Thursday, December 8, 2022

Di Balik Nyanyian Kodok

Rekomendasi

Para pencari kodok di Kabupaten Bogor, yang biasanya dapat menangkap sekitar 100 ekor semalam, pada musim kemarau hanya separuh. Berapa harga seekor kodok? Di pasar Mayestik, Jakarta Selatan, kodok sawah berkisar Rp1.500—Rp3.000/ekor. Kodok batu, untuk pasokan restoran lebih mahal lagi. Hal itu tercermin pada menu kodok goreng yang berisi 7—9 pasang paha kecil atau 5—6 ukuran besar, antara Rp15.000—Rp25.000/porsi, tergantung warung atau restorannya.

Ada beberapa restoran kodok goreng dan kodok kuah yang paling nikmat di Pulau Jawa. Dua di antara yang paling saya sukai, di kota Subang dan Purwakarta, Jawa Barat. Di kedua kota itu kodok goreng tepung dan asam manis dapat dikemas khusus untuk dibawa ke Jakarta. Hitung saja, ada berapa porsi kodak dilahap manusia Indonesia dalam semalam? Kalau setiap ibukota kabupaten dan kotamadya ada 3 restoran menjual kodok, dan tiap restoran menjual 5 porsi saja, konsumsi kodok di 300 kota minimal 4.500 porsi. Berapa kodok kalau tiap porsi minimal 6 ekor? Lebih dari 270.000 kodok dilahap di seantero negeri setiap malam. Jadi lebih dari 100-juta ekor dalam setahun!

Restoran kodok yang populer lainnya ada di Malang (Jawa Timur), Surakarta dan Purwodadi (Jawa Tengah). Yang terakhir itu sangat kesohor dengan resep Swikee Purwodadi. Selain kota-kota menengah dan kecil, tentu ibu kota provinsi, terutama: Bandung, Medan, Manado, Pontianak, dan Bandarlampung.

Daerah pegunungan tinggi dan pesawahan selalu dilimpahi air dan berkah tambahan: kodok, belut, lele dan berbagai jenis ikan. ltulah kekayaan hayati yang layak diperhatikan bila bangsa Indonesia mau terhormat di mata internasional. Negeri kita ini, sejak dulu dikenal salah satu pemasok kodok terbesar.

Sayangnya, pasokan kodok Indonesia cenderung melorot. Sebelum 1994 penghasilan devisa dari ekspor kodok selalu di atas 15-juta dolar per tahun. Namun, setelah tahun itu hingga pada krisis moneter, angkanya cenderung meluncur turun sekitar 6% per tahun. Padahal dulu, ketika lingkungan alam masih bagus, ekspor kodok ke Eropa (terutama Belgia, Perancis dan Belanda), Kanada, Amerika Serikat lebih dari 25-juta dolar setahun. Saya ingat, pada 1980, pertama kali ikut merasa panik ketika harga ekspor kodok turun drastis.

Maklum saja, lebih dari 25 tahun silam, saya bekerja untuk Majalah Tempo. Pagipagi buta, setelah mendengarkan berita RRI, saya ditugaskan melacak penyebab turunnya harga kodok. Maka eksportir kodok di Surabaya, Jakarta, Semarang, harus segera dihubungi. Mengapa kodok jadi sulit didapat? Pada saat penyemprotan sawah intensif, banyak sekali hewan mati. Pestisida dan penyemprotan tidak hanya membunuh serangga dan tikus, tapi juga berbagai kehidupan lain yang sangat berguna: belut, ikan, ketam, dan kodok-kodok itu.

Untuk memperbaiki kerusakan alamiah itu, pada 1984, pemerintah mengimpor bibit kodok unggul dengan dukungan modal dan ah1i dari Jepang. Saya juga ikut meliput budidaya kodok lembu (bull frog) yang besar-besar. Seekor bisa mencapai 1,5 kilogram. Tubuhnya sebesar kelapa. Jenis kodok unggul lain adalah kodok macan tutul (leopard frog) dari Amerika Serikat. Mulai 1990 sampai terjadi krisis 1997, ekspor kodok dari Indonesia sebanyak 4.000—6.000 kg/tahun.

Peternakan kodok di Indonesia mencapai hasil yang lumayan pada 1988, dengan melibatkan sebanyak 600 petani. Harga daging kodok saat itu Rp7.500/kg. Kabupaten Malang menjadi populer sebagai sentra kodok, dengan 80% hasilnya diekspor ke Malaysia, Singapura, dan Hongkong. Yang populer dari sana adalah kodok hijau Rana macrodon berukuran 15 cm. Sedangkan jenis kecil yang dianggap paling lezat adalah kodok rawa Rana limnocharis yang ukuran tubuhnya hanya 8 cm.

Peternakan kodok hias

Setelah terjadi krisis ekonomi dan reformasi 1998, peternakan kodok di Indonesia sepertinya berjalan dalam kegelapan. Peternakan kodok kurang mendapat perhatian. Padahal, perburuan kodok berjalan terus, bahkan cenderung semakin gencar hingga 2003. Bisa dimaklumi, karena sebagian besar kodok yang dikonsumsi memang berasal dari alam.

Dua jenis yang paling paling disukai adalah kodok sawah Rana cancrivora dan kodok macan Rana tigrina yang tubuhnya loreng seperti harimau. Di Sumatera Barat ada jenis yang lebih besar yaitu Rana erythrea atau disebut juga katak musholini yang di Pulau Jawa terkenal sebagai kodok batu.

Sebenarnya perkembangan bisnis kodok di dunia beberapa tahun terakhir semakin menjadi-jadi. Bukan hanya ternak kodok untuk dikonsumsi sebagai swikee, tetapi juga kodok hias. Seekor kodok pohon hijau (green tree frog) di Australia bisa laku US$90 atau hampir Rp75.000. Kodok asli daerah Kimberley ini panjangnya sekitar 10 cm dan diyakini dapat hidup sampai 20 tahun. Jangan heran, ada lebih dari 5.000 jenis kodok di dunia. Kodok hidup di hampir semua sudut bumi. Dari puncak gunung hingga di daerah Artik, kutub Utara. Dua negara terkenal karena punya kodok besar-besar adalah Peru dan Bolivia yang dijuluki sebagai negeri Kodok Raksasa.

Kodok titicaca konon panjangnya sampai setengah meter. Kodok ini hidup di Danau Titicaca, yang terletak pada ketinggian 12.500 kaki (sekitar 4.000 meter) dari permukaan laut. Danau di Amerika Latin itu merupakan suaka bagi kodok Titicaca yang banyak dijual kepada kolektor internasional. Satu pembeli dari Jepang saja bisa mengorder lebih dari 1.000 kodok hidup. Akibatnya ia dinyatakan langka dan masuk daft ar spesies dilindungi.

Dewasa ini cukup banyak jenis kodok masuk dalam daft ar perlindungan satwa langka. Sejak 1970-an diperhitungkan lebih dari 32 spesies kodok punah dari muka bumi. Tidak kurang dari 25 jenis lagi dikategorikan “missing in action” atau hilang dalam medan pertempuran. Hal ini terkait dengan pengrusakan lingkungan, baik penggundulan hutan maupun peracunan daerah perairan. Untuk mengatasi hal ini muncul usaha penyelamatan kodok, dalam bentuk gerakan Frog Rescue.

Para petemak kodok komersial pun memberlakukan peraturan serius. Sebagai contoh adalah peraturan koperasi di Virginia, Amerika Serikat. Ancaman hama yang paling menghantui peternakan kodok adalah infeksi bakteri Aeromonas. Bila hal itu terjadi penderitanya harus segera disingkirkan dan diberi antibiotik agar tidak menular pada yang lain. Bila kasusnya berat, para peternak kodok diwajibkan mengosongkan kolam dan mengeringkannya selama beberapa pekan.

Kodok-kodok spektakuler

Berita paling mengejutkan tentang kodok terdengar lagi pada Mei 2005. Kompas Cyber Media beberapa ka1i berturut-turut memberitakan matinya lebih dari seribu kodok pada sebuah kolam di Hamburg, Jerman. Kodok-kodok itu mati secara aneh, tubuhnya menggelembung seperti balon lalu meletus. Para ilmuwan berusaha meneliti kualitas air dan kondisi tubuh kodok. Anehnya mereka tidak menemukan penyakit atau parasit apa pun. Institut Kesehatan Lingkungan di Hamburg semula menduga air kolam telah keracunan.

Seorang dokter hewan dari Berlin, Frank Mutschmann, mengumpulkan tubuh kodok-kodok itu. Ia menyimpulkan sebelum tubuh kodok menggelembung, kemungkinan telah dipatok oleh burung gagak. Berdasarkan lukanya, burung gagak hanya mematuk di antara dada dan perut untuk mengeluarkan hati hewan amphibi itu. Sebagai cara untuk bertahan hidup, kodok- kodok itu menggembungkan tubuh. Namun, karena tak ada lagi hatinya dan terluka, jantung dan pembuluh darah kodok itu meletus. Tubuh mereka berhamburan, tapi tetap berusaha hidup meskipun hanya tahan beberapa detik saja.

Penemuan yang mengerikan ini didukung ilmuwan lain, yang berpendapat bahwa walaupun misterius, peristiwa itu dapat terjadi. Hal serupa ditemukan di kolam dekat Laasby, di pusat Jutland, Denmark. Para saksi mata melukiskan musibah yang menimpa kodok-kodok itu seperti sebuah kisah horor. Tubuh kodok menggelembung, megap-megap, meletus, dan tidak langsung mati. Hal itu menjadi spektakuler karena terjadi di kawasan perkotaan. Beritanya disebarluaskan oleh kantor berita AP dan BBC.

Kecintaan manusia pada kodok sebetulnya dapat dilihat pada pemujaan dan berbagai aksesori yang mengambil inspirasi dari kodok. Patung-patung kodok sering dipakai sebagai perlambang menangkap rezeki. Dari satu butik terkemuka, kita dapat menemukan lebih 60 macam desain kodok, baik dengan bahan keramik, perak, emas, maupun logam mulia dengan hiasan berlian. Harga bros kreasi Frogleg Industry, misalnya, berkisar US$160. Jadi berkah yang paling mahal dari kodok adalah tetap inspirasi yang diberikannya.

Selain dikonsumsi dan dijadikan peliharaan, kodok memang memainkan peran kultural di berbagai bangsa dan zaman. Ada ritual mengawinkan kodok untuk memanggil hujan. Ada juga bermacam lagu dan tokoh fi lm kartun Hollywood, si Kermit, kodok hijau yang tulus dan digandrungi di banyak negara. Pendeknya, di balik nyanyian oleh dan untuk para kodok, manusia telah menangkap berbagai hikmah budaya dan sejumlah peluang ekonomi.

Sekarang, musim kemarau sudah datang. Perebutan air antara peternak kodok, petani salak pondoh, dan peternak sapi sudah lama terdengar di seputar Sleman, Yogyakarta. Harian Bernas mengutip warga yang mengeluhkan residu antibiotik dari sebuah peternakan bull frog yang mematikan satu kolam ikan.

Berkurangnya debit air membuat warga lebih sensitif terhadap pemakaian air yang besar untuk agribisnis dan berbagai industri. Jalan keluarnya tentu bukan menutup petemakan kodok dan sejenisnya. Justru intensifi kasi ternak kodok kini diperlukan. Pada saat jumlah kodok alam di Indonesia mulai berkurang, permintaan untuk konsumsi maupun hiasan, justru cenderung meningkat di berbagai tempat.****)Eka Budianta, penyair, konsultan pembangunan, kolumnis TRUBUS dan pencintalingkungan.

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img