Monday, August 8, 2022

Di Tempurung Larva Berlindung

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Terumbu melekat dan tumbuh di
unit bioreeftek. (Dok. Eghbert Elvan Ampou)

Trubus — Tempurung kelapa menjadi arang untuk membakar satai pada Idul Adha lalu. Eghbert Elvan Ampou, Ph.D. memanfaatkannya untuk memperbanyak terumbu karang. Periset di Balai Penelitian Observasi Laut (BPOL), Bali, itu mengembangkan teknik perbanyakan terumbu. Ia menyebutnya bioreeftek. Teknik itu menyediakan perangkat media bagi larva planula karang untuk melekat secara alami.

Periset Balai Penelitian
Observasi Laut (BPOL),
Eghbert Elvan Ampou, Ph.D. (Dok. Eghbert Elvan Ampou)

Keistimewaan bioreeftek adalah mudah dan murah. Murah lantaran Elvan (44) membuat perangkat media pertumbuhan larva terumbu itu menggunakan tempurung kelapa. Ia menancapkan di batang aluminium. Elvan mensyaratkan tempurung berasal dari kelapa tua, tebal, dan utuh tanpa retak. Yang terpenting, permukaan tempurung mesti bersih mulus. Halus dan bebas dari sisa serabut. Periset kelahiran Kota Manado, Sulawesi Utara, itu mengampelas tempurung atau mengerok dengan pisau.

Aplikasi bioreeftek hanya dengan
meletakkan di sisi terumbu. (Dok. Eghbert Elvan Ampou)

Larva planula suka menempel di permukaan yang bersih. Jika masih ada sisa serabut, larva mudah terlepas. Batang aluminium pun bukan harga mutlak. Kalau sulit mendapatkan atau terhambat harganya yang mahal, “Gunakan bambu seukuran tangkai sapu ijuk,” ujar doktor bidang de l’Environnement et de l’Espace dari Université Toulouse IIIPaul Sabatier, Toulouse, Prancis itu. Elvan mengembangkan bioreeftek setelah meihat periset terumbu karang asal Tokyo University of Marine and Science Technology, Mineo Okamoto, melakukan hal itu pada 2001.

Okamoto kali pertama melakukannya di laguna Sekisei, Okinawa, Jepang. Metodenya dengan menyediakan “rumah” tempat melekat bagi larva hewan karang hasil perbanyakan seksual. Dalam laporannya, Okamoto menyatakan memilih metode itu untuk mengatasi kelemahan cara pencangkokan yang biasa dilakukan. Pencangkokan memerlukan kepingan koral sebagai “bibit”. Itulah sebabnya periset malah harus memecah terumbu sehat untuk memperolehnya. Padahal, pertumbuhannya sangat lambat, berkisar 0,4–10 cm per tahun tergantung jenisnya.

Terinspirasi marine blocks karya Prof. Okamoto, bioreeftek mudah dipindah ke tempat baru. (Dok. Eghbert Elvan Ampou)

Selain pembiakan aseksual, koral juga berbiak secara seksual (spawning). Saat itu koral melepaskan banyak telur. Rumah koral buatan itu bertujuan “menangkap” telur saat spawning. Lantaran spawning melepaskan ribuan calon larva koral, peluang terbentuknya terumbu baru lebih tinggi ketimbang metode cangkok. Pada 2001—pertama kali Okamoto meneliti—rumah larva karang itu belum bernama. Ia sekadar menyebutnya settlement devices atau tempat hunian.

Ia mencoba tiga bentuk tempat hunian—lempengan, tabung, dan balok berongga. Berselang tiga bulan, populasi tempat hunian berbentuk lempengan persegi tertinggi di antara ketiganya. Hasil percobaan pada 2001 itu menjadi dasar membuat coral settlement devices (CSD) berbahan piringan keramik. Periset itu mencoba lagi di tempat sama pada 2006. Okamoto mematenkan bentuk piringan keramik dan susunan bertumpuk. Namanya marine block (MB).

Pembuatan CSD dan MB tidak bisa sembarangan, komposisi bahan penyusunnya pun tertentu sesuai paten. Sukses melakukan di Jepang, ia lalu mempraktikkan di perairan sekitar Bunaken, Sulawesi Utara, bekerja sama dengan BPOL. Melihat MB karya Okamoto itu, Elvan terpikir membuat media serupa yang lebih murah dengan bahan yang berlimpah. Ia lantas merekayasa bioreeftek berbahan tempurung kelapa.

Elvan mematenkan temuannya pada 2012 (baca boks Taktik Empat Batok). Sebelum mematenkan pun bioreeftek diaplikasikan di banyak tempat di tanah air seperti perairan Nusa Penida dan Pemuteran, Bali sejak 2008 dan perairan Gili Lawang serta Gili Sulat, Nusatenggara Barat (2008). Pada 2010, Taman Nasional Bunaken mengaplikasikan perbanyakan koral bermodal batok kelapa itu.

Terumbu tumbuh di celah atau lekukan yang tidak terjangkau pemangsa dan terlindung dari arus. (Dok. Eghbert Elvan Ampou)

Di perairan Pulau Tikus, Bengkulu, Kelompok Pencinta Alam Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Bengkulu juga menerapkan bioreeftek pada 2014 dan 2018. Elvan memantau Pantai Lovina, Bali, setelah menggelamkan 14 unit bioreeftek pada 2014. Aplikasi bioreeftek di dekat Adirama Beach Hotel itu kerja sama tenaga penyuluh lapangan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Universitas Pendidikan Ganesha (Undhiksa) Singaraja, Kelompok Pencinta Lingkungan Nak Buleleng Maritime Squad (NMS), dan True Scuba Dive Center, Singaraja.

Pada 2018, pemantauan Elvan menunjukkan bahwa terumbu dominan (60%) yang menempel adalah golongan Acropora digitata (ACD). ACD itu terdiri atas terumbu spesies Montipora sp., Pocillopora damicornis, Acropora humilis, Porites sp., dan Acropora sp. Selebihnya (40%) cukup beragam, antara lain golongan Acropora submassive (ACS) dengan spesies Isopora palivera, Coral massive (CM) spesies Porites sp., Platygyra sp., dan Pavona sp., Coral millepora (CME), dan alga hijau spesies Halimeda sp.

Kategori lain adalah jenis sponge dan ascidian. Tingginya keragaman itu membuktikan bioreeftek cocok untuk dilekati berbagai hewan koral. Lekukan dan celah menyediakan perlindungan terhadap arus air maupun predator. Perbanyakan terbaru pada 2018 di pantai Watukenong, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, atas prakarsa lembaga swadaya masyarakat pelestarian lingkungan Misi Bahari.

Ketua Misi Bahari, Aglendy Rois Oktavirdi menyatakan perbanyakan bioreeftek sejak awal 2019. Saat ini ada 30 unit bioreeftek. Glen, panggilan Aglendy, menyatakan sebelum kegiatan itu mereka mengikuti pelatihan di BPOL pada September 2019. Aplikasi dua unit bioreeftek mereka lakukan pada Februari 2019 setelah memetakan beberapa lokasi yang layak. Pada Oktober 2019 mereka menambahkan 30 unit.

Persiapan penenggelaman unit bioreeftek di dekat pantai Watukenong, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. (Dok. Aglendy R Oktavirdi)

Menurut Glen aplikasi bioreeftek untuk meningkatkan biodiversitas ekosistem laut di perairan Situbondo. Sebagai bahan pembelajaran bagi pelajar, masyarakat, dan pemerhati laut, Misi Bahari mempraktikkan transplantasi dan bioreeftek. “Biaya transplantasi hampir dua kali lipat bioreeftek. Saat penenggelaman juga memerlukan upaya lebih banyak karena harus memasang bibit cangkokan,” kata Glen.

Sementara itu kerepotan bioreeftek justru sebelum penenggelaman karena harus membuat dan merangkai unit. Namun, aplikasinya jauh lebih praktis karena tinggal meletakkan di sisi terumbu yang ada. Glen men

yatakan, biaya bioreeftek Rp150.000—Rp200.000, sedangkan transplantasi Rp300.000—Rp400.000. Menurut pehobi selam dan scuba itu, tidak mudah mengumpulkan tempurung kelapa yang tua dan keras dalam jumlah banyak dalam waktu singkat. Mereka sampai memunguti limbah dari penjual es kelapa muda untuk memilih tempurung yang tebal dan keras.

“Kalau hanya membuat 1–2 unit mungkin masih bisa memunguti limbah. Kemarin untuk 30 unit dengan 27 tempurung per unit kami memerlukan 810 tempurung,” katanya. Biaya membeli tempurung sebanyak itu lebih murah ketimbang metode cangkok. Glen menyatakan, unit bioreeftek mulai dilekati larva koral, tapi untuk memindahkan ke tempat baru memerlukan waktu setidaknya empat tahun. Hal itu membuktikan pernyataan Elvan bahwa metode bioreeftek lebih simpel, murah, dan sama efektifnya dengan sistem serupa ala Jepang. (Argohartono Arie Raharjo)

Previous articleLumbung Sejati
Next articleTaktik Empat Batok
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img