Thursday, December 8, 2022

Drs I Made Budi MS, Menduniakan Buah Merah

Rekomendasi

Suasana kian hingar- bingar dengan dering telepon yang hampir tak pernah berhenti.  Selama hampir 2 jam berada di sana,  Trubus mendengar  dering telepon bersahut-sahutan.  Telepon rumah dan 3 telepon genggam yang ada-milik Made, isteri, dan pramuwisma seakan berlomba bunyi.  ‘Dari pagi hingga malam hari hampir tak ada waktu bagi kami untuk beristirahat,’ papar Made.

Kerepotan Made itu dimulai sejak ia mempromosikan buah merah Pandanus conoideus sebagai obat aneka penyakit seperti kanker, tumor, hepatitis, diabetes, hingga asam urat.   Aktivitas rutin mengajar di Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Cenderawasih bertambah dengan kesibukan menyiapkan obat untuk para pasien.

Sejak 2003 ia  pun ikut membantu mengobati penderita HIV/AIDS di beberapa lembaga sosial di Jayapura, Wamena, Sorong, dan Merauke.  ‘Itu salah satu solusi penting untuk memecahkan masalah HIV/AIDS di Papua,’ papar pria 44 tahun itu. Maklum, hingga Juni 2004 jumlah penderita HIV/AIDS di Papua tercatat 1.579 orang.  Sebanyak 983 orang terinfeksi virus HIV dan 596 pasien positif mengidap AID.

Getok tular

Made memang punya modal untuk melaksanakan niat mulia itu.  Temuannya, olahan buah merah kaya betakaroten.  Dalam sistem metabolisme, setiap molekul betakaroten akan menghasilkan 2 molekul vitamin A.   Dengan tersedianya vitamin A dalam jumlah cukup,  penyerapan protein yang mendukung sistem kekebalan tubuh dapat ditingkatkan. Penelitian  pada ayam petelur membuktikan itu.  ‘Ayam yang pakannya diberi ekstrak buah merah  tidak terserang tetelo pada musim penyakit,’ papar Made.

Untuk mengetahui aktivitas betakaroten dalam proses metabolisme, misalnya, kelahiran Werdi Agung, desa transmigran di Kecamatan Dumoga, Bolaangmongondouw, Sulawesi Utara, itu mencampurkan ekstrak buah merah ke dalam pakan ayam petelur.  Ternyata kuning telur yang dihasilkan menjadi merah.  ‘Tandanya betakaroten terserap sempurna dalam proses metabolisme,’ papar suami Siti Sunarsih Yulita itu.

Hal serupa dilakukan pada ayam potong untuk menguji aktivitas tokoferol yang dikandung buah merah. Ia mencampurkan ekstrak buah merah pada konsentrat keluaran pabrik. Pakan kemudian diberikan pada ayam pedaging berumur 1 bulan dengan dosis standar, 3 kali sehari.  Setelah 4 bulan perlakuan, ternyata daging ayam benar-benar bebas lemak.  Itu berarti tokoferol mampu menjalankan fungsinya untuk menekan pembentukan lemak tubuh.

Mula-mula hasil olahan buah merah diberikan kepada keluarga para tetangga  di Kompleks BTN Kotaraja, Jayapura, yang menderita sakit. Karena terbukti ampuh, berita soal obat itu cepat menyebar.  Berkat promosi getok tular, lebih dari 1.000 orang di berbagai daerah dan mancanegara kini telah merasakan khasiat obat temuannya.

Mendunia

Seiring meningkatnya pamor buah merah, nama Made pun ikut mencuat.   Di Jayapura, nama itu selalu disebut kalau bicara soal buah merah. Sampai-sampai Menteri Kesehatan Dr dr Siti Fadilah Supari, Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto, hingga Menteri Pertanian Dr Anton Apriantono melayangkan undangan pertemuan. Bahkan konon ia ‘diincar’ ilmuwan Jerman dan Belanda yang sedang meriset HIV/AIDS.

Berkat Made, buah yang semula hampir tak bernilai-selain dikonsumsi oleh masyarakat lokal-kini harganya melonjak tinggi.  Saat Trubus berkunjung ke Jayapura November lalu, tawi-namanya di Lembah Baliem-ditawarkan Rp300.000 per buah di beberapa pasar.  ‘Kalau saat ini buah merah banyak diburu orang, itu tak lepas dari kerja keras I Made Budi,’ papar Ir Ruben Kombonglangi, kepala Dinas Pertanian Kabupaten Keerom.

Tak pernah terbersit di benak Made jika sari buah merah bakal melambungkan namanya.  Bahkan, sampai membuat mata dunia tertuju ke provinsi di ujung timur nusantara itu. Padahal, semula ia hanya ingin mengungkap misteri kandungan gizi buah itu saja. Itu pun lantaran penasaran melihat kondisi fisik masyarakat pedalaman Wamena yang prima.

Pedalaman Wamena

Buah merah pertama kali dikenalnya saat ia berada di pedalaman Wamena pada 1988.  Ketika itu ia sedang meneliti jamur alam di daerah Kurulu, Wamena. Di sana masyarakat menjadikan buah merah sebagai konsumsi harian.  Dari informasi yang diperoleh, mereka jarang mengidap penyakit degeneratif.  ‘Data statistik pun mencatat, mereka memiliki angka harapan hidup cukup tinggi,’ paparnya.

Sayangnya, kesibukan sebagai dosen tak memberi kesempatan untuk segera menemukan jawaban atas fakta itu. Peluang baru muncul 10 tahun kemudian saat ia menempuh pendidikan S2 di Program Pascasarjana IPB.  Bidang ilmu Gizi Masyarakat dipilih lantaran obsesi itu.

Di Laboratorium Gizi IPB Made menganalisis kandungan buah merah.  Hasilnya?  P. conoideus mengandung senyawa-senyawa aktif berkhasiat dalam kadar tinggi.   Inilah yang mengilhami Made untuk menjadikannya sebagai obat.

Informasi penting itu kemudian disebarkan kepada masyarakat.  Bekerjasama dengan dinas-dinas terkait di Papua, ia aktif menyampaikan manfaat buah merah di berbagai seminar, lokakarya, dan sidang-sidang di DPRD Papua.  Tanpa kenal lelah ia berbaur dengan masyarakat untuk membina dan melatih teknologi pengolahannya.

Saat pertama kali menjejakkan kaki di Bumi Cenderawasih pada 1985, Made memang pernah berikrar untuk menyumbangkan pikiran, tenaga, dan keahliannya demi kemajuan masyarakat Papua. Impian itu kini terkabul.  Berkat Made, buah merah mendunia dan menjadi modal berharga bagi masyarakat Papua.  (Fendy R Paimin)

 

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img