Saturday, August 13, 2022

Didik Setiawan : Jutawan Anthurium dari Lereng Lawu

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Anthurium, tanaman hias daun, itu betul-betul menjadi tambang emas bagi Didik Setiawan. Pembelinya terus mengalir ke greenhousenyaseluas 500 m2. Ketika ia tengah pergi, misalnya, para karyawannya memandu mereka. Biasanya penikmat anthurium itu mengelilingi greenhouse sembari mengamati sosok yang diincar.

Bila telah menemukan, pemandu menuliskan nama pemesan di atas label. Etiket itu lantas ditempelkan di sisi stiker lain yang tertera harga tanaman. Paling lambat 4 hari, pemesan memboyong anggota famili Araceae itu. Tentu saja setelah membayar sejumlah uang sesuai harga di stiker. Hampir setiap hari dalam 6 bulan terakhir greenhouse ramai dikunjungi peminat anthurium.

Ayah Deni dan Vania itu tak pernah mengikuti pameran atau beriklan untuk menarik konsumen. Oleh karena itu ia sulit menjelaskan membeludaknya konsumen. Pembeli-sebagian besar pedagang-itu tak hanya dari sekitar Surakarta. Mereka juga datang dari Magetan, Kediri, Malang, Magelang, Yogyakarta, bahkan Jakarta. Ketika Trubus ke lokasi greenhouse di Desa Berjo, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, belasan tamu tengah memilih-milih tanaman hias daun itu.

Biji

Dibanding pemain lain, koleksi Didik terbilang lengkap. Didik Setiawan mempunyai 2.000-an anthurium dewasa. Jenisnya beragam seperti black beauty, hookeri, garuda, gelombang cinta, dan jenmanii. Dari total omzet penjualan, 80% disumbangkan oleh jenis jenmanii yang kini tengah digandrungi hobiis.

Dalam sebulan setidaknya puluhan pot anthurium remaja-dewasa terjual. Harga variatif, Rp600.000-Rp15-juta. Didik mengutip margin hingga 200% dengan omzet rata-rata Rp350-juta. Saya juga bingung. Apa di bisnis tanaman hias, orang tak berhenti mencari informasi penyedia anthurium? ujarnya balik bertanya. Tingginya animo masyarakat memelihara anthurium di satu sisi memang berkah bagi Didik. Namun, di sisi lain, Saya pusing. Sekarang mencari barang susah sekali, katanya. Oleh karena itu ia berencana memperbanyak kerabat talas itu dengan biji. Di sekitar Karanganyar, Jawa Tengah, harga sebutir biji anthurium mencapai Rp30.000.

Selama ini perbanyakan generatif-dengan biji-tak dilirik pria kelahiran 16 September 1963 itu. Ia lebih banyak memburu tanaman remaja dan dewasa di nurseri-nurseri di Depok, Tangerang, Jakarta, dan Medan. Kisah perburuan itu dimulai sejak 2 tahun silam. Saat itu kondisi pasar anthurium sepi. Setelah tren anthurium menjulang pada 1990-an, praktis pamor tanaman hias itu merosot.

Sejak kecil

Dua tahun terakhir bunga ekor-julukan untuk anthurium-kalah gengsi ketimbang rekan sefamilinya, aglaonema. Ketika itulah Didik memburu anthurium ke berbagai daerah. Keruan saja harganya masih amat murah. Jenmanii, misalnya, paling pol cuma Rp1-juta. Sekarang? Dengan ukuran dan mutu sama, harga melambung hingga Rp10-juta. Sekali belanja ia menghabiskan Rp100-juta-Rp300-juta. Tanaman hasil perburuan itu dirawat di greenhouse di Berjo.

Mengapa ia memburu anthurium justru ketika tren tanaman hias berkiblat pada aglaonema, adenium, atau euphorbia? Naluri bisnisnya mengatakan, Anthurium mempunyai potensi bisnis yang besar, ujar anak tunggal itu. Banyak yang mengagumi keindahannya. Beberapa pekebun skala kecil di Karanganyar juga menyarankan agar Didik menerjuni bisnis anthurium.

Naluri bisnis pria yang kini menanggalkan hobi berburu itu memang terasah sejak belia. Ketika duduk di bangku SMP, Didik membuka usaha percetakan yang bertahan hingga kini. Sebagai anak yatim-ayahnya meninggal dunia ketika ia berusia 5 tahun-mendorongnya berbisnis sejak muda. Majunya bisnis percetakan justru menghambat belajar hingga kuliahnya di Akademi Bahasa Asing Pignateli mandek.

Saat memutuskan untuk berniaga anthurium, lagi-lagi nalurinya benar. Buktinya tanaman yang baru diboyong dari berbagai kota itu diminati rekan-rekannya, para pemain bunga potong. Maklum, sebelum menggeluti anthurium, penganut vegetarian 6 tahun terakhir itu lebih dulu berbisnis krisan dan gerbera. Hingga kini ia mengelola 9 greenhouse krisan dan sebuah rumah tanam gerbera masing-masing seluas 500 m2. Kedua bunga potong itu dipasarkan di sekitar Solo, Jawa Tengah, memberikan omzet Rp25-juta-Rp40-juta sebulan.

Melambung

Popularitas anthurium seperti tak terbendung. Lihatlah di Berjo, kini berdiri tak kurang dari 200 greenhouse kecil, berukuran 15-40 m2. Padahal, setahun silam di desa di kaki Gunung Lawu itu hanya ada 2 pemain skala kecil. Didik mengisahkan, beberapa petani malah menjual sapi sebagai modal berniaga anthurium. Ia tak menduga bisnis tanaman asal Amerika Tengah dan Selatan itu seramai sekarang.

Menurut Didik ingar-bingar bisnis anthurium terjadi lantaran semua segmen memberikan keuntungan. Bayangkan, harga setandan biji mencapai Rp10-juta-Rp12-juta. Setelah berkecambah, terdiri atas 2 daun harganya Rp70.000. Harga terus membumbung mengikuti umur tanaman. Tanaman yang namanya dipinjam dari bahasa Yunani-anthos berarti bunga dan oura bermakna ekor-itu bagai lokomotif bisnis yang menggerakkan seluruh segmen.

Meski demikian, harga tanaman dewasa dinilai Didik tak wajar. Memang menjual tanaman hias dipengaruhi sosok dan keindahan yang kadang sulit terukur. Namun, Pemain pasti tahu standar harga yang semestinya, kata pemilik Nurseri Deni. Itulah sebabnya, Didik terus memperkenalkan jenis lain agar konsumen tak hanya memburu spesies tertentu. Tujuannya agar umur bisnis anthurium panjang sehingga ia lebih lama mencecap manisnya berbisnis si bunga ekor. (Sardi Duryatmo/Peliput: Syah Angkasa)

 

Previous articlee-book untuk Member
Next articleExtensions
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img