Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong diversifikasi produk hilir berbasis sawit untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri nasional. Sawit dinilai perlu tidak hanya dipandang sebagai komoditas, tetapi sebagai bahan baku untuk menghasilkan beragam produk bernilai ekonomi tinggi.
Kepala Pusat Riset Teknologi Proses BRIN, Hens Saputra, mengatakan pengembangan industri sawit perlu bergeser dari orientasi pada besarnya produksi menuju penciptaan nilai tambah. Menurutnya, teknologi dan inovasi menjadi kunci untuk memperluas pemanfaatan sawit ke berbagai sektor industri.
Hal itu dibahas dalam Sharing Session #18 Tahun 2026 bertajuk “Perluasan Diversifikasi Produk Hilir sebagai Strategi Penguatan Industri Sawit Indonesia” yang digelar Pusat Riset Teknologi Proses BRIN secara daring pada 4 September 2026. Kegiatan menghadirkan Perekayasa Ahli Utama BRIN Indra Budi Susetyo dan Direktur Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia Jenny Elisabeth.
Indra mengatakan industri sawit memiliki peran strategis karena melibatkan lebih dari 17 juta tenaga kerja secara langsung maupun tidak langsung. Jika anggota keluarga diperhitungkan, sektor tersebut berdampak terhadap lebih dari 50 juta masyarakat.
Menurut Indra, karakteristik kimia minyak sawit membuka peluang pengembangan berbagai produk turunan. Saat ini pemanfaatan minyak sawit masih didominasi sektor pangan dan energi, sementara penggunaan untuk oleokimia dasar, perawatan diri, kosmetik, pelumas, hingga material berbasis polimer masih dapat diperluas.
Pengembangan produk hilir membutuhkan penguasaan teknologi dan riset yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Karena itu, BRIN menggagas pembentukan Center of Excellence for Oleochemicals (CoE Oleokimia) untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi berbasis minyak sawit.
Gagasan tersebut diinisiasi Kelompok Riset 8 Teknologi Proses Produk Tanaman Industri Pusat Riset Teknologi Proses BRIN. CoE Oleokimia diharapkan mempertemukan peneliti, perguruan tinggi, infrastruktur riset, dan industri untuk mempercepat pengembangan teknologi serta produk oleokimia.
Selain oleokimia, sektor pangan juga masih memiliki peluang diversifikasi yang besar. Jenny Elisabeth menyebut lebih dari 70% minyak sawit secara global digunakan untuk produk pangan, antara lain minyak goreng, margarin, shortening, produk roti, confectionery, serta pengganti lemak susu dan cocoa butter.
Riset diperlukan untuk menghasilkan produk pangan berbasis sawit yang efisien, memiliki fungsi sesuai kebutuhan, aman, dan mampu menjawab tuntutan kesehatan konsumen. Pengembangan juga perlu memperhatikan pengurangan trans fat, pengendalian kontaminan, serta aspek keberlanjutan.
Kolaborasi BRIN, perguruan tinggi, dan dunia usaha menjadi kunci dalam mempercepat diversifikasi produk hilir sawit. Penguatan ekosistem riset dan industri diharapkan mampu memperluas pemanfaatan minyak sawit sekaligus meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri oleokimia Indonesia.
Sumber: https://www.brin.go.id/news/130300/diversifikasi-produk-hilir-perkuat-nilai-tambah-industri-sawit
