Wednesday, August 17, 2022

Dr Gumilar Rusliwa Somantri : Jatuh Hati sang Dekan pada Ikan Samurai

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tigapuluh koi beragam jenis seperti kohaku, showa, dan tancho menjadi hiburan yang menenteramkan hati Dr Gumilar Rusliwa Somantri. Ikan samurai-begitu julukannya-berenang meliuk-liuk memamerkan kemolekan tubuh di permukaan air jernih. Indra penglihatan Gumilar betul-betul dimanjakan oleh panorama itu. Persis di tengah kolam persegi sepanjang 12 meter, irama air terjun tak putus bergemericik sepanjang waktu.

Perpaduan itulah yang membuat ia rileks dan melanjutkan aktivitas di ruang kerja. Begitu kejenuhan kembali mendera, Gumilar yang menjabat dekan ketika usianya 39 tahun, menyambangi akuarium di depan ruang kerja. Di sana 2 arwana juga menarik hatinya. Apalagi ketika pria 43 tahun itu mencemplungkan jangkrik hidup, hup? secepat kilat Scleropages formosus menyambarnya. Akuarium yang lebih besar, 200 cm x 85 cm x 70 cm, dihuni 2 arwana terdapat di seberang ruang kerja.

Dua akuarium dan sebuah kolam koi sedalam 1,7 meter itu menjadi tempat persinggahan Gumilar untuk melepas penat. Bagi doktor Sosiologi alumnus Universitat Belnfield, Jerman, hobi memelihara ikan seperti, Kitab yang sedang kita baca. Ia menemukan banyak pelajaran di dalamnya seperti kesabaran, ketekunan, dan keuletan. Nilai-nilai itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Moa

Kesabaran memelihara koi teruji sejak awal 1996. Saat itu ia membeli koi-koi lokal di Bogor dan Sukabumi. Namun, kerap kali kerabat ikan mas itu meregang nyawa. Ia penasaran dibuatnya. Hingga setahun lamanya ia belajar merawat anggota famili Cyprinidae. Ia belajar dari berbagai pustaka, menyambangi para peternak, dan hobiis lain. Kualitas air menjadi kunci, katanya setelah ia memahami keinginan satwa klangenannya.

Oleh karena itu ayah 3 anak itu kini membuat filter seefisien mungkin. Tujuannya agar mutu air terus terjaga. Lokasi filter di ujung kolam terdiri atas 3 ruang. Ruang pertama diisi seekor moa seukuran lengan tangan dewasa. Menurut dugaannya kerabat belut itu membersihkan lumut dan jasad renik sehingga air tetap bersih. Di alam, perairan di sekitar lubang moa selalu jernih, ujar Gumilar memberi alasan soal pemilihan moa.

Ruang filter di sisinya terdapat zeolit yang ditutup serat seukuran nampan. Kotoran akan berkumpul di atas permukaan serat sehingga mudah dibersihkan. Ruang filter paling ujung berisi arang dan zeolit yang berfungsi sebagai penyerap kotoran. Setelah melalui 3 filter itu, air dialirkan ke dinding kolam berbahan batu candi. Sebelum jatuh ke kolam menimbulkan gemericik, air melewati zeolit.

Beragam

Dekan FISIP UI yang membawahkan 8 jurusan itu tertarik pada keindahan koi sejak 1996. Ia memulai hobinya dengan membeli ikan hias itu di Empang, Bogor, dan Cibaraja, Sukabumi. Saat itu harga seekor koi lokal berukuran 10 cm Rp70.000-Rp150.000. Ia selalu selektif setiap kali membeli karper molek itu. Misalnya, bila membeli seluruh isi kolam harga rata-rata ikan 10 cm Rp10.000 per ekor. Pak, saya hanya ambil 15 ekor, tapi harganya 4 kali lipat, katanya kepada peternak.

Hobinya kemudian bertambah: menanam tabulampot alias tanaman buah dalam pot. Dua ratus pot seperti mangga okyong, tin, dan jeruk memenuhi halaman rumahnya di Indraprasta, Bogor. Ketika ia pindah rumah ke Depok, 5 km dari kampus Universitas Indonesia, hobi itu dipertahankan.

Pria bertubuh tegap itu sempat jatuh hati pada ular. Lantaran sang istri tak suka, ia pernah mengembalikan ular itu kepada penjualnya. Namun, begitu melihat ular jenis lain, morulus albino, hasrat untuk memiliki tak terbendung. Diam-diam ia membelinya dan meletakkan di ruang kerja. Ia melepas sanca sepanjang 1 m itu di kamar kerja, ketika tak ada istri. Toh, akhirnya perempuan yang dinikahi pada 1990 itu tahu juga.

Ular tetap dipelihara hingga sepanjang 6 m. Ukurannya sebesar paha. Namun, dengan berat hati ular dikembalikan kepada penjual pada 2002. Saat itu anak ketiganya lahir. Hobi Gumilar kemudian bertambah lagi, yakni menangkarkan perkutut. Ia terkesima mendengar anggungan perkutut. Hingga saat ini perkutut itu tetap dipelihara.

Setia koi

Meski hobi terus bertambah, koi tak pernah tersingkirkan. Ikan asal Cina itu tetap menjadi klangenan sang dekan. Pantas jika tengah bepergian ke luar kota atau mancanegara, ia selalu menanyakan kondisi ikan molek itu. Kerinduan menyaksikan liukan koi dan mendengar gemericik air terjun di sisi kolam tak pernah pupus. Oleh karena itu Gumilar amat bersedih ketika belasan Cyprinus carpio menemui ajal.

Mula-mula sisik mengelupas dan sirip memerah. Ia menduga, penyebab kematian massal akibat serangan herpes setelah membeli beberapa koi impor. Koi-koi pendatang itu didakwa sebagai pembawa virus. Yang ikut mati ada jenis shusui kuning emas. Jumlahnya 3 ekor. Bagus sekali karena kumpai (ekor panjang, red), katanya.

Pada kondisi seperti itu ia kembali harus belajar kesabaran. Kesabaran itu pula yang ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Begitulah pelajaran yang ia petik dari membaca kitab besar bernama hobi. Sampai kapan ia harus membacanya? Saya kira tak akan berujung, ujar Gumilar. (Sardi Duryatmo)

 

Previous articlee-book untuk Member
Next articleExtensions
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img