Wednesday, August 10, 2022

Di Organik Dia Jaya

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Pemilik CV Kurnia Kitri Ayu Farm, Ir. Hary Soejanto.(foto : Koleksi Hary Soejanto)

TRUBUS — Berawal dari pekarangan, kini menjadi perusahaan pemasok produk organik.

Pandemi bukan hambatan bagi pelaku bisnis pertanian organik. Lihat saja omzet perniagaan sayuran organik milik Ir. Hary Soejanto yang meningkat menjadi Rp12 juta setiap pekan. Semula omzet pekebun sayuran organik di Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur, itu Rp10 juta per pekan. Peningkatan omzet karena permintaan pangan sehat bertambah. Hary membudidayakan 26 jenis sayuran organik seperti wortel, jagung, buncis, kol, di lahan 2 hektare (ha).

Ia bermitra dengan 8 petani organik di Kota Malang dan Kabupaten Malang. Kapasitas produksi saat ini 50—100 kg sayuran organik setiap pekan. Konsumen Hary terutama rumah tangga dan pasar swalayan di Kota Malang dan Kota Surabaya, Jawa Timur. Ada juga permintaan rutin produk organik dari perusahaan pengolahan makanan bayi di Surabaya. Kriteria sayuran organik untuk pasar swalayan antara lain panjang akar sekitar 25 cm, daun mulus tanpa lubang, dan warna daun hijau mulus tanpa bercak kuning.

Tersertifikasi organik

Tidak mudah membina petani agar konsisten menghasilkan produk organik. “Pak Hary mendampingi sejak penanaman. Mulai dari teknik budidaya, pengaturan tata lahan, jadwal pengiriman, dan analisis usaha,” kata petani mitra di Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Yuli Ernawati. Pelatihan dan pendampingan modal Hary membina petani mitra untuk menghasilkan produk organik berkualitas.

Yuli menuturkan pascapanen yang meliputi penyortiran, pencucian, pengelompokkan (grading), dan pembersihan bagian tanaman dilakukan petani mitra. Sisa sortir diolah sebagai makanan sendiri, pakan ternak, dan kompos. Hal itu sesuai konsep pertanian organik sebagai suatu sistem produksi pertanian yang berasaskan daur ulang secara hayati dan penggunaan masukan eksternal yang minimum serta menghindari penggunaan pupuk dan pestisida sintetis.

Pertanian organik ala Hary bukan klaim sendiri. Kurnia Kitri Ayu Farm—kebun organik milik Hary—tersertifikasi organik Standar Nasional Indonesia (SNI) sejak Oktober 2007. Ia juga mengikuti program pemerintah Go Organic dengan nomor pendaftaran 002 yang dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) Inofice. Menurut Hary budidaya organik tidak sekadar bisnis. Terdapat nilai sosial salah satunya pemberdayaan petani. Banyak mitra Hary yang memproduksi dan memasarkan sayuran organik mandiri.

Keberhasilan Hary berbisnis organik tidak terjadi dalam semalam. Ia menanam sayuran organik di pekarangan seluas 800 m2 pada 2006. “Semula hanya untuk pemenuhan konsumsi sayuran organik keluarga. Kemudian berkembang dan dikenal sebagai produsen sayuran organik seiring tumbuhnya permintaan,” kata pria berumur 72 tahun itu. Hary yang semula manajer budidaya pertanian di perusahaan pertanian tertantang memenuhi permintaan itu dan mendirikan CV Kurnia Kitri Ayu Farm pada 2006.

Penyortiran tanaman untuk memenuhi kriteria sayuran organik sesuai keinginan konsumen.(Koleksi Ngugemi Gesang Organic Farm )

Lahan yang semula 800 m2 kini menjadi 2 ha. Menurut Hary pengelolaan sumber daya manusia (SDM) merupakan kendala terbesar menjalankan bisnis pertanian organik. Menumbuhkan rasa tanggung jawab dan memupuk kedisiplinan bagi para petani adalah kunci menjaga kualitas, kuantitas dan kontinuitas produk. Salah satu upaya meningkatkan SDM dengan pendampingan dan edukasi kepada petani. (Nadya Muliandari)

Previous articleAwet dan Produksi Tinggi
Next articleSupaya Betta Juara
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img