Di situ tertera angka gula darah mencapai 574 mg/dl. “Anda terkena diabetes,” vonis dokter. Hati pria 35 tahun itu kian teriris kala paramedis itu menyebutkan kebutaan bisa jadi risiko terburuk. “Padahal anak-anak saya masih kecil,” sambatnya.
Cerita itu bermula dari keluhan gampang lelah, sering berkemih, dan mata rabun yang dialami ayah 2 anak itu. Itu jelas mengganggu aktivitas sebagai kontraktor yang membutuhkan mobilitas tinggi. Tanpa disadari, bobot badan Fitranto susut drastis. “Dalam 2 minggu turun dari 84 kg menjadi 72 kg,” kata pria humoris itu. Sang istri yang curiga akan kondisi kesehatannya, meminta Fitranto untuk memeriksakan diri ke dokter.
Benar saja. Kadar gula darah puasa Fitranto mencapai 574 mg/dl. Padahal, normalnya 120 mg/dl. Menurut dokter pemeriksa kalau tidak segera diatasi, kebutaan bakal menghampiri. Obat-obatan penyokong kesembuhan pun diresepkan. Harga obat melangit membuat Fitranto hanya sanggup menebus 1/4 resep untuk keperluan seminggu. “Mahal sekali. Sekali tebus saja Rp400.000,” keluhnya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kala warga Condongcatur, Yogyakarta, itu resah menggapai kesembuhan, seorang rekan menyarankan untuk mengkonsumsi virgin coconut oil (VCO). Lantaran ingin kembali sehat, tanpa banyak tanya Fitrandi langsung mencoba. Sesondok minyak kelapa murni diuyup 3 kali sehari.
Hasilnya dalam 2 minggu pertama kadar gula darah turun menjadi 300 mg/dl. Sebulan setelah konsumsi nilai gula darah puasa mencapai 92 mg/dl dan 104 mg/dl 2 jam setelah makan. Mata yang semula tidak bisa melihat dekat, kini normal kembali.
Sekresi insulin
Fitranto tidak sendiri. Menurut data yang Trubus kumpulkan, banyak kasus diabetes yang terkontrol setelah penderita mengkonsumsi minyak dara. Sebut saja Zainal Gani—seorang dokter di Malang, Rudy T Bachrie—eksekutif muda di Jakarta, dan Dr Robert Louis Ingle Ph.D, ekspatriat asal Indianapolis, Amerika Serikat.
Harap mafh um, VCO memang memiliki peran besar pada penderita diabetes—terutama tipe II. Penderita diabetes tipe II mengidap penyakit kencing manis lantaran pengaruh gaya hidup, misal pola makan yang tidak benar. Sementara penderita diabetes tipe I lazimnya karena faktor keturunan. Yang disebut terakhir sangat tergantung pada pasokan insulin dari luar—suntik insulin—karena tubuh tidak mampu memproduksi protein itu.
Prof Dr dr Susilo Wibowo, SpAndr—spesialis andrologi dari Universitas Diponegoro, Semarang, menyebutkan minyak dara membantu sekresi insulin di kelenjar pankreas. “Kapasitas insulin yang kurang daripada kebutuhan tubuh memang penyebab utama diabetes,” ungkap Prof Dr Sumali Wiryowidagdo, guru besar Farmasi Fakultas MIPA Universitas Indonesia.
Insulin berperan mengatur kadar gula dalam darah. Kadar gula darah melebihi normal menyebabkan ginjal ikut mengeluarkan gula bersamaan dengan urin. Gula bersifat menarik cairan sehingga volume air kemih berlebihan. Akibatnya penderita kerap berurine. Karena kehilangan banyak cairan, si sakit pun gampang haus. Di lain pihak, glukosa yang terbuang percuma bersama urine menyebabkan tubuh kehilangan energi. Penderita menjadi gampang lelah dan mudah lapar.
Buah merah
Masih menurut Susilo, minyak kelapa murni juga mencegah infeksi yang sering dialami penderita diabetes, mencegah komplikasi, dan membantu mengaktifk an sel yang tidak sanggup menyerap glukosa pada penderita diabetes yang memiliki cukup insulin. Saat sel kekurangan glukosa, maka kebutuhan energi dipenuhi dengan cara memecah protein dan cadangan lemak. Pantas bobot penderita kencing manis gampang merosot.
“Pada kasus diabetes tipe II ada beberapa kemungkinan: hiperinsulin, hiposinsulin, dan normal insulin. Nah, VCO mampu mengendalikan semuanya. Pada kasus kekurangan insulin, VCO membantu sekresi insulin oleh kelenjar pankreas. Sementara mereka yang insulinnya berlebihan atau normal, VCO mengaktifk an sel,” papar dokter di Rumah Sakit Karyadi, Semarang, itu. Konsumsi VCO 3 kali sehari—pagi, siang, dan sore—bukan malam.
Belakangan sebuah riset yang dilakukan oleh Dr Ir M Ahkam Subroto, M.App.Sc, menunjukkan buah merah Pandanus conoideus berpotensi mengontrol gula darah. “Ada 2 strategi pengobatan diabetes, yaitu dipacu produksi insulinnya dan dihambat kerja enzim alpha-glikosidase-nya,” papar Ahkam. Enzim itu berperan untuk mendegradasi karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh menjadi glukosa.
Ketika seseorang penderita tidak mengontrol asupan karbohirat, maka kadar glukosa dalam darah meningkat. Padahal kondisi itu justru mesti dihindari. Bila kerja enzim alphaglikosidase dihambat, proses konversi karbohidrat menjadi glukosa ditekan. Kadar gula dalam darah diharapkan terkontrol. Fungsi itu yang ada di dalam buah merah.
Fungsi berlipat?
Dari penelitian itu, doktor bidang bioteknologi darI Departme t of Biotechnology, University of New South Wales, itu berinisiatif menggabungkan VCO dengan buah merah. Paduan itu disebut pandanus cocos oil (PCO). Dengan begitu mekanisme menginduksi sekresi insulin dan menghambat kerja enzim alpha-glikosidase ada di satu obat. “Ini cocok untuk penderita diabetes yang bandel berdiet,” lanjut peneliti di Puslit Bioteknologi LIPI itu.
Meski demikian, kalangan medis dan periset lain tidak serta-merta mengamini hasil penelitian itu. “Soal buah merah berperan sebagai inhibitor alphaglikosidase saya belum yakin benar. Bukankah paria jauh lebih bagus?” ujar Susilo. Kalaupun itu sudah melalui uji pada mencit, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro itu menyarankan untuk melakukan uji pada manusia. Itu karena beberapa enzim yang bekerja di mencit berbeda dengan enzim yang a d a p ada manusia. Hal senada diungkap oleh Sumali.
Fungsi buah merah y ang hanya menghambat kerja enzim alpha-glikosidase dikhawatirkan menimbulkan ketergantungan. “Karena enzim itu diproduksi terus maka penderita harus minum buah merah terus,” kata ahli farmakologi itu. Itu lain halnya dengan VCO yang mampu meregenerasi sel pankreas sehingga mampu memproduksi insulin.Pada akhirnya nanti asupan minyak dara bisa dilepas.
Sementara bila buah merah digabungkan VCO, Sumali berpendapat , “Pr insipnya penggabungan 2 mekanisme berbeda bisa-bisa saja, tapi mungkin menjadi tidak efi sien. Dengan VCO saja kan sudah cukup, kenapa harus d i g abung kan dengan bahan yang lebih mahal?” Lagipula dikhawatirkan efek “penyembuhan” terlalu drastis, misal kadar gula turun terlalu tajam. Dampaknya penderita bisa mengalami koma.
Toh berdasarkan uji yang dilakukan dan bukti empiris keamanan VCO dan buah merah sebagai pangan, Ahkam yakin PCO aman. “Dengan paduan buah merah dan VCO di satu obat diharapkan apapun penyebab diabetes bisa teratasi,” kata kepala Bidang Biologi Sel dan Jaringan, Puslit Biotek, LIPI, itu. Konsumsi cukup 3 kali sehari 1 sendok makan. (Evy Syariefa/Peliput: Destika Cahyana dan Sardi Duryatmo)
