lm berseri Sun Go Kong yang pernah ditayangkan di salah satu stasiun penyiaran lokal itu sejak lama meneguhkan keinginan Djadjuli memiliki kera putih. Dari hutan di kawasan Caruban, Madiun, Jawa Timur, asa itu terkabul sejak 2 tahun lalu berkat kedatangan sepasang kera albino.
Macaca fascicularis albino itu diperoleh setelah Djadjuli kasakkusuk mencari selama lebih dari 3 tahun. Sepasang kera albino bermata merah itu tidak diperoleh bersamaan. Kera pertama berjenis kelamin betina didapat pada Februari 2003. Kera yang ditangkap saat berumur 3 bulan itu diperoleh dari hutan di kawasan Caruban. “Saya beli seharga Rp10-juta dari penangkapnya,” ujar Djadjuli. Saking gembira memiliki koleksi langka itu, setiap ada waktu luang, kelahiran Yogyakarta 5 Juli 1942 itu asyik masyuk bercengkerama hingga larut malam.
Keasyikan itu kian bertambah berselang setahun. Tak disangka, seekor kera putih jantan didapat lagi di lokasi sama. Djadjuli merogoh Rp10-juta untuk menebus monyet berumur setahun itu. Kedua primata berbeda umur itu kini dipelihara dalam kerangkeng besar berukuran 2 m x 2 m x 3 m. “Keduanya jinak dan mau bermain bersama,” tutur pemilik usaha bahan bangunan terbesar di kota Gudeg itu.
Berburu albino
Kegemaran Djadjuli mengumpulkan satwa unik tidak hanya terbatas pada kera putih. Di halaman belakang rumah di Yogyakarta seluas 200 m2, sekitar 20 satwa unik lain ada di sana. Koleksi itu dikumpulkan sejak 1980-an. “Ada kenikmatan tersendiri kalau bisa mengumpulkan satwa unik terutama albino,” papar Djadjuli.
Koleksi pertama Djadjuli adalah jenis bulus albino. Bulus yang didapat dari anak cabang Sungai Kaliprogo itu dibeli seharga Rp50.000. “Harga itu pada zamannya sudah sangat tinggi,” ujar suami Retno Juwita itu. Bulus yang kini umurnya mencapai 25 tahun itu dipelihara dalam bak semen berukuran 3 m x 2 m di samping halaman rumah.
Dua tahun berselang koleksinya bertambah lagi dengan kehadiran seekor kutilang albino. Sayang, Pycnonotus aurigaster yang dibeli seharga Rp1,5- juta itu kini sudah mati. Padahal, ia salah satu kesayangan lantaran gacor bersuara. Sebagai gantinya seekor trotoan albino berhasil dikoleksi dari pemburu burung di Yogyakarta. Burung mirip branjangan itu dibeli seharga Rp1-juta.
Hingga pertengahan 1990-an, koleksi satwa albino lebih banyak didominasi burung. Sebut saja kehadiran burung raja udang albino dan burung tengkek. Untuk menebus kedua burung itu Djadjuli harus merogoh kocek Rp3-juta. Semua burung dipelihara dalam sangkar soliter. Agar nyaman mereka diletakkan di gantangan yang disusun mengitari halaman belakang.
Merambah ke ikan
Karena sibuk menjalankan usaha, tak semua klangenan bisa diawasi setiap waktu. Buntutnya kejadian pahit pernah dialami ayah 4 putra itu. Pada Oktober 2000, sepasang kutilang albino yang dibeli seharga Rp2-juta, hanya meninggalkan sisa-sisa jeroan saat ditengok pagi hari. Kedua burung itu menjadi santapan tikus lantaran ditaruh di dalam gudang.
Kejadian lain meski tidak menyebabkan kematian sang klangenan kadang terjadi. “Biasanya karena keteledoran yang merawat,” ujar Djadjuli. Bulus albino misalnya, nyaris meregang nyawa pada akhir 2001 lantaran air di bak sempat berhari-hari kering. “Sudah kayak mati saat dilihat. Sejak itu saya selalu mengecek lewat telepon bila tidak di rumah,” paparnya.
Jumlah koleksinya belakangan kian bertambah lagi setelah Djadjuli melirik ikan unik. Dua buah akuarium berukuran 1,5 m x 90 cm x 90 cm di teras rumah kini dihuni arwana platinum dan arwana bercorak cokelat. Kedua siluk yang diperoleh dari kolektor di Jakarta pada Januari 2005 itu ditebus Rp75-juta. Untuk melengkapi koleksi ikan unik, beberapa even ikan hias internasional seperti Aquarama di Singapura pun kini rajin disambangi. Meski belum menemukan jenis yang berkenan di hati.
Untuk merawat seluruh koleksi, Djadjuli mempercayakan pada 2 pekerja. “Semua tidak dipelihara secara khusus,” ujar Djadjuli. Bagi Djadjuli koleksi yang dimilikinya merupakan kesenangan yang harus dibagi. Tak heran bila ia sering mengajak rekan-rekan bisnisnya melihat semua koleksi uniknya, terutama sepasang Sun Go Kong yang sangat disayangi. (Dian Adijaya S)
Ganswed Cattery Juragan Kucing Mantan Pengontrak Rumah
Tujuh belas tahun lalu Suwed hanyalah seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Pembangunan Nasional Veteran di Yogyakarta. Waktunya dihabiskan untuk belajar dan bekerja serabutan. Kini namanya berkibar sebagai pemilik cattery persia bermutu. Dari rumah seluas 1.300 m2, bermunculan persia-persia bermutu yang dikirim ke seluruh Indonesia dan mancanegara. Semua berawal dari kebaikan hati seorang dokter yang memberinya seekor angora calico.
Kucing berwarna black tortie dan white itulah yang mengubah nasibnya. Angora betina yang dijumpai di rumah dokter gigi keluarga sangat memikat hatinya. Demikian kentara jatuh hatinya Suwed pada si bulu panjang itu sehingga sang dokter dengan senang hati menyuruh Suwed membawa angora itu pulang.
Hati Suwed berbunga-bunga. Monti, nama angora itu, langsung diboyong ke rumah kontrakan. Setiap hari ia memberi ikan segar untuk santapan si meong. Ketelatenan Suwed terdengar oleh pamannya yang baru saja membeli 3 persia di Singapura. Jadi, Suwed diberi kepercayaan merawat seekor persia biru. Awalnya pria berusia 36 tahun itu keberatan. “Pakannya dry food dan harganya mahal.” tuturnya. Untunglah sang paman bersedia memasok pakan setiap kali dibutuhkan.
Minot, nama persia biru itu, akhirnya kawin dengan Monti. Perkawinan itu bagaikan putaran roda kehidupan bagi Suwed. Anak-anak yang lahir dari pasangan kucing pemberian orang itu ternyata diminati rekannya. Suami Jalilah Ganis itu menjual anakan-anakan itu dengan harga Rp500.000 per ekor. Uang yang diterima dipakai untuk membeli pakan.
Keseriusan Suwed kembali menggugah hati pamannya. Kembali ia diminta merawat 2 persia lain. Empat kucing dewasa itulah sumber anak pinak persia lain. Kamar seluas 2 m x 3 m yang dikosongkan untuk mereka terasa sempit. Memperbesar kamar itu pun tidak mungkin lantaran luas rumah kontrakan hanya 100 m2. Toh, 7 tahun mencurahkan kasih sayang pada persia berbuah madu. Hasil penjualan sekitar 1.000 longhair anakan memadai untuk membeli rumah seluas 250 m2 di Yogyakarta.
Ikut komunitas
Nun jauh di Jakarta, Suwed mendengar ada wadah pecinta kucing bernama CFI, Cat Fancy Indonesia. Pada 1998 ia pun bergabung. Jarak Jakarta—Yogyakarta yang lumayan jauh ternyata merepotkan keinginannya untuk aktif berorganisasi. Jadi, ia memutuskan memboyong anak, istri, dan 20 persia ke Ciawi, Bogor.
Setelah 1 tahun bergaul dengan komunitas pecinta kucing, pada 1999 Suwed membuat cattery yang diberi nama Ganswed, singkatan Ganis—nama istri dan namanya, Suwed. Saat itu jumlah persianya mencapai 50 ekor. Rumahnya pun bertambah luas, menjadi 1.300 m2.
Sejumlah 300 m2 disediakan khusus untuk persia. Dibaginya tanah itu menjadi beberapa ruangan. Ruang bersalin diletakkan dekat kamar tidur agar ia bisa secepat mungkin menangani kucing yang akan melahirkan. Ruang menyusui diperuntukkan bagi anakan yang belum di sapih—masih disusui induknya. Kamar anakan disediakan bagi kitten berumur 2,5—10 bulan. Lepas dari kamar anakan kucing dimasukkan ke ruang dewasa. Di ruang seluas 3 m x 5 m itu banyak tersedia mainan, seperti tali yang digantungkan, kursi kecil, meja bermain, dan bola.
Ruang pemacakan—kawin—disediakan terpisah. Kucing yang sedang birahi dimasukkan ke sana. Ruang isolator berada di lantai 2. Tempat itu dipakai untuk kucing yang sedang sakit. “Agar kucing lain tidak tertular,” ujar pria kelahiran Februari 1999 itu. Maklum, penularan penyakit pada kucing sangat cepat.
Kamar terakhir yang ia buat ialah ruang karantina. Tempat khusus itu disediakan karena ia mulai mengimpor kucing dari luar. Kucing dari negara lain harus beradaptasi selama 2—4 minggu dalam ruang tersebut. Maklum, tingkat stres yang tinggi membuat mereka lebih gampang sakit jika langsung disatukan dengan kucing lain.
Impor
Suwed memang gencar mendatangkan kucing mancanegara. Pilihan pertama jatuh ke Malaysia. Negeri Jiran itu terkenal sebagai gudang kolektor kucing terbaik di Asia. Uang sejumlah Rp200—juta ia kucurkan untuk memboyong 15 persia malaysia.
Dengan indukan rata-rata sekualitas peraih best in show, kualitas anakan persia Suwed kian meningkat. Bahkan kini mutu kucingnya boleh disejajarkan dengan cattery di negara asalnya. Pelanggan pun kian bertambah: Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Kalimantan Timur, Lampung, dan Palembang adalah tempat-tempat yang pernah ia kirimi persia.
Usaha Suwed kian berkembang, sehingga Malaysia kini bukan tujuan utama perburuan kucing berkualitas. Ia mulai melirik Eropa dan Amerika. Dua tempat itu memang lumbung persia bermutu. “Sasaran saya kucing penyandang gelar champion atau grand champion,” ujar Suwed menambahkan.
Enam bulan terakhir Suwed mendatangkan 10 persia seharga Rp35-juta—Rp50-juta per ekor dari Cacang Efendi—importir kucing di Kalimalang, Bekasi. Semua kucing yang diimpornya berkualitas setara dengan Flash, persia red and write asal Kanada. Flash, penyandang gelar grand champion di negaranya kini menjadi penghuni Ganswed.
Kini, sarjana Ekonomi yang dulu mengontrak rumah seluas 100 m2, menjelma menjadi pemilik cattery handal. Usai sudah kisah meminta paman membelikan pakan kucing. (Dewi N Permas)
