Monday, August 8, 2022

Dua Sejoli Doyo & Mikroba

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Kabut masih menyelimuti pagi di Desa Cibodas, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pada pukul 06.00 itu sembari menikmati titik-titik embun Doyo sudah sibuk di kebun berketinggian 1.200 m dpl. ‘Dulu saya baru mulai ke kebun jam 09.00,’ kata ayah 3 anak itu. Perjalanan ke China pada 2007 membuka mata Doyo. ‘Jika mau mendapat hasil berlimpah kita harus mau seperti petani di sana yang pagi-pagi buta sudah mengurusi kebun,’ tuturnya.

Maka begitulah aktivitas sehari-harinya. Selepas Subuh lulusan Sekolah Teknik Mesin itu melongok deretan tanaman tomat, terung jepang, kabocha, edamame, paprika, kiyuri, jagung manis, dan kapri manis di lahan 5,4 ha. Tangan kekarnya merompes daun-daun tua bunga kol, memperbaiki turus tomat, hingga memanen terung jepang, brokoli, dan edamame. Doyo tak tinggal diam meski ada 21 pekerja mengelola kebun.

Dan lihatlah tanaman brokolinya subur-subur, bunga brokoli yang siap panen hijau segar. Produksinya 1,2 kg per tanaman, biasanya 0,6 kg per tanaman. Tomat martha yang ditanam bisa dipacu menghasilkan 8 kg per tanaman. Normalnya 2 kg per tanaman. Buah yang masuk grade A (isi 13 buah per kg) mencapai 70-80%. Jagung manis dan kaprinya lebih manis. Pantas pasar modern seperti Sogo dan Papaya mengandalkan pasokan sayuran dari kebun Doyo.

Makhluk hidup

Padahal pria yang pernah mengenyam kuliah di Akademi Tekstil Berdikari itu minim menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Hasil panen melonjak dan kualitas lebih baik berkat jasa makhluk renik yang ia benamkan di tanah. Setiap kali hendak menanam Doyo membuat campuran pupuk kandang asal kotoran ayam, domba, dan sapi masing-masing 3:1:3 bagian. Lalu untuk setiap 5 ton campuran itu ditambahkan seliter bakteri pengurai selulosa seperti golongan Lactobacillus sp dosis 5 ml/l. Setelah 3 minggu pupuk siap ditabur setebal 3-5 cm di atas tanah sebelum ditutup mulsa. Selang 7-10 hari lahan ditanami beragam komoditas sayuran.

Di tengah-tengah masa pertumbuhan tanaman, Doyo menyiram pupuk hayati berisi mikroba antara lain Rhizobium sp dan Azotobacter sp. Bakteri-bakteri itu mampu menambat nitrogen dari udara. Pada tomat martha misalnya, aplikasi pupuk hayati dilakukan pada hari ke-14, 21, 28, dan 35 pascatanam. Jika hama penyakit menyerang peraih Dji Sam Soe Award 2006 itu menyemprotkan mikroba Trichoderma sp. ‘Alternatif lain dengan pestisida nabati,’ kata Doyo.

Pendiri kelompoktani Mekar Tani Jaya itu biasa menggunakan ekstrak mimba Azadirachta indica untuk mengatasi penyakit akibat cendawan Phytophthora infestans dan P. carotavora. Sementara penyakit embun tepung alias powdery mildew diberantas dengan belerang yang ditaruh dalam ruas-ruas bambu di antara tanaman. ‘Kalau masih membandel juga, baru pestisida kimia dipakai. Tapi dosisnya sangat rendah,’ ujar Doyo.

Dengan cara budidaya alami ia memanen beragam sayuran setiap Minggu, Selasa, dan Kamis. Hasil panen itu sudah ditunggu pasar modern yang menjadi pelanggan. Dari perniagaan sayuran organik itu-begitu produk hasil budidaya alami kerap disebut-pundi-pundinya terus menggembung. ‘Ibaratnya kalau dulu beli 1 balon buat anak saja tidak bisa, sekarang pabriknya pun bisalah,’ ujar Doyo menganalogikan lonjakan pendapatan yang didapat karena berkebun secara alami.

Kabur ke Bengkulu

Andai Doyo mematuhi keinginan Mahmud Iskandar dan Eceh, kedua orangtua, boleh jadi nasibnya berbeda. Anak ke-5 dari 6 bersaudara itu dimasukkan ke STMsupaya tak bersentuhan dengan pertanian. ‘Bapak ibu tidak mau saya jadi petani karena tidak bisa diharapkan untuk hidup,’ tutur Doyo. Padahal dunia tanam-menanam begitu ia cintai. Sejak sekolah dasar Doyo sering menemani Ma Emih dan Mbah Wira, kakek neneknya, berkebun di lahan 30 ha yang belakangan habis setelah diwariskan ke anak cucu.

Ketika menempuh pendidikan sekolah menengah pertama dan STMdi Bandung, setiap akhir minggu Doyo pulang ke Cibodas untuk belajar bertani dari sang nenek. Ketika kembali ke Bandung pada Ahad, beras, singkong, dan sayuran hasil kebun dipanggulnya. Keinginan menjadi petani tak terbendung selepas kuliah di Akademi Tekstil Berdikari. Pada 1986 Doyo memutuskan ‘kabur’ ke Rejanglebong, Bengkulu. Kepada orangtua ia menyebut hendak bekerja di instansi pemerintahan. Padahal di Rejanglebong ia menggarap 1 ha lahan untuk ditanami kubis, tomat, kentang, dan cabai. Komoditas itu disesuaikan permintaan tengkulak.

Setahun berselang Doyo-ditemani istri yang dinikahi di Bengkulu-pulang ke Cibodas membawa Rp19-juta hasil bertani. Berbekal rupiah itu ia membuka lahan seluas 1 ha di Cibeunying. Namun, bukan laba yang dituai malah buntung didapat. Kerap kali Doyo mesti mengosongkan perut ketika pergi ke kebun karena tak ada makanan di rumah. Kebutuhan susu dan pakaian untuk anak-anaknya dipasok kakak perempuannya karena Doyo tak sanggup membelikan. Sedikit demi sedikit lahan garapannya pun berkurang. Itu gara-gara hutangnya pada tengkulak.

Jika kekurangan modal, Doyo lari pada rentenir itu untuk mendapat dana segar. ‘Dari modal Rp8-juta untuk menanam tomat misalnya, 60%-nya dipakai beli pestisida,’ kata pria yang mengikuti pola budidaya konvensional ala petani-petani di lahan sekitarnya. Jika terlihat serangan hama penyakit ia memang tak segan-segan langsung menyemprot racun itu tanpa perhitungan tepat. Pupuk sintetis pun banyak digelontorkan.

Namun, hasil panen ternyata terus melorot. Alhasil Doyo tekor dan mesti berutang lagi pada rentenir. ‘Tapi sebelum pinjam lagi, utang terdahulu harus dibayar dulu. Karena tidak punya uang akhirnya tanah yang diukur,’ tutur suami dari Neneng Jumartin itu. Ujung-ujungnya pada 1997 Doyo kehilangan seluruh lahan seluas 1 ha.

Kubis bolong

Di saat Doyo nyaris menyerah, datang Bobon Turbansyah. Pemasok sayuran jepang ke pasar-pasar modern itu mengajak Doyo magang di kebun sayuran yang dikelolanya secara alami. Maksudnya budidayanya minim pupuk kimia, justru memanfaatkan bahan-bahan hayati. Di awal magang Doyo sempat bimbang. Produksi kubis yang ketika itu ditanam, turun hingga 20%. Penampilannya pun bolong-bolong. ‘Kenapa kubis bolong-bolong kok bisa laku dijual?’ batinnya ketika itu. Toh, kompensasi harga Rp800 per kg-kubis biasa Rp300 per kg-membuka mata Doyo peluang berkebun secara alami.

Februari 2000 pria sederhana itu memutuskan membuka kebun sendiri. Modalnya lahan seluas 2.000 m2 yang dipinjami oleh sang kakak selama 2 tahun. Lahan itu ditanami buncis jepang dengan 2,5 kg bibit dan pupuk hasil pinjaman dari Bobon senilai Rp3-juta. Doyo menerapkan budidaya semiorganik dengan membenamkan 2 ton pupuk kandang hasil fermentasi dengan mikroba pengurai EM-4. Penggunaan NPKyang biasanya mencapai 15 kg, cukup 5 kg. Rabuk lain berupa urine kelinci dan kambing yang difermentasi.

Saat panen didapat Rp7,2-juta. Setelah dikurangi biaya senilai Rp3-juta Doyo masih mengantongi laba Rp4,2-juta. Itulah kali pertama lelaki itu menikmati untung setelah belasan tahun bertani di Cibodas. ‘Saya sampai gemetaran pegang uangnya,’ kata Doyo. Rupiah itu lantas digunakan untuk menyewa lahan seluas 2.800 m2 untuk 2 tahun. Tanah sewa itu ditanami edamame dan jagung manis secara tumpangsari. Lahan pinjaman sang kakak untuk penanaman brokoli. Lagi-lagi kantongnya menggelembung dengan laba Rp6-juta hasil penjualan panen 3 komoditas itu.

Bermula dari peristiwa pada 2000 itu Doyo kian yakin untuk bersandar pada makhluk-makhluk liliput yang ditambahkan pada pupuk saat bercocok tanam. Pilihannya tak salah. Sejak 2003 Doyo juga mengepul sayuran jepang dari pekebun lain yang mengikuti jejaknya. Sebidang kebun seluas 1,4 ha kini jadi milik sendiri. Total jenderal dengan lahan sewa Doyo mengelola 5,4 ha yang ditanami beragam sayuran jepang. Ia pun didaulat jadi ketua kelompoktani Mekar Tani Jaya yang kini beranggotakan 523 petani sayuran organik dengan luasan 47,2 ha.

Soal materi, rumah 2 lantai seluas 400 m2 jadi salah satu saksi berkah berkebun dengan bantuan mikroba yang dirasakan Doyo. Kesibukannya pun bertambah dengan aktivitas jadi pembicara pelatihan pertanian berkelanjutan di berbagai daerah. Maka sekarang Doyo dan mikroba tak terpisahkan bak 2 sejoli. (Evy Syariefa/Peliput: Faiz Yajri)

^ Doyo, nikmati laba dari berkebun dengan pupuk hayati

> Lahan seluas 5,4 ha ditanami beragam sayuran jepang untuk pasokan ke pasar modern

 

Kualitas produk hasil budidaya alami lebih baik. Rasa edamame lebih manis

Dengan budidaya alami produktivitas brokoli melonjak dari 0,6 kg jadi 1,2 kg per tanaman

Terung jepang, salah satu andalan

Foto-foto: Faiz Yajri

^ Rumah 2 lantai dan aula tempat pelatihan, saksi bisu sukses Doyo berkebun secara alami

> Produksi tomat di pacu 6 kg per tanaman, normal 2 kg per tanaman

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img