering, seperti kulit kapulaga,” ujar Bambang. Tahap selanjutnya, pengepakan dengan dua lapis wadah yang kedap udara. Setelah itu simpan simplisi di tempat khusus berkelembapan rendah, sirkulasi udara bagus, dan aman dari hama.

Ketat

Menurut Maria Ulfah, manajer mutu PT Tri Rahardja, produsen herbal di Karanganyar, Jawa Tengah, bahan baku ekstrak herbal yang diproduksi berkualitas prima. Sebelum tanaman obat diolah, ia mesti melewati pemeriksaan di bagian kontrol kualitas. “Kami memastikan bahan baku itu bebas dari hama dan penyakit serta pestisida,” kata Maria. Setelah melewati proses itu bukan berarti bahan baku itu segera diolah. Ia mesti masuk ke pilot plant. Di tempat itu petugas mencari parameter—suhu, pelarut, dan durasi ekstraksi—yang tepat dalam mengolah suatu tanaman obat.

Sementara, di kebun Kampoeng Djamoe di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, area proses pengolahan dibagi menjadi dua, area kotor dan area bersih. Area kotor untuk sortir segar dan pencucian bahan baku. Setelah bersih, proses selanjutnya yaitu perajangan, pengeringan, sortir kering, kemas, dan simpan dilakukan di area bersih. “Itu untuk memudahkan para pekerja,” kata Dedy Supiandi, penanggungjawab kebun. Beragam syarat itu untuk menyajikan obat tradisional yang aman dan menyehatkan. (Bondan Setyawan/Peliput: Kartika Restu Susilo dan Riefza Vebryansyah)

 

FOTO:

 

  1. Bambang Supartoko, SP, MSi, bagian hubungan masyarakat, PT Sidomuncul
  2. Proses pengeringan di Kampoeng Djamoe di Cikarang, Jawa Barat
  3. Kebun PT Sidomuncul di Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah
  4. Drs Hary Wahyu, Apt “Kandungan mikroba patogen pada obat tradisional harus negatif atau nol”

 

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img