Wednesday, September 28, 2022

Dokter pun Minum Herbal

Rekomendasi
Mengonsumsi herbal menjadi gaya hidup terutama saat pandemi korona.(foto : dok. Trubus)

TRUBUS — Pandemi korona belum berakhir. Tiga dokter rutin mengonsumsi herbal untuk menjaga stamina.

Meski kerap meresepkan obat sintetis kepada pasien, beberapa dokter rutin mengonsumsi herbal untuk menjaga kesehatan tubuh. Dokter yang berpraktik di Jakarta Timur, dr. Agnes Sukenty Niken Puspitarini mengonsumsi 1—2 gelas herbal berbeda saban hari. Tergantung kebutuhan pada hari itu. Niken mengonsumsi beras dan rimpang kencur Kaempferia galanga ketika merasa pegal dan linu.

Ia meramu seduhan daun sambilata Andrographis paniculata, meniran Phyllanthus niruri, dan empon-empon seperti jahe Zingiber officinale untuk menghangatkan tubuh. Terutama ketika tubuh meriang seperti hendak terserang flu dan demam. Niken kadang mengolah rebusan temulawak Curcuma xanthorrhiza sebagai upaya menyehatkan lever. “Jamu masih sejalan dengan ilmu kedokteran yang bisa diterapkan bersama,” kata dokter alumnus Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Jakarta, itu.

Buatan sendiri

Niken memang gemar mengonsumsi herbal. Ia juga menyajikan herbal untuk keluarga sejak 2017. Sejatinya mengonsumsi herbal sebagai tindakan preventif. Sayangnya edukasi pemanfaatan herbal di Indonesia masih minim. “Bahkan mayoritas masyarakat Indonesia belum mengetahui herbal sebagai pengobatan penyakit atau sebagai pendamping terapi dokter. Mereka mulai menyadari gaya hidup sehat dengan herbal saat pandemi,” kata perempuan kelahiran Juli 1974 itu.

Lebih lanjut ia menuturkan herbal merupakan warisan yang harus dilestarikan. Oleh sebab itulah, Niken mengolah dan memproduksi herbal menyesuaikan perkembangan zaman dengan mendirikan PT Ingpawon Sukses Selaras. Perusahaan itu memproduksi aneka bentuk olahan herbal seperti sirop, minuman serbuk instan, puding, selai, dan makanan sehat. Chief Executive Officer (CEO) PT Ingpawon Sukses Selaras itu berharap dapat menarik minat golongan milenial.

Rekan sejawat Niken, dr. Prihatsari Yudha Ningrum juga rutin mengonsumsi herbal buatan sendiri. Prihatsari rutin mengonsumsi daun sambilata, kunyit Curcuma longa, temulawak, biji jintan hitam Nigella sativa, dan madu. Yang disebut terakhir untuk memberikan rasa manis. Dokter yang praktik di Jakarta Timur itu mengonsumsi kombinasi herbal itu dua kali sehari.

Habbatussauda atau jintan hitam meningkatkan daya tahan tubuh.

Jadwal minum pada pagi sebelum sarapan dan malam sebelum makan masing-masing 150 ml. “Habbatussauda atau jintan hitam bermanfaat meningkatkan daya tahan tubuh, sedangkan sambilata dan meniran melancarkan peredaran darah,” kata perempuan kelahiran Januari 1976 itu. jintan hitam bekerja meningkatkan jumlah dan aktivitas sel imun. Itulah sebabnya tanaman anggota famili Ranunculaceae itu jagoan menjaga tubuh tetap bugar.

Sebetulnya Prihatsari dan suami mengonsumsi herbal sejak di bangku sekolah dasar. Hal serupa diterapkan kepada ketiga anak. “Anak-anak belum rutin. Kecuali jika kesehatan mereka bermasalah. Kadang saya mengombinasikan obat medis dan herbal,” kata perempuan berumur 45 tahun itu. Selain Niken dan Prihatsari, Mayor Kesehatan dr. Agnes Minarni, Sp.An (K) pun mengonsumsi herbal sejak pandemi korona melanda Kota Wuhan, Tiongkok.

Sejalan riset

Mayor Kesehatan dr. Agnes Minarni, Sp.An (K) mengonsumsi herbal sejak pandemi korona melanda Kota Wuhan, Tiongkok.

“Saya merasa rempah-rempah yang saya minum membantu mempertahankan daya tahan tubuh. Sebelum rutin mengonsumsi herbal, saya mudah terserang flu bila kelelahan. Kini tidak lagi,” kata dokter yang berpraktik di Rumah Sakit TNI AU (RSAU) dr. Esnawan Antariksa, Jakarta, itu. Agnes mengonsumsi satu gelas bervolume 150 ml yang berisi kombinasi kunyit, jahe, dan kayu manis. Ketiga herbal itu menjaga sistem imun. Setiap bahan memiliki sifat antiinflamasi, imunostimulan, dan pengencer darah.

Ia menambahkan kencur jika ada batuk. Jadwal minum herbal 1—2 kali sepekan. Begitu banyak riset yang menyatakan herbal menjaga daya tahan tubuh. “Salah satu riset oleh Sordillo and Helson pada 2015 menyatakan kurkumin mampu berikatan dengan reseptor protein SARS-CoV 2 melalui ikatan dengan domain protease (6Lu7) dan spike glikoprotein. Ikatan itulah yang berpotensi menghambat aktivitas Covid-19,” kata alumnus dokter spesialis anestesiologi, Universitas Indonesia, itu. Agnes menyadari Covid-19 bukanlah penyakit yang dapat diatasi dengan antibiotik biasa. Jadi, imun tubuh lah yang harus ditingkatkan untuk mengadang inflamasi akibat virus korona. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Previous articlePelindung Jantung
Next articleKulit Keren karena Herbal
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Permintaan Produk Organik Kian Meningkat

Trubus.id — Permintaan produk organik mengalami peningkatan. Peningkatan permintaan produk organik di Indonesia terjadi karena munculnya kesadaran menjaga kesehatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img