Sunday, November 27, 2022

Di Sini Caladium Berpijak

Rekomendasi

Lima bulan lalu, satu rumpun caladium setinggi 50 cm dicabut dari pot di sebuah pameran tanaman hias di Colombo, Sri Lanka. Tampak tanah berpasir membalut umbi caladium berwarna merah jambu-hijau itu. Empat bulan kemudian, umbi caladium berdaun ganda milik Tawee Prasit, dibongkar di Pathum Thani, Thailand. Medianya campuran tanah dengan serasah daun famili Leguminoceae.

Di tanahair, Dr Benny Tjia, praktisi tanaman hias di Bogor, menggunakan media cocopeat. Serbuk sabut kelapa itu sanggup menahan air dalam jumlah banyak dan waktu lama. Kemampuan menangkap dan menahan air cocopeat lebih tinggi daripada peat lantaran struktur pori-porinya lebih bagus. Cocok untuk menanam anggota keluarga Araceae yang membutuhkan media lembap. Apalagi coir dust-nama lainnya-mudah didapat dan harganya relatif murah.

Secara umum derajat keasaman coir dust mendekati 6, sedangkan caladium tumbuh baik pada media ber-pH antara 6,5-6,8 atau mendekati netral. Pada kondisi itu, unsur hara yang bisa diserap tanaman banyak tersedia, seperti nitrogen, calsium, fosfor, dan sulfur. Untuk menetralisir pH, Benny mencampur serbuk kelapa dengan kapur dolomit. Setiap 1 kubik media ditambahkan dengan 2 kg dolomit.

Tunggal

Gunawan Widjaja di Sentul, Bogor, menggunakan media humus andam. Hasilnya akar caladium cepat keluar dan pertumbuhan tanaman cepat meski tak dipupuk, ujar pemilik nurseri Wijaya itu. Wajar bila kerabat aglaonema itu tumbuh subur. Humus memiliki kandungan N tinggi yang memacu pertumbuhan vegetatif. Miselium humus tersusun dari lignin, poliuronida, C, H, O, S, dan P. Bahan organik itu mampu meningkatkan unsur hara tersedia bagi tanaman, seperti Ca, Mg, dan K. Daya serap humus cukup tinggi, 80-90% dari bobotnya.

Di Cisarua, Trubus menyaksikan caladium asal Thailand berwarna merah keunguan tumbuh subur di pot plastik hitam. Sang empunya hanya menggunakan media sekam mentah. Menurut Lanny Lingga, pemilik nurseri Seederama, pemakaian 100% sekam mentah cocok di kebun berlokasi di dataran tinggi. Di sana kelembapan udara tinggi. Sebaliknya dataran rendah seperti Jakarta, kelembapan rendah. Media cepat kering akibatnya caladium kekurangan air. Pertumbuhannya tidak optimal, bahkan dorman.

Di daerah panas, penggunaan sekam mentah sebaiknya tak lebih dari 25% dari total volume. Rice hulls itu tak mampu menahan air banyak sehingga media cepat kering. Namun, ia membuat aerasi media bagus. Saat ini Amerika tengah gencar mengimpor sekam mentah dari Pakistan dan India. Namun, Sekam di sana berbeda dengan sekam Indonesia, ujar Lanny. Sekam tidak benar-benar mentah lantaran sudah dikukus terlebih dahulu, sehingga biji padi tidak dapat tumbuh lagi.

Rice hulls dilindungi hemiselulosa sehingga tidak akan menaikkan suhu waktu terjadi dekomposisi. Selain itu, sekam mentah memiliki kandungan silikat dan mangan tinggi. Kontrol media agar derajat keasaman tidak di bawah 5. Pada pH tersebut, ketersediaan unsur Mn yang bisa terserap tanaman meningkat. Akibatnya caladium bisa keracunan logam berat itu sehingga sel akar dan daun anggota famili Araceae itu rusak.

Media campuran

Selain di media tunggal, caladium juga tumbuh baik pada media campuran. Contohnya Ino Tomasouw di Jakarta yang menggunakan 3 campuran media. Alumnus jurusan Biologi, IKIP Jakarta, itu memakai sekam mentah, sekam bakar, dan humus daun bambu yang telah diayak masing-masing satu bagian. Sebelum digunakan, Ino mengukus campuran media tersebut selama 30 menit agar steril sehingga bebas serangan bakteri dan cendawan.

Sekam mentah dan bakar kurang menyerap air, tapi membuat aerasi media baik, sehingga oksigen cukup tersedia bagi akar. Humus daun bambu berperan sebagai penyedia nutrisi, sekaligus menyimpan air sehingga media tetap lembap.

Menurut Lanny sebaiknya hati-hati menggunakan media dari sekam bakar dan humus bambu. Kalau sekam bakar sudah hancur, dia bisa sangat padat, kata Lanny. Porositas berkurang sehingga akar terganggu. Sementara kompos daun bambu kelembapannya hanya sementara, sampai pertumbuhan daun pertama. Selain itu, ia sangat porous sehingga akar tidak mau berkembang.

Media lain, campuran cocopeat dan sekam bakar. Itu yang Trubus lihat di Anti Nurseri, Ciawi, dan kebun milik Ulih Sunardi di Ciapus, Bogor. Hasilnya, caladium tumbuh sehat dan warnanya cerah. Ulih juga menggunakan campuran media humus andam dan kaliandra dengan perbandingan 3:2.

Sementara di Thailand, 12 nurseri yang Trubus sambangi menggunakan media serupa, tapi komposisinya berbeda. Sebut saja Tawee Prasit di Pathum Thani. Ia memakai media campuran 2 bagian tanah dan 1 bagian serasah daun kacang-kacangan. Sedangkan Pichai Manichote di Bangkok, komposisi medianya 1:1. Intinya, Media menyimpan air dan tidak mudah memadat, ujar pemilik perusahaan pestisida di Bangkok itu.

Media padat menyebabkan air tergenang sehingga aerasi udara rendah. Gejala yang langsung terlihat adalah daun dan batang menjadi layu. Jika terus berlanjut, pertumbuhan akar hanya terbatas pada pori-pori yang masih berisi oksigen. Akar sehat biasanya berwarna putih dan memiliki rambut-rambut halus. Jika aerasi rendah, akar yang putih berubah jadi cokelat lalu menghitam. Media padat juga mengundang bakteri dan cendawan penyebab busuk.

Nun di Sri Lanka, 3 pekebun yang Trubus temui memakai tanah berpasir sebagai media caladium. Pasir berwarna cokelat muda berukuran halus seperti pasir pantai. Tanah bermanfaat untuk mengikat air yang dibutuhkan kerabat aglaonema itu. Sementara pasir membuat tekstur media remah, sehingga aerasi bagus. Caladium pun tumbuh subur dan rimbun.

Di 3 negara, media yang dipakai boleh berbeda. Namun, hasilnya caladium tumbuh subur, prima, dan tampil menarik. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Evy Syariefa)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img