Monday, August 8, 2022

Di Italia Saliyah Jadi Juara

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Koleksi Fabio Mantovani asal Italia itu luar biasa. ‘Kesan pohon sangat alami. Seperti pohon tua yang meraksasa di alam,’ kata Budi Sulistyo, wakil ketua umum Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) yang berkunjung ke Saint Vincent. Perakaran rhododendron yang kokoh dengan batang berkesan tua menambah indah penampilannya. Semua komponen pohon-akar, batang, cabang, hingga ranting dan daun-pun sudah lengkap.

Keunggulan azalea beraliran Jepang klasik (posisi titik tumbuh cabang lebih teratur, red) itu diakui 200 penggemar bonsai dari penjuru dunia yang hadir. Sebut saja Belanda, Jepang, Taiwan, Hongkong, Amerika, dan India. Seminggu sebelumnya, sang juara, menjadi yang terbaik pada Crespi Bonsai Cup, juga di Italia.

Saliyah-nama lain azalea-bersaing elok dengan Juniperus chinensis var itiogawa. Runner up BCI Award yang juga koleksi Fabio Mantovani itu mencolok dengan jin dan shari yang rapi. Jin ialah keringan yang menonjol dan sudah terlepas dari batang. Shari, keringan yang masih menempel di batang. Itu menunjukkan teknik bonsai di Italia tak hanya beraliran Jepang klasik. Namun, berkembang mengikuti teknik dan pembentukan gaya yang lebih modern. Di kontes yang digelar pada penghujung September 2008 itu duet koleksi Fabio menjadi pusat perhatian.

Rekor peserta

Gegap gempita kompetisi bonsai juga berlangsung di tanahair. Yang paling menggemparkan ialah Pameran Nasional Bonsai di Pamekasan, Madura, pada penghujung Oktober 2008. Kabupaten di Pulau Garam itu sukses memecah rekor kontes tahun ini dengan jumlah 490 peserta. Kelas utama 45 peserta; madya, 245; dan pramadya, 200. Itu mengalahkan Pameran Nasional di Jakarta Juni 2008 dengan 300 peserta. ‘Selama ini Madura hanya dikenal sebagai sumber bakalan cemara udang, santigi, dan gulo gumantung. Dengan kontes itu Madura layak diperhitungkan,’ kata Husny Bahasuan, ketua PPBI Cabang Sidoarjo, yang turut meramaikan kontes.

Peserta berasal dari berbagai penjuru tanahair. Dari Pulau Sumatera tercatat Lampung, Palembang, dan Bengkulu. Dari bagian timur: Ambon, Bali, dan Lombok. ‘Hampir semua kota besar di Jawa turut berpartisipasi,’ kata Sugianto Hartono, ketua PPBI Cabang Pamekasan. Di kontes itu gelar best in show di kelas utama direbut beringin korea milik Harja Haruman dari Bandung. Ia menjadi yang terbaik setelah mengalahkan para pesaing di 10 besar. Pada kelas madya dan premadya, gelar terbaik direngkuh 2 cemara udang klangenan Amin Jaya asal Pamekasan.

Berbarengan dengan Pulau Garam, digelar pula kontes di Yogyakarta. Meski berskala regional peserta kontes di areal parkir bekas Hotel Ambarukmo itu juga datang dari daerah lain: Pacitan, Jawa Timur dan Denpasar, Bali. Total jenderal 172 bonsai bertarung memperebutkan gelar terbaik. Di kontes itu beringin arjuno milik Billy Anggara asal Sleman dinobatkan sebagai the best bonsai. Di kelas pemula asam milik Koh Hwat dari Yogyakarta sukses menjadi kampiun. Sementara di Bandung berlangsung Pameran Nasional Madya yang diikuti 282 peserta.

Seniman bonsai

Terobosan baru dilakukan penggemar bonsai di Lampung. Penggemar bonsai di provinsi paling selatan di Sumatera itu menggelar kontes dengan tim juri di luar penggemar bonsai: seniman dan fotografer. ‘Kami ingin melihat karya bonsai dari mata praktisi seni di luar bonsai. Ternyata hasilnya tak meleset karena keindahan bersifat universal,’ kata Rino G Hutasuit, ketua panitia. Tim juri adalah Vito (pemahat), Yen Junaedy (pengukir), dan Achmad Ridho (fotografer). Tercatat 141 peserta meramaikan kontes pada awal November 2008 itu.

Berlokasi di Lapangan Saburai, Bandarlampung, kawista bergaya air terjun milik Aon dari Tanggamus menjadi yang terbaik. ‘Ia paling matang di antara lawan-lawannya. Perawatan pohon pun terlihat apik,’ kata Yen Junaedy. Pesaing terberatnya seribu bintang grouping milik Kuntoro. Posisi ketiga dihuni sisiran koleksi Hadi. Kehadiran 3 jawara dari Lampung itu melengkapi ingar-bingar bonsai dari Italia hingga Pamekasan. (Destika Cahyana/Peliput: Ari Chaidir dan Imam Wiguna)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img