Thursday, August 18, 2022

Di Bawah Lindungan Semut

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Serangan hama penggerek dan pengisap buah kakao turun drastis karena kehadiran semut hitam. Produksi kakao juga meningkat.

Penggerek buah kakao Conopomorpha sp dan pengisap buah Helopeltis sp ibarat pencuri laba pekebun kakao.  Buah yang bagian dalamnya terserang penggerek akan mengeras, hitam, dan saling melekat sehingga biji tidak bisa dipisahkan. Serangan pengisap menyebabkan buah layu, bahkan pohon mati. Pekebun kakao di Desa Gumbrih, Kecamatan Pakutakan, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali, Ketut Sukayadnya, mengeluarkan biaya Rp2-juta setahun untuk mengatasi serangan hama itu.

Namun, sejak akhir 2000, biaya pembelian pestisida turun drastis. Itu setelah semut-semut menghuni pohon kakao di lahan 1,3 ha. Sukayadnya memenuhi saran Kepala Seksi Produksi Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Kabupaten Jembrana, Tukul Dirgo Rahanto, untuk mengundang semut hitam Dolichoderus thoracicus di sekujur pohon. Kehadiran semut menekan serangan penggerek dan pengisap buah hingga masing-masing 20%.

Timbal balik

Kehadiran semut secara tak langsung menyebabkan produksi kakao meningkat. Panen terakhir  pada Juli-November 2011, Ketut Sukayadnya menuai 600 kg biji dari 700 pohon. Dalam waktu dekat pekebun yang mengelola 1,3 ha lahan itu juga panen lagi. Padahal, pada panen-panen sebelumnya, pekebun sejak 1998 itu hanya menuai paling pol 300 kg. Saat itu selain produksi rendah, mutu buah juga anjlok.

Semut-semut itu sebenarnya sama sekali tidak berniat mengamankan kakao. “Mereka tertarik cairan manis dari kutu putih,” kata peneliti ahli dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jember, Jawa Timur, Dr Soekadar Wiryadiputra. Musababnya, kutu putih Cataenococcus hispidus menghasilkan cairan manis yang menarik semut.

Ahli hama dari Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor, Dewi Sartiami MSi, mengatakan, kutu putih menghasilkan cairan manis untuk mengundang semut. Sebagai imbalan, semut memindahkan Cataenococcus hispidus secara berkala bila cairan manis berkurang. Hubungan saling menguntungkan itu bisa terjalin antara berbagai jenis kutu putih dengan berbagai jenis semut, di antaranya semut gramang Anoplepis longipes, semut rangrang Oesophylla smaragdina, atau semut hitam.

Semut hitam menjadi pilihan Ketut Sukayadnya karena lebih jinak daripada jenis semut lain yang hidup di pohon. Bandingkan dengan semut rangrang, misalnya, gigitannya cukup menyakitkan.

Menurut Sartiami, ada dua perilaku semut, yakni sebagai predator dan pemakan nektar. Jenis predator akan memangsa semua makhluk yang tidak cukup cepat untuk melarikan diri seperti ulat, kutu, larva serangga, sampai anak burung yang baru menetas. Semut yang termasuk golongan predator antara lain semut api Solenopsis invictus dan semut tentara Neivamyrmex nigrescens.

Adapun semut pemakan nektar biasanya mencakup jenis semut yang agak “kalem.” Jenis itu memanfaatkan madu atau cairan manis dari tanaman sebagai makanan utama. “Semut pemakan nektar kerap membantu penyerbukan bunga,” kata entomolog lulusan Institut Pertanian Bogor itu. Semut pemakan nektar antara lain semut hitam kakao dan semut gula Camponotus consobrinus.

Bagi kutu, kehadiran semut yang “memanen” kotoran mereka jelas menguntungkan. Kotoran kutu yang semanis madu bisa membawa petaka kalau menetes di antara koloni kutu itu sendiri. Cendawan akan hinggap dan menginfeksi kutu, kadang sampai mematikan. Selain itu semut menghalau burung atau serangga pemangsa yang akan menyerang kutu.

Sarang

Untuk mengundang semut, buat sarang buatan berbahan daun kelapa kering atau daun kakao kering. Gulung daun kakao kering dan letakkan setidaknya 3 sarang buatan di setiap pohon kakao. Sebulan berselang semut menghuni sarang buatan itu jika di sekitarnya terdapat koloni semut. Namun, kalau daerah itu tidak ada semut hitam, tempatkan sarang berpenghuni.

Agar efektif menghalau penggerek dan pengisap buah kakao, semut mesti menyebar di permukaan buah kakao. Untuk itu Soekadar menyarankan pekebun juga memindahkan kutu putih ke permukaan buah. Tanpa kutu putih, semut berkumpul di pangkal atau ujung buah, atau berkeliaran di batang, cabang, atau ranting. “Percuma saja mendatangkan semut kalau begitu,” tutur Soekadar.

Buah yang dikerumuni semut hitam bebas dari penggerek maupun penusuk. Untuk melindungi kutu putih yang menjadi sumber pakan, semut mengusir predator yang akan hinggap. “Semut mengira kepik penggerek atau penusuk buah tergolong predator kutu,” kata Dewi. Akibatnya kepik tidak bisa hinggap sehingga buah aman. Kutu putih pun sejatinya hama lantaran mengisap cairan buah. Serangannya fatal kalau populasinya berlebih. Untungnya, semut membatasi populasi lantaran semut memindahkan kutu yang bergerombol terlalu padat.

Sekali terbentuk, koloni semut mesti dijaga agar tidak pindah maupun habis. Ketika sarang mulai tampak lapuk, pekebun mesti mengganti. “Jika tidak semut akan mencari tempat lain untuk bersarang,” kata Soekadar. Saat memangkas, hindari merusak sarang tempat semut berlindung saat hujan, sekaligus tempat ratu semut bertelur dan menetaskan telur. Di sana juga semut pekerja membesarkan larva semut yang baru menetas.

Kehadiran semut hitam terbukti meningkatkan produktivitas kakao. Produktivitas tanaman kakao rakyat merosot karena serangan hama dan penyakit serta pohon terlalu tua. Menurut Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Kabupaten Jembrana, Ir Luh Anggraeni, kebanyakan petani masih mempertahankan pohon tua, berumur 20-an tahun.

Kondisi itu makin parah akibat kehadiran penggerek dan pengisap buah. Untung saja, kedua pencuri laba pekebun kakao itu teratasi dengan semut hitam. (Argohartono Arie Raharjo)

Dari Laut untuk Kakao
Selain semut hitam yang secara tak langsung meningkatkan produksi, masih ada cara lain untuk melipatgandakan panen. Pekebun di Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara, Pilian Simamora, menuai 500 kg biji kakao dari 500 pohon di lahan 8.000 m2. Itu produksi dua kali lipat daripada hasil panen sebelumnya yang hanya 250 kg biji dari tanaman kakao berumur 6 tahun. Simamora mengandalkan pupuk cair berbahan rumput laut. Ia mencampurkan 3 ml pupuk dalam seliter air lalu menyemprotkan ke tajuk dan buah. Pemakaian irit lantaran untuk menyemprot 500 tanaman ia hanya memerlukan 1,5 liter pupuk. Ia menyemprot kakao setiap dua pekan. Hasilnya fantastis, buah mampu menghasilkan biji berkualitas dan meningkatkan produksi. Pupuk berbahan rumput laut itu mengandung kalsium, kalium, natrium, dan magnesium. Menurut Prof Dr Dedik Budianto, ahli tanah dari Universitas Sriwijaya, kandungan mineral dalam pupuk organik asal samudera lebih tinggi ketimbang pupuk asal daratan. “Laut menampung mineral-mineral yang terbawa dari daratan,” kata Dedik. Selain itu, kerangka atau tulang ikan jenis apa pun juga kaya kalsium. Keruan saja tanaman tumbuh lebih baik, termasuk kakao. (Argohartono Arie Raharjo)

 

Keterangan Foto :

  1. Kehadiran semut hitam tekan serangan hama hingga 20%
  2. Buah kakao yang terserang penggerek buah
  3. Tanpa semut, kutu putih bisa merusak buah
  4. Rumput laut bahan baku pupuk organik
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img