Sunday, August 14, 2022

Dokter Polisi di Kebun Durian

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Dengan pernyataan itu artinya Rp6- juta penghasilan yang biasa didapat setiap kali praktek hilang. Namun, AKP drg Legawa Hamijaya seperti tak acuh. Ia malah memilih pergi ke kebun durian. ‘Kalau itu rezeki saya, tidak akan lari ke mana. Mereka (para pasien, red) sangat fanatik, besok sore pasti akan kembali,’ jawabnya ringan. Legowo-begitu pria bertubuh gempal itu disapa-memang punya profesi ganda. Selain bertugas sebagai dokter di Kepolisian, ia menggeluti agribisnis.

Dunia pertanian bagi Legowo bukan barang baru. Ayahnya di Yogyakarta yang mengelola beberapa hotel mempunyai puluhan hektar tanaman salak. Jadi, meski kuliahnya di kedokteran gigi, perkembangan pertanian tak luput dari perhatian. Apalagi setiap bulan ia rutin membaca majalah Trubus yang diakui banyak menampilkan kisah sukses petani-petani di dalam dan luar negeri.. ‘Komoditas-komoditas yang potensial dikembangkan pun diperkenalkan di majalah,’ ujarnya.

Selepas lulus dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada pada 1999 dengan mendapat predikat lulusan 5 tercepat-ditempuh selama 5 tahun-Legowo masuk pendidikan PPSS (Perwira Polisi Sumber Sarjana) di Semarang. Pada 2000 pemerintah langsung menempatkannya sebagai dokter polisi di Provinsi Lampung. Hari-hari Legowo di Bumi Ruwa Jurai itu tentu dilalui dengan kesibukan melayani sesama anggota polisi dan masyarakat umum. ‘Pulang malem terus, malah kadang sampai pagi karena harus memvisum mayat,’ tutur kelahiran Yogyakarta 7 Januari 1975 itu.

Namun, naluri bisnis bungsu dari 8 bersaudara itu tidak bisa disembunyikan. Ketika melihat pasokan sayuran di pasar-pasar seputaran Bandarlampung kurang, di benaknya langsung terbersit niat untuk menjadi petani. Dengan lahan sewaan ia sempat beberapa kali menanam caisim, pakcoy, dan cabai, sebelum akhirnya diputuskan untuk ditinggalkan. ‘Tanaman sayuran harus ditangani intensif, sementara saya tidak punya banyak waktu. Lagi pula harga fluktuatif,’ imbuhnya.

Beli kebun

Tak berhasil mengatasi keterbatasan waktu, pemuda yang piawai memainkan berbagai alat musik tradisional Jawa dan modern itu mengubah strategi. Legowo menganalisis, ‘Sayuran potensial diusahakan, tapi yang cocok bagi saya mungkin tanaman tahunan, seperti buah-buahan.’ Minat ke arah itu sebetulnya sudah muncul sejak kedatangan di Lampung. Mata bisnis pehobi renang itu mengincar lahan di perbukitan yang berjarak sekitar 10 km dari rumah, tepatnya di daerah Sukadanaham.

Di lokasi itu tumbuh beragam tanaman buah-buahan, termasuk durian yang menjadi buah unggulan Lampung. Bahkan dari sanalah durian-durian enak berasal. Motivasi Legowo untuk menguasai lahan kian besar. Kebetulan, rezeki dari buka praktek di rumah cukup untuk menutup 10 hektar lahan yang ditawarkan pemiliknya,

Rp17-juta/ha. Kebun yang dibeli awal 2001 itu berisi tanaman kakao mencapai luasan 6 ha (4 hektar sudah berproduksi), durian 2 hektar, dan sisanya 2 hektar, campur aduk: ada alpukat, kelapa, petai, cengkih, singkong, dan tanaman semusim seperti padi dan ubijalar.

Kala musim panen, ‘Saya senang bisa mengundang teman-teman kantor dan karib kerabat untuk makan buah-buahan sepuasnya di kebun,’ tutur Legowo. Dokter yang minikahi Retno Anmi pada 2002 itu belum berniat menjual hasil kebun dengan alasan perlu promosi dulu. Toh menurutnya untuk makan bisa mengandalkan gaji sang istri yang berprofesi dokter umum di sebuah rumasakit di Lampung.

Barulah sejak 2003, seiring dengan aliran biaya yang dikeluarkan untuk membenahi kebun, Legowo mulai mengeksploitasinya. Ia menempatkan 2 karyawan yang bertugas merawat kebun dengan sistem bagi hasil. ‘Lumayan, tidak sekadar menutup biaya, tapi ada kelebihan,’ ucapnya. Bagaimana tidak, setiap tahunnya dari kakao diperoleh pemasukkan bersih Rp12-juta-Rp15-juta, durian Rp18-juta, dan cengkih Rp14-juta. Itu belum termasuk penjualan dari petai, alpukat, dan kelapa.

Fokus ke durian

Yang menggembirakan, mania-mania durian di Lampung kian mengenal kualitas durian dari kebunnya. Oleh karena itulah dengan bermodal 160 pohon durian jenis lokal berumur 20-30 tahun, Legowo membangun kios di depan rumah dan sekaligus membuka kebunnya untuk dikunjungi para penikmat raja buah itu. Embel-embel durian jatuhan dan dijual dengan harga kiloan, Rp5.000/ kg, Lembah Durian-nama farm-nya-ramai dikunjungi saat musim buah tiba.

‘Banyak sekali yang datang, sampai-sampai ada yang tidak kebagian,’ kata ayah 2 putra itu. Harap mafhum durian yang jatuh tidak bisa diatur. Jika sudah begitu mereka rela menginap, menunggu sampai buah berduri tajam itu jatuh. Pernah kejadian seorang konsumen fanatik dengan membawa tenda dari rumah, menginap sehari semalam di bawah pohon demi sebutir siawi. Siawi salah satu jenis durian yang diunggulkan memang sangat istimewa. Daging kuning, kering, berasa manis legit, dan daging lembut. Padahal, menurut Legowo minimal ada 6 jenis lain yang tidak kalah enak. Sebut saja sikoneng, siorens, dan silodong.

Atas dasar itulah pria yang kerap mengikuti pelatihan budidaya durian dan 3 kali studi banding ke Thailand itu akan lebih serius menangani durian. Kalau selama ini pemupukan dan pengendalian hama penyakit dilakukan apa adanya, ke depan ditingkatkan. Dengan begitu tingkat kerontokan buah bisa ditekan, sehingga akan lebih banyak lagi buah-buah beraroma tajam itu yang bisa dijual. Legowo menghitung ketika buah baru seukuran telur jumlahnya tidak kurang dari 6.000 butir, tapi yang bertahan hingga matang cuma 2.000 butir.

Perluasan areal penanaman pun tengah direncanakan. Tanah-tanah di sekeliling kebun sedikit demi sedikit dibebaskan serta bibit-bibit durian unggul lokal dari berbagai daerah dikumpulkan. ‘Saya pilih durian lokal sesuai permintaan pasar. Monthong di Lampung kurang laku. Dulu hanya saya bagi-bagikan ke teman,’ katanya. Menurutnya pangsa pasar durian sangat besar sehingga ia tidak takut kesulitan pasar, ‘Asal berkualitas dan dipanen jatohan, konsumen datang sendiri ke kebun.’

Ilmu polisi

Keberhasilan Legowo beragribisnis tidak lepas dari ilmu polisi yang diterapkan. Kebunnya aman dari penjarahan dan para pekerja tetap loyal meski kegiatan sehari-hari tak ditangani langsung. Kuncinya? Ia mengutarakan, membawa-bawa teman sekantor ke kebun bukan tanpa maksud. ‘Di sini masih banyak preman. Tapi kalau sekompi orang-orang berpakaian cokelat (polisi, red) sering mondar-mandir di kebun, apa mereka tidak takut?’ tuturnya. Ia juga tak segan-segan menyebar intel jika ada 1-2 butir durian dicuri, supaya si pelaku jera.

Menurut Legowo, intel itu juga disebar untuk mengawasi pekerja. Banyak kasus penyelewengan penggunaan pupuk di kebun-kebun tetangga oleh pekerjanya. Seyogyanya 2 kuintal pupuk diaplikasikan pada tanaman, tapi karena merasa tidak ada yang mengawasi hanya dipakai separuhnya. Separuhnya lagi masuk kantong alias dijual. Akibatnya fatal, tanaman tidak bisa berbuah optimal, pemasukan sedikit, lama-lama kebun ditutup. Padahal, ‘Biaya yang dikeluarkan untuk intel tidak seujung kuku dibanding kerugian yang ditimbulkan,’ kata polisi yang punya keahlian berkuda itu.

Para pekerja di Lembah Durian bisa loyal dan produktif, ‘Itu juga ilmu polisi,’ lanjut Legowo. Mantan penari di Keraton Yogyakarta itu membuat loyal para pekerja dengan menepati apa-apa yang sudah disepakati bersama-misal soal bagi hasil-membantu saat keluarganya ditimpa musibah, dan ditanamkan kebanggaan pada diri masing-masing pekerja. Makanya, embel-embel dokter selalu melekat ketika menyebut kebun yang sering dipakai berkemah anak-anak Sekolah Dasar itu: ‘Kebun durian dr Legowo’. Merawat durian di seorang yang berprofesi dokter bagi pekerja punya nilai prestisius tersendiri.

Nah, untuk memacu produktivitas, perwira menengah dari batalion Wira Dharmasthi itu selalu menghindari hubungan terlalu akrab antarsesama pekerja. Ia ciptakan persaingan dengan cara ‘mengadu domba’, tapi terkendali. Misalnya sesekali mengajak salah satu pekerja makan di tempat mewah. Saat itu pula dikorek informasi dengan mengumpan ‘bola’ asutan yang seolah-olah dilontarkan pekerja yang tidak diajak makan. Dengan cara itu potret keseharian aktivitas di kebun terlihat dan masing-masing pekerja akan giat bekerja karena khawatir dilaporkan.

Pantaslah banyak pelaku agribisnis yang meraih sukses justru tidak berlatar belakang ilmu pertanian, seperti AKP drg Legowo. Di kantornya ia lebih dikenal sebagai pekebun duren, tapi di kebun duren juga disegani karena bisa mengangkat senjata. Yang penting tidak diumpat pasien yang tak tahan menahan sakit giginya karena harus menunggu sampai besok. (Karjono)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img