Friday, August 12, 2022

Diincar! Kelingking Putri

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Itu belum termasuk pendapatan dari penjualan anthurium bunga di berbagai gerai yang tersebar di seluruh Indonesia. Menurut Teguh Sugiarto, general manager EGF, total volume penjualan kelingking putri saat ini 10.000 pot/bulan. Itu naik 3,3 kali lipat dibanding penjualan awal 2008 yang hanya 3.000 pot/bulan.

Manisnya penjualan anthurium bunga juga dirasakan nurseri Oasis Sentul dan nurseri Wijaya di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Menurut Ridwan Jajuli, bagian pemasaran Oasis Sentul, volume penjualan kerabat aglaonema itu 100 pot per bulan sejak Februari 2009.

Di nurseri Wijaya penjualan lebih tinggi lagi. Sejak 3 – 4 bulan terakhir, terjual 600 – 700 pot per bulan. Menurut Gunawan Widjaja, pemilik nurseri, sepot berisi 3 tanaman sehingga terlihat rimbun dan kompak. Harganya dibanderol Rp100.000.

Harga terjangkau

Larisnya penjualan anthurium bunga dalam pot di ajang pameran dan nurseri itu karena tanaman dijual dalam kondisi berbunga. ‘Sosoknya cantik karena dalam 1 pot tunggal berbunga 3 – 4 buah,’ kata Teguh. Pilihan warna pun beragam. Sebut saja pico bello yang berbunga putih dan baleno yang merah muda. Ada pula pistache, hijau; saxo, merah-hijau; dan treveri, merah. Harganya terjangkau, Rp25.000 – Rp35.000 per pot isi 1 tanaman dan Rp45-ribu – Rp55-ribu per pot terdiri atas 2 tanaman.

Menurut Teguh penjualan anthurium bunga mulai menanjak sejak awal 2009. Itu seperti hendak mengulang kejayaan 2 tahun silam. Pada 2007 EGF – yang juga mengembangkan anggrek bulan dan dendrobium – mampu menjual 15.000 pot flamingo flower isi 2 tanaman per bulan. Menurut Dani Ardiansyah, pekebun di Wonosobo, Jawa Tengah, saat itu penjualan anthurium bunga dalam pot dipengaruhi tren anthurium daun yang tengah berjaya.

Ketika tren anthurium daun turun pada 2008, penjualan anthurium bunga pun ikut turun. Itu yang dirasakan Nurhayati Hadiba – penyilang dan pekebun anthurium bunga di Yogyakarta. ‘Pada 2007 terjual 30 pot anthurium bunga per minggu sedangkan kini hanya 10 – 20 pot/minggu,’ kata alumnus Jurusan Pemuliaan Tanaman, Universitas Gadjah Mada itu. Menjelang pertengahan 2009, sedikit demi sedikit penjualan mulai naik. EGF mencatat penjualan 10.000 pot per bulan.

Selain dipengaruhi tren tanaman hias lain, penjualan anthurium bunga juga dipengaruhi cara menampilkan tanaman. ‘Anthurium bunga terlihat menarik jika dipajang dalam jumlah banyak dan dikelompokkan berdasarkan warna,’ ujar Teguh. Contohnya, 10 pot anthurium bunga berwarna merah dipajang dalam 1 kelompok dan di sampingnya 10 pot berbunga putih. Di sebelahnya di pajang pula 10 pot berbunga merah muda atau hijau.

Bunga potong

Sebetulnya bukan hanya anthurium bunga dalam pot yang penjualannya mulai terkerek naik. Penjualan anthurium bunga potong pun meningkat. Sebut saja PT Melrimba Sentra Agroutama (MSA). Sejak awal Mei 2009 penjualan anthurium bunga potong meningkat ketimbang 2 bulan silam. ‘Saat ini bunga yang turun dari kebun langsung habis terjual tak bersisa,’ kata Andri Prabowo, marketing manager MSA. Sejak awal Mei, terjual 150 ikat – isi 5 tangkai – bunga anthurium potong per minggu.

Dengan harga Rp7.500/ikat untuk bunga berukuran mini – diamenter 5 cm – dan Rp16.500/ikat untuk ukuran XL – lebih dari 12 cm – omzet penjualan anthurium dari perusahaan yang juga mengembangkan phalaenopsis dan lili itu minimal Rp1,2-juta/minggu.

Dani di Wonosobo juga merasakan berkah seperti MSA. Hasil panen 60 tangkai bunga per bulan dari lahan sempit, 50 m2, langsung diburu pembeli dari Semarang. Dengan harga jual Rp3.000 – Rp4.000 per tangkai pendapatan sampingan Dani Rp240.000/bulan. ‘Berapa pun produksi siap ditampung mereka,’ kata Dani.

Pekebun baru anthurium bunga di Wonosobo pun bermunculan sejak 2 tahun silam. Menurut Dani di sana ada sekitar 20 pekebun anthurium bunga potong. Itu sejalan pencanangan jalur Wonosobo, Bandungan, dan Temanggung sebagai jalur bunga.

Musim pesta

Menurut Rafael Hiu, pemilik Omniflora di Surabaya, Jawa Timur, secara umum penjualan dan permintaan anthurium bunga potong naik dari tahun ke tahun. Hanya saja jumlahnya berfluktuasi pada bulan-bulan tertentu. ‘Saat musim pesta volume penjualan naik, sebaliknya saat bukan musim pesta turun,’ kata alumnus Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Kristen Petra, itu. Musim pesta untuk kalender Jawa ialah Rajab, Ruwah, dan Bada atau Syawal. Pada kalender China ialah saat sembahyang kubur di bulan 4 dan 7.

Di Surabaya sepanjang 2006 – 2008, Rafael menjual 4.000 – 5.000 tangkai per bulan di musim pesta. Bandingkan dengan 2003 – 2005 yang hanya 2.000 tangkai per bulan di musim sama. Di luar musim pesta penjualan separuhnya. Setangkai anthurium bunga dibanderol Rp4.000 – Rp6.000.

Andri sepakat dengan Rafael. Menurutnya selain pesta kalender Jawa dan China, pada Desember dan Januari pun permintaan anthurium bunga potong cukup banyak. ‘Itu perayaan Natal dan Tahun Baru,’ kata Andri.

Menurut Rafael peningkatan penjualan setiap tahun karena kian banyak perangkai menggunakan anthurium bunga sebagai ornamen. Itu karena anthurium bunga tahan lama, 3 – 4 minggu. Bandingkan dengan krisan dan gerbera yang berumur kurang dari seminggu. Anthurium bunga dalam pot atau potong pun kini tengah jadi incaran. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img