Sunday, August 14, 2022

Di Greenhouse Cinta Berlabuh

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Impiannya menjadi kenyataan, sebuah greenhouse 1.000 m2 berdiri di Bedugul, Bali. Dari greenhouse ia ingin memetik sayuran sendiri atau sekadar memanjakan indra penglihatan. Hasrat serupa menyelinap di benak Sudibyo Karsono di Bogor.

Yang biasa pedikur, manikur, atau facial alias membersihkan wajah di Flin Body Care mungkin merindukan Ari Saptari pada 5 bulan terakhir. Sejak pertengahan tahun lalu pengusaha salon di Denpasar, Bali, itu jarang kelihatan. Ia memang bertolak ke Baturiti, Bedugul, 80 km dari Denpasar. Namun, bukan untuk menyepi.

Perempuan Solo itu tengah getol menyambangi greenhouse yang lama diidam-idamkan. Sepekan ia bisa beberapa kali melampiaskan hasrat memandangi beragam sayuran segar. “Ini kan usaha baru. Saya masih harus memberi contoh bagaimana panen yang benar atau mengemas. Saya selalu menekankan, pokoknya timbangan ngga boleh dikurangi. Ditambah silakan,” kata Ari.

Aktivitas lain dilakukan alumnus Universitas Negeri Sebelas Maret itu seperti menyusuri lorong di antara 2 bedengan. Ia tak sekadar berjalan sembari menikmati hijaunya lologreen, pakcoy, caisim, lettuce batavia, romance, dan butterhead. Ibarat sekali merengkuh dayung, 2—3 pulau terlampaui. Saat itu ia juga mengontrol kesehatan tanaman. Bila ada ulat, misalnya, Ari langsung menyingkirkan.

Dengan begitu serangan hama dan penyakit dapat dideteksi dini, sehingga penggunaan pestisida amat minim. Beragam lettuce dipilih lantaran konsumen yang dibidik adalah para pelancong di Bali. Total jenderal ada 7 sayuran daun yang dikembangkan. “Kangkung tak mau saya tanam. Karena di Bali terdapat kangkung lombok yang bagus,” katanya.

Gratis

Beragam sayuran itu ditanam di bawah greenhouse piggy back seluas 1.000 m2. Di dalamnya 32 bak berderet rapi di lahan setengah ha. Sebuah bak berukuran 12 m x 1 m. Untuk membangun sebuah greenhouse, ia mesti merogoh kocek dalam-dalam. Sayang, ia enggan menuturkan nilai investasi. Sebagai gambaran, biaya pembuatan rumah tanam berkerangka bambu Rp70.000 per m2 atau Rp70-juta untuk luasan 1.000 m2.

Nilai yang cukup besar. Untuk sebuah kesenangan, mengapa tidak? Toh ibu 2 putri itu benar-benar mereguk kebahagiaan dari aktivitas barunya. “Orang stres masuk situ (greenhouse, red) mungkin sembuh. Oh, ada batavia yang hijau muda, lolorosa merah, butterhead yang seperti mawar. Itu yang tak dapat dinilai dengan uang,” ujar Ari. Kegiatan merendam benih saja, memberikan kepuasan tersendiri.

Puncak kebahagiaan saat panen tiba. Itu terjadi pada penghujung September 2003 untuk kali pertama. Mungkin karena ia bertahun-tahun mengurusi salon. Barang baru berupa sayuran aeroponik bagai magnet yang menarik perhatiannya. Sayang, ketika panen perdana Ari justru bingung memasarkan. Sebelum menanam, memang tak ada permintaan pasar. “Pokoknya senang dulu,” ujar Ari dengan senyum mengembang.

Agrowisata

Di tengah kebimbangan, terlintas gagasan untuk membagikan hasil jerih payahnya ke beberapa panti asuhan di Bali. Yang penting tak terbuang percuma. Baru pada panen kedua ia mengundang staf hotel, kafe, pasar swalayan, dan restoran di Bali. Sejak saat itu permintaan bertubi-tubi masuk ke rumah Ari. Ia mesti rela meluncur ke Bedugul yang dingin menjelang tengah malam. Sebab, ada permintaan sayuran mendadak yang harus dipenuhi segera.

Rata-rata anak ke-7 dari 8 bersaudara itu mengirimkan 150—200 kemasan masing-masing berbobot 250 g ke berbagai konsumen. Mutu bagus dan pemain tunggal untuk sayuran aeroponik di Bali menyebabkan permintaan terus mengalir. Namun, ia tak mau menargetkan pencapaian titik impas. “Saya mau senangsenang dulu,” ujar kelahiran Surakarta 14 November 1956 itu.

Malahan permintaan beberapa biro perjalanan di Bali untuk menjadikan greenhousenya sebagai tujuan wisata, belum ditanggapi. Ia khawatir semakin banyak yang melancong ke sana, sayuran bakal rusak. Mungkin setelah batin terpuaskan, ia baru mengambil kalkulator untuk menghitung bisnis sayuran eksklusif itu.

Pensiun

Nun jauh dari Bedugul, Sudibyo Karsono juga menambatkan cintanya di greenhouse. Di Parung, Bogor, ia membangun 6 rumah tanam masingmasing berukuran 200 m2. Di sana ia menanam bayam hijau dan merah, caisim, kailan, kangkung, serta pakcoy. Teknologi aeroponik dan hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) diadopsi. Setiap pagi ia tampak berjalan-jalan menghirup udara segar dalam greenhouse itu.

“Enak bisa melihat sayuran segar sekalian olah raga,” ujar kakek 7 cucu yang energik itu. Tentu saja ia sembari mengontrol tanaman. Bahkan, Ahad pun—ketika sebagian orang berlibur—Sudibyo tetap mengunjungi farm. Kebosanan seolah tak pernah menghampiri. Ia laksana mentari yang akan kembali terbit esok pagi. Betapa tidak, pukul 05.30 ia meninggalkan rumah di bilangan Pamulang, Tangerang, lantas ke Parung yang berjarak 40-an km.

Itu dilakukan rutin, setidaknya 5 tahun terakhir. Semua bermula dari masa pensiun, 10 tahun lampau. Habis masa kerja di stasiun radio swasta di Jakarta, hobi lamanya memelihara tanaman seperti memanggil. Anak ke-5 dari 7 bersaudara itu belajar aeroponik ke Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Sebuah greenhouse 200 m2 dijadikan ajang uji coba penanaman cabai, tomat, dan mentimun.

Kreatif

Eksperimen dengan mengadopsi teknologi NFT itu sukses. Dibyo—demikian kerabat menyapa—pun membagi kisah itu dengan membuka kursus berkebun hidroponik. Lalu satu per satu greenhouse didirikan mengiringi sukses penanaman sebelumnya. Toh hingga hari ini pria kelahiran Purworejo, Jawa Tengah 15 Mei 1933 itu mengaku belum mencapai untung. Katanya, asal biaya operasional tertutupi.

Seperti Ari Saptari, bagi Dibyo menikmati hamparan beragam sayuran sebuah kenikmatan sendiri. Mungkin karena itulah ia betah berlama-lama berada di farm. Ketika Trubus ke sana medio Januari 2004, ayah 5 anak itu tengah asyik membuat timer. Ketimbang membeli Rp300.000 untuk sebuah timer, ia lebih senang merakit sendiri. “Lebih awet,” katanya.

Kegiatan seperti itu biasanya dilakukan setelah puas berkeliling greenhouse. Waktunya dihabiskan di ruang kerjanya yang sederhana berupa bangunan model piggy back. Di sana terdapat berbagai peralatan kerja yang semuanya bekas. Mesin jahit dibeli Rp10.000 dimodifi kasi sebagai pemotong PVC. Ada lagi bor Rp30.000—yang baru Rp250.000—, dan pemarut kelapa sebagai penghalus papan usai pemotongan. Dengan perlengkapan sederhana ia terus berkreasi membuat aeroponik sederhana.

Diminati

Bahannya murah dan mudah ditemukan seperti gelas bekas air minuman, botol minuman bersoda, corong air, tempat sendok, atau tempat minum ayam. Dari bahan-bahan itulah pria 71 tahun itu membuat beragam aeroponik sederhana. Jenisnya beragam seperti wadah minum ayam sebagai penampung nutrisi. Di atasnya diberi pipa sebagai jalan masuk hara tanaman. Wadah yang mampu menampung 6 l itu kemudian dihubungkan dengan pipa PVC.

Agar pot tanaman cukup banyak ia menambahkan sambungan T. Di setiap ujung pipa itulah ia meletakkan pot sayuran. Nutrisi mengalir dari wadah minuman. Kreasinya yang mutakhir, paduan aeroponik dan akuarium. Hobiis bisa memanen sayuran sekaligus ikan (baca: Panen Sayuran dan Ikan di Akuarium, Trubus Januari 2004). “Saya sebetulnya suka tanaman, tapi kadang malas menyiram. Jadi dibuat aeroponik skala rumahan,” kata Dibyo.

Kreasi Dibyo ternyata diminati hobiis di berbagai kota seperi Merauke, Ternate, Makassar, Riau, Banjarmasin, Palu, dan Yogyakarta. Ia senang lantaran orang lain dapat menikmati teknologi aeroponik sederhana di rumah. “Aeroponik itu tak harus njlimet,” ujar Dibyo yang pernah mengeyam pendidikan Elektro di Institut Teknologi Bandung.

Mereka, para hobiis, menikmatinya di rumah. Ari Saptari dan Sudibyo Karsono memuaskan hasrat berhidroponik di greenhouse. Cinta mereka kepada beragam sayuran, memang berlabuh di greenhouse. (Sardi Duryatmo/Peliput: Evy Syariefa Firstantinovi)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img