Sunday, August 14, 2022

Di Payau Tak Payah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Nila srikandi bertahan hidup di air bersalinitas 40 ppt.

 

Dalam kisah Mahabarata, Srikandi asal Pancala mengalahkan Resi Bisma di Padang Kurusetra. Beda lagi dengan Srikandi asal Sukamandi, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, yang mampu “menaklukkan” lingkungan ekstrem. Ia ikan nila tahan asin yang bisa hidup di air berkadar garam 40 ppt (part per thousand). Aris Suhendar, petambak di Tangerang, Provinsi Banten, membuktikan ketahanan nila srikandi hidup di air payau.

Setahun silam ia menebar 3.000 benih srikandi berbobot rata-rata 10 gram per ekor di tambak 7.000 m2. Dua setengah bulan berselang, bobot meningkat menjadi 200 g per ekor alias sekilo terdiri dari lima ekor. “Semula saya pikir bakal banyak yang mati atau hidup tetapi lambat tumbuhnya. Namun, kecepatan tumbuhnya ternyata luar biasa,” tutur kelahiran Purwakarta 59 tahun silam itu.

Bandel

Aris semula pesimis bisa memelihara nila di air payau. Selama ini nila sohor sebagai ikan air tawar yang banyak dikembangkan di hulu. Bukan dekat pantai seperti tambak miliknya. Tambaknya berkadar garam 17-30 ppt. Jarak tambak dari tepi Laut Jawa hanya 2,8 km. Aris semula beternak udang windu dan bandeng. Namun,  sejak 10 tahun silam produksinya anjlok, 300-600 kg per ha per musim. Padahal, menurut Aris pada  18-26 tahun silam produksi windu 1.000 kg per ha.

“Kualitas air di tambak Tangerang Utara menurun. Penyakit juga bertambah banyak. Ikan yang semula berproduksi tinggi keok,” kata Suyitno, kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten. Musababnya banyak pabrik yang berdiri di Kota dan Kabupaten Tangerang membuang limbah ke Sungai Cimanceri yang bermuara di Laut Jawa.

Aris lalu menyiasati dengan membuat sistem aliran tertutup. Di lahan seluas 4,5 ha, ia menyediakan tandon 2,5 ha di samping tambak produksi seluas 2 ha. Di tandon itu udang windu dan bandeng hidup sebagai indikator. “Sebelumnya air di tandon selalu diganti dengan air baru dari sungai atau muara secara periodik,” kata Aris. Dengan sistem tertutup, air didaur ulang: tambak-tandon-tambak-tandon, begitu seterusnya. Selama udang windu dan bandeng hidup berarti air tandon bagus. Air sungai atau laut hanya masuk bila kualitas keduanya sedang bagus.

Ternyata dengan sistem itu nila srikandi bandel. Tiga bulan pascatebar benih, Aris memanen 686 kg Oreochromis aureus x niloticus di lahan 7.000 m2. Bobot ikan anggota famili Cichlidae itu berkisar 250-333 gram per ekor setara 3-4 ekor per kg. “Hitung-hitungan saya, dengan kualitas air rendah ini kepadatan nila dapat mencapai 10 ekor per m2. Sementara itu bandeng dan windu masing-masing hanya 5 dan 3 ekor. Ini harapan baru bagi petambak,” tutur Aris.

Menurut Aris, nila yang bersifat omnivora alias pemakan segala juga membantu petambak. Kerabat mujair itu menyantap pelet, plankton, dan kelekap atau ganggang. Selama 3 bulan ayah 3 anak itu hanya memberi 200 kg pelet. “Pakan buatan hanya 1/3 bobot panen sehingga biaya produksi rendah. Bandingkan dengan udang windu dan bandeng yang food convertion ratio (FCR) 1,1-1,5,” kata Aris. Tambahan bobot nila diperoleh dari pakan alam berupa plankton, ganggang, dan kelekap atau ganggang.

Memelihara nila juga lebih untung karena sekali tebar benih dapat panen 2 kali. Umur 2,5 bulan nila sudah berbiak sehingga 3 bulan pascapanen pertama, dapat kembali panen 2 kali lipat. Maklum, dari 3.000 benih yang ditebar dapat menghasilkan 6.000 anakan. “Namun, di musim ketiga semua anakan harus diangkat dan kembali menanam benih murni. Bila terus dipelihara hasil menurun karena inbreeding,” kata Supriadi, peneliti Balai Pengembangan dan Penelitian Budidaya Ikan Air Tawar (BPBIAT) Sukamandi, Subang, Jawa Barat.

Darah biru

Menurut Supriadi, nila srikandi berasal dari hasil penelitian sejak 5 tahun silam. Ketika itu pada 2007 BPBIAT memiliki 8 strain nila tahan air payau. Delapan strain itu berasal dari indukan nila merah Oreochromis niloticus, nila biru O. aureus, dan mujair O. mossambicus. Yang disebut pertama tahan hidup di air bersalinitas 10 ppt. Sementara nila biru mampu hidup pada air berkadar garam 57 ppt dan mujair sohor sebagai ikan air payau.

Supriadi lantas menyeleksi delapan strain itu dan meningkatkan kecepatan tumbuhnya. Di Sukamandi terdapat satu strain yang kecepatan tumbuh paling cepat: bobot 50 g pada umur 1 bulan, 150 g (2 bulan), dan 250 g (3 bulan). Itu memang setara pertumbuhan nila merah di air tawar. Persoalannya, “Nila merah tidak bisa hidup di air payau yang lebih tinggi kadar garamnya,” kata Supriadi. Sementara dibanding nila biru yang tubuhnya memang lebih tipis, nila payau jauh lebih genjah.

Periset itu lantas menguji multilokasi strain itu di Yogyakarta, Karawang (Jawa Barat), dan Tegal (Jawa Tengah). Hasilnya setara pengujian di Sukamandi. Pemerintah lalu melepas nila payau sebagai nila srikandi pada 2012. Srikandi berarti ras sukamandi. Menurut Supriadi, untuk memenuhi permintaan peternak-sebut saja Yogyakarta mencapai 1-juta benih-maka saat ini BPBIAT menyiapkan 20.000 calon induk.

Setahun lalu di Tangerang hanya Aris yang memelihara srikandi di lahan 7.000 m2. Kini 7 anggota Kelompok Tani Tambak Mina Lestari mulai mengikuti jejak Aris. Mereka mengelola tambak seluas 14 ha. Tertarik membuktikan kemampuan srikandi? (Ridha YK, kontributor Trubus di Kalimantan Selatan)

Srikandi Tahan Banting


Keterangan foto :

  1. Nila srikandi memiliki darah nila merah, nila biru, dan mujair
  2. Nila srikandi berpeluang gantikan kejayaan udang windu dan bandeng pada budidaya tambak
  3. Udang windu dan bandeng dibiarkan hidup di tandon sebagai indikator alami kualitas air tambak
Previous articleAmyda Bertaruh Nyawa
Next articleKampiun karena Kilap
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img