Wednesday, August 10, 2022

Di Antara Buah & Bensin

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Di sebuah stasiun sederhana-sekarang Stasiun Pondokcina-saat jarum jam baru bergulir ke angka 3 dari tengah malam Mubin menunggu kereta. Sepur itu akan mengantarkan ke tempat tujuan: Pasar Manggarai, Jakarta Selatan. Terlambat sedikit saja, kereta pertama yang berhenti di stasiun pada pukul 04.30 pergi meninggalkan.

Di stasiun itu, Mubin muda yang baru lulus Sekolah Rakyat tidak bertangan hampa. Di dalam 2 pikulan yang ditanggung sendiri sembari menyusuri jalan tanah dari rumah di kawasan Kober-berjarak kira-kira 1 km-menumpuk pepaya jinggo-mirip jenis bangkok sekarang-hasil panen di kebun. Begitu kereta tiba, tanggungan diikat menggantung di jendela. Setelah siap, dengan sigap anak ke-3 dari 12 bersaudara itu melompat masuk.

Jago silat

Itulah awal hari Mubin. Di Manggarai, pepaya-kadang-kadang dilengkapi pisang, jeruk, atau rambutan-sudah ditunggu para tengkulak. Tawar-menawar harga terjadi sampai tercapai kesepakatan: isi pikulan berpindah pada tengkulak yang paling berani memberi harga mahal.

Namun, tak selalu rupiah didapat. Kerap terjadi, baru saja ia turun dari kereta, beberapa orang mengerubungi. Bukan untuk membeli, tapi meminta paksa buah yang dibawa. Kalau sudah begitu, mau tak mau Mubin mesti mengeluarkan ‘ilmu ngotot’. ‘Barang yang mereka ambil, saya rebut lagi. Kalau mereka masih memaksa ya terpaksa mesti berantem dulu,’ kata laki-laki yang besar di kebun bersama sang ayah-Haji Usman-itu. Untung sebagai anak lelaki Betawi, Mubin dibekali ilmu beladiri. Kalau sudah begitu, niat berjualan urung dilaksanakan.

Sukses menjual isi tanggungan bukan berarti aman-aman saja. Buah yang jadi rupiah ‘menggoda’ preman pasar buat meminta ‘uang jago’. Lagi-lagi Mubin mesti beradu nyali dengan para pemalak. ‘Kondisi di pasar memang begitu. Nyawa jadi taruhan,’ tuturnya. Toh, pria gemar bercelana komprang, baju pangsi, dan sarung dibelit di pinggang bila ke pasar itu pantang mundur.

Bibit buangan

Hasilnya, berbekal uang hasil penjualan, Mubin pulang ke Depok. Namun, sesuai pesan Haji Usman pikulan tak boleh kosong. ‘Jadi saya bawa sampah pasar-waktu itu tanpa plastik dan barang lain yang sulit urai, red-buat dijadikan pupuk,’ ujar ayah 3 anak itu. Tiba di rumah, Mubin memilah-milah sampah, memasukkan ke dalam lubang, menimbun dengan tanah supaya jadi kompos. Kompos-berbarengan dengan kotoran sapi dan kambing yang diternak di dekat rumah-dipakai sebagai pupuk ribuan pepaya di lahan 3.000 m2 yang jadi komoditas andalan. Pepaya dipilih karena cepat panen.

Dari sisa sampah pasar, muncul bibit buah-buahan. ‘Di situ kan ada biji durian, mangga, rambutan. Semua tumbuh,’ tutur Mubin. Bibit-bibit yang jumlahnya makin banyak itu dikumpulkan. Lalu dimasukkan ke dalam keranjang bambu kecil-sekarang polibag-sebelum diletakkan berkelompok di antara barisan pepaya. Durian dengan durian, mangga dengan mangga, rambutan dengan rambutan, jeruk dengan jeruk.

Bibit lantas disambung dengan entres jenis unggul-ilmu yang didapat dari ayah. Entres didapat dari pohon-pohon milik tetangga di dekat-dekat rumah. Maklum Depok dulu memang dikenal sebagai sentra buah-buahan. Hasil sambungan ditanam di lahan kebun orangtua yang masih kosong. Lagi-lagi penanaman massal. ‘Supaya kalau nanti panen hasilnya banyak. Jadi bisa membanjiri pasar,’ kata pria yang tak lulus Sekolah Menengah Pertama itu.

Strateginya memang jitu. Mubin jadi bisa memasok massal ke pasar buah. ‘Kadang-kadang ada orang yang beli buah menanyakan, saya punya bibitnya tidak. Nah, besok saya tinggal bawa bibit yang ada di kebun,’ tutur pria yang beribadah haji pada 1996 itu. Dari sanalah cikal-bakal usaha pembibitan buah-buahan unggul yang hingga kini bertahan.

Presiden Soeharto

Rintisan sejak puluhan tahun silam itu Trubus masih bisa saksikan di nurseri Wijaya Tani-nama kebun bibit milik Mubin sekarang-di kawasan Margonda, Depok. Di dekat saung, Mubin menunjuk tabulampot mangga dalam drum besar berumur lebih dari 30 tahun. Diameter batang bawah mencapai 30 cm, tajuk pendek karena rutin dipangkas. ‘Ini sudah saya sambung berulang-ulang dengan jenis berbeda. Awalnya indramayu, lalu okyong, sekarang nangklangwan,’ papar kakek 3 cucu itu fasih menyebut 2 varietas mangga introduksi asal Thailand.

Mubin memang inovatif. Sejak punya lahan sendiri-pada 1972 menempati tanah seluas kira-kira 100 m2 di pinggir Jalan Margonda berpisah dengan orangtua-ia rajin mengumpulkan jenis-jenis buah unggul. Dalam sebuah foto jepretan 1980-an, Mubin mejeng dengan jambu biji bangkok. Waktu itu ia satu-satunya pemilik jambu bongsor itu.

Bibit didapat dari sebuah pameran di kawasan Ancol, Jakarta Utara, pada 1982 berbarengan dengan lengkeng diamond river, mangga khioe sawoi dan okyong, serta durian monthong. Pada pameran yang diikuti oleh peserta mancanegara itu, Presiden Soeharto-yang membuka acara-berpidato, ‘Bangsa Indonesia harus berdikari.’

Buat Mubin, itu berarti punya kebun buah dan pembibitan sendiri. Barang introduksi boleh masuk, tapi hanya dalam bentuk tanaman induk. Di tanahair, bibit diperbanyak, lalu ditanam supaya hasilnya bisa dipanen dan dikirim ke pasar. Apalagi waktu itu, Mubin melihat buah impor mulai berdatangan.

Unggul

Niat itu diwujudkan dengan mengumpulkan bibit buah unggul dari kampung ke kampung. Pun hasil introduksi, meski harganya waktu itu, ‘Ngga cukup kalau ngga jual 1 ekor kambing,’ selorohnya.

Di kebun kecilnya, bibit-bibit itu dikumpulkan, diperbanyak, dan dijual. Terkadang Mubin memikul bibit hingga ke kampung-kampung memenuhi pesanan pelanggan. Bibit laris-manis karena waktu itu masih jarang hasil perbanyakan dengan cara vegetatif-umumnya bibit asal biji.

Lantaran banyak pembeli menanyakan bibit jeruk, Mubin berkonsentrasi memperbanyak bibit anggota famili Rutaceae itu. ‘Ternyata memang laku banyak,’ kata pria yang sembari merawat bibit juga membuka kios bensin di lokasi sama. Sayang bulan madu perniagaan bibit jeruk hanya bertahan sesaat. Bisnis bibit jeruk runtuh lantaran penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) mewabah. ‘Orang takut tanam jeruk,’ keluh pria yang pada awal membuka kios otomotif sering menyewa ojek untuk belanja onderdil ke Kota itu.

Bangkrut, laki-laki yang menikah pada 1971 itu mulai lagi dari awal dengan memperbanyak mangga, rambutan, dan belimbing. Sebagian ditanam sendiri untuk dipanen buahnya. Itu pun bukan tanpa risiko. Waktu awal menanam pepaya dan jeruk di kebun orangtua, ribuan tanaman siap panen dimusnahkan karena peraturan pemerintah. Bencana alam pun jadi hambatan. Banjir besar setinggi 1 m pernah meluluh-lantakan tanaman pepaya.

Toh, Mubin berani menerima tantangan itu. Pilihannya ternyata tepat. Dari kebun belimbing dewa dan jambu biji daging merah, pria yang kios bensinnya berkembang jadi toko oli, bisnis cuci motor, dan toko ban itu memasok tengkulak di Pasarminggu, Jakarta Selatan-Mubin pindah ke sini pada 1972 karena pasar Manggarai dibubarkan-dan Citayam, Bogor.

Belakangan banyak pekebun yang mengikuti jejak sehingga belimbing dewa dan jambu biji merah jadi komoditas andalan Depok. Mubin pun berbangga hati. Dua komoditas itu dilepas sebagai varietas unggul nasional oleh menteri pertanian atas namanya-ditambah kecapi ratu jaya. Malah belimbing dewa menjuarai Lomba Buah Unggul Nasional Trubus untuk kategori buah bintang pada 2003-2005.

Gara-gara itu pula, pria yang kios bensinnya menjelma jadi bengkel besar itu semakin terkenal sebagai penyedia bibit dan buah unggul. Sebuah penghargaan Satyalancana Wira Karya dari Presiden Megawati diberikan pada acara Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) di Manado pada 2004. Kehormatan lain, penghargaan sebagai perintis lingkungan hidup dari Gubernur Jawa Barat atas jasa mengubah daerah aliran sungai Ciliwung menjadi sentra belimbing.

Pingpong manis

Manisnya bisnis bibit pun dirasakan kembali. Saat tren lengkeng dataran rendah menyeruak di tanahair, laki-laki yang tinggal di kawasan elit Depok itu panen order. Tabulampot lengkeng diamond river dan pingpong yang dimiliki sejak lama laris-manis dengan harga fantastis. Padahal, dulu tidak ada yang melirik.

Toh, Mubin belajar dari pengalaman. Keuntungan penjualan bibit diinvestasikan. ‘Jual bibit itu harus bisa nyimpen duit, karena bisa jadi hari ini laku, besok-besok sampai sebulan ngga ada yang beli,’ selorohnya.

Kini jejak kesuksesan pria yang berkeliling Eropa atas undangan sebuah perusahaan ban itu masih terekam jelas di nurserinya. Di Wijaya Tani, Trubus melihat deretan tabulampot buah naga; polibag-polibag bibit lengkeng diamond river, pingpong, dan itoh; mangga okyong, nam dok mai, khioe sawoi, erwin, dan lancetila; kelapa pandanwangi; kecapi bangkok; dan durian monthong-sekadar menyebut contoh jenis introduksi.

Sebagian besar dibawa dalam bentuk biji waktu perjalanan ke luar negeri. Terakhir, pada perjalanan ke Thailand untuk ke-7 kali, pemilik toko ban terbaik se-Indonesia pada 1994 itu memboyong bibit nangka berdaging merah dan mayongchid-gandaria manis.

Mereka bersanding dengan rambutan rapiah, belimbing dewa, jambu biji daging merah, jeruk siem, kedondong, dan sawo kecik lokal. Hasil perbanyakan itu untuk memasok pedagang di seputaran Jabotabek hingga kota-kota di luar Jawa.

Belakangan, Mubin aktif mengikuti ekshibisi. Di sana rupiah dari bibit buah mengalir lebih deras-sama seperti ketika musim tanam buah-buahan datang pada penghujan. Mobil bak terbuka dari kebunnya pun masih rutin memasok Pasarminggu dan Citayam. Dari bisnis di pinggir rel, kebun bibit Mubin menyebar di 4 tempat. Dari kios bensin tepi jalan, menggurita jadi bengkel ternama. Buat Mubin, hidup di antara buah dan bensin. (Evy Syariefa)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img