Monday, November 28, 2022

Dua Gatutkaca Pencinta Tanaman Buah

Rekomendasi

Tiga puluh tahun berlalu, cinta Suprihadi muda pada tanaman buah tak berubah. Terbukti di kediaman pensiunan jenderal bintang 3 di kawasan Cilangkap, Jakarta Timur itu, wartawan Trubus, Destika Cahyana, melihat 35 tanaman buah beraneka jenis tertata apik. Begitu gerbang kayu rumahnya dibuka, sepasang mangga-arumanis dan okyong-berumur 6 tahun menyambut tamu. Dari ujung tajuk arumanis bergelayutan 23 buah yang masih mengkal. Okyong baru memamerkan 5 buah, tapi ratusan bunga terlihat di ujung tajuk. ‘Ada kepuasan batin saat saya mengamati pertumbuhan bunga, menjadi pentil buah, buah muda, dan matang,’ tutur mantan Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan RI era Matori Abdul Djalil itu.

Tak hanya tanaman buah bercita-rasa sedap yang dikoleksi sang jenderal. Buni keraton Ardisia humilis yang sepat pun ditanam di tepi kolam koi. Ratusan buah seukuran kelereng berwarna ungu tua tampak menempel di sela-sela cabang dan batang. Memang rasanya tak selezat anggur atau lengkeng, tapi buah lokal itu kini mulai sulit ditemui di alam. ‘Buah langka menjadi salah satu buruan saya untuk dikoleksi,’ kata pria yang kini menjabat sebagai komisaris utama PT ASABRI itu.

Di tepi kolam itu tumbuh pula jamblang putih Syzygium sp. Jenis itu lebih sulit ditemui ketimbang jamblang ungu Syzygium cumini. Tanaman lokal seperti salam dan sawo betawi pun tak luput dikoleksi. Kondisi buah-buah lokal itu tak kalah sehat dengan varietas-varietas unggul seperti jambu air citra, jambu bol jamaika, durian monthong, dan tamarind alias asam manis asal Thailand.

Pangkas sendiri

Setiap hari usai sholat subuh, ayah 2 anak itu mengitari halaman seluas 1.300 m2 dengan gunting pangkas di tangan. Cabang dan ranting yang terlihat mengering dipangkas. Pun cabang dan ranting yang ternaungi. ‘Tak seorang pun penghuni rumah ini boleh memangkas. Keputusan memangkas hanya ada di tangan saya. Hanya saya yang berwenang membentuk pohon,’ kata mantan Komandan Pangkalan Udara Iswahyudi, Madiun itu. Cuma rutinitas menyiram diserahkan pada pegawainya.

Aktivitas berkeliling kebun berulang sore hari. Maklum buat kakek 2 cucu itu, memangkas cabang dan ranting itu jadi pelepas penat dari rutinitas sehari-hari. Saat gunting memotong cabang, ia seolah tengah membuang masalah yang dihadapi satu per satu. ‘Jiwa saya menjadi sehat. Hasilnya, keputusan yang diambil pada setiap keadaan menjadi jernih,’ paparnya. Suprihadi ingat, ketika masih menjadi pilot pesawat tempur, hobi berkebun membuat keputusan yang diambil di udara jarang meleset. Pun saat ini, ketika ia mengemban amanat sebagai komisaris utama PT ASABRI dan salah satu bank swasta.

Trubus merasakan, halaman rumah Suprihadi yang sejuk memang membuat jiwa terasa tenang di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Selain teduh, celoteh ayam serama, ayam bangkok, burung cenderawasih, dan burung merak menghidupkan suasana halaman. Suara gemericik air dari kolam koi kian melengkapi suasana alami. Dua belas mobil kuno keluaran 1950-an membuat halaman seperti berada di Jakarta tempo dulu yang belum terpolusi.

Intelejen udara

Prajurit udara yang kepincut buah-buahan tak hanya Suprihadi. Di Tanjungbarat, Jakarta Selatan, ada Marsekal Muda TNI (Purn) Prayitno Ramelan. Mantan penasihat militer bidang intelejen era Matori Abdul Djalil itu kepincut buah-buahan sejak 1986. Ketika itu ia bertugas di Selandia Baru sebagai pembantu atase pertahanan Kedutaan Besar RI. ‘Di sana setiap Januari (akhir musim panas, red) panen buah-buahan. Kualitas apel, jeruk, dan anggurnya sangat luar biasa. Saya jadi bertekad untuk menanam buah bila kembali ke tanahair,’ kenang alumnus AKABRI 1970 itu.

Tekad itu mewujud di kediamannya seluas 875 m2. Di sana tumbuh lengkeng bangkok; jambu air thab thin chan, king rose apple, cincalo; mangga okyong, ma den kau; dan duku lokal. Yang disebut pertama, lengkeng bangkok istimewa dengan julukan lengkeng jenderal. Lengkeng itu berdaging kering, tebal, dan manis (baca: ‘Lengkeng sang Jenderal, ‘Berlian’ Berdaging Kering,’ Trubus Juli 2007). Semua koleksi ditanam di tabulampot yang dibenamkan ke tanah. ‘Itu untuk menghindari pertumbuhan akar terlalu cepat yang merusak bangunan,’ kata Prayitno. Tercatat 25 tabulampot menghuni halaman rumah.

Semua koleksi menjadi kebanggaan Prayitno. ‘Meski seorang militer, tangan saya mampu membuahkan tabulampot,’ tuturnya. Dulu ketika berdinas, ia kerap membawa 1-2 karung rambutan ke markas untuk dibagikan pada anak buah bila musim panen tiba. Adegan rebutan rambutan di markas militer itu mencairkan suasana tegang kala bertugas.

Purnatugas, buah-buah itu tak lagi dibawa ke markas. Justru Prayitno mengundang para kolega dan kerabat ke kediaman untuk berpesta kebun. Thab thin chan dan okyong menjadi buah favorit suguhan. ‘Orang lain menyuguhkan buah dari pasar swalayan. Saya memetik langsung dari pohon. Kepuasan yang diperoleh sungguh berbeda,’ katanya.

Kisah Suprihadi dan Prayitno hanyalah sepenggal cerita para gatutkaca. Bagi mereka hobi berkebun adalah sebuah gaya hidup. ‘Tanpa hobi, kehidupan menjadi monoton dan tak lagi indah. Buah-buahan menjadikan hidup lebih indah,’ tutur Suprihadi. (Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img