Sunday, November 27, 2022

Durian Jatuhan Lampung Tengah

Rekomendasi

Kebun durian di Jalan Raya Lintas Timur Sumatera Km 80, tepatnya di Desa Lempuyangbandar, Wey Pengubuan, Lampung Tengah, Lampung, itu menawarkan kelezatan durian lokal. Di sana belasan jenis durian unggul dari berbagai daerah bisa dicicipi kala musim panen tiba pada Juni hingga Maret. Sebut saja matahari, phagajah, sitokong, sunan, simas, monthong merah, dan chane. Bahkan durian legendaris, ajimah, kesukaan Bung Karno, serta petruk, ada di kebun seluas 11 hektar itu.

Ir Dimastidano, karyawan sebuah perusahaan pengalengan nanas terbesar di tanahair yang mania durian, hampir setiap hari menyempatkan singgah. Kebetulan jarak dari kantornya ke kebun hanya 500-an meter. Setelah mengambil 3 – 4 butir durian pesanan, pria asal Bandung, Jawa Barat, itu kembali ke kantor untuk menikmati lezatnya Durio zibethinus. Sisa durian ia bawa pulang untuk dimakan bersama keluarga. “Puaslah dengan memakan durian lokal pilihan. Apalagi dipanen jatuhan,” kata Dimastidano. Sebelumnya pehobi motor gede itu sering kecewa membeli durian di kaki lima, karena sering dibohongi. “Rasa tidak seenak ketika dicicip dan sebagian juring juga masih mentah,” tambahnya.

Sasaran mania

Durian yang ditawarkan Agus Mashudi, pemilik kebun, memang seluruhnya jatuhan alias matang di pohon. “Kalau matang di pohon pasti enak rasanya,” kata Agus. Makanya menurut ayah 2 putra itu, konsumen tidak membedakan jenis. “Tidak ada jenis yang difavoritkan. Jenis apa pun yang jatuh hari itu, mereka ambil,” imbuhnya. Sebab itu pula sejak pertama kali berproduksi pada 2000, kebun dengan kapasitas produksi 2.000 – 3.000 buah per musim itu, langsung menjadi sasaran para mania durian di seputaran Bandarjaya, Lampung Tengah.

Sayang, ketika Trubus berkunjung pada akhir November 2009 hanya ada 18 buah yang teronggok di lantai beranda rumah kebun. Jenisnya: phagajah, chane, monthong merah, dan sitokong. “Ajimah, petruk, simas, matahari, masih menempel di pohon karena baru seukuran bola takraw,” kata Agus. Meski daging buah yang dicicip berbeda warna, aroma, tekstur, dan rasa, tapi keempat jenis durian itu mempunyai kualitas setara: sama-sama enak. Pagajah dengan ciri khas bentuk buah berpantat – bisa dengan mudah didudukkan – berasa manis legit, cocok untuk mania pemula. Phagajah menjadi kebanggaan Agus karena hanya ada di Lampung.

Sitokong yang berbentuk seperti buah pir dengan kulit hijau, rasanya juga manis tanpa pahit sedikit pun. Sementara chane – varietas asal Thailand – yang berdaging kuning dan bertekstur lembut, manis legit agak pahit. Yang lebih pahit adalah monthong merah – disebut begitu karena bagian belakang daun cokelat kemerahan. Agus mengklaim monthong merah sebagai durian lokal lantaran penampilan bentuk dan rasa buah berbeda dengan monthong asli Thailand. Kelahiran Pati 1954 itu berpendapat pemakaian batang bawah mungkin sebagai penyebab munculnya varietas baru.

Karena itu pula perintis lingkungan pada 2004 itu, dulu khawatir ajimah dan petruk berubah sifat. Maklum, kedua jenis durian lokal yang menjadi ikon durian unggul itu susah ditemukan. Petruk, pohon induknya di Jepara, Jawa Tengah, mati tersambar geledek pada 1980-an dan ajimah hanya dimiliki kolektor-kolektor tertentu. “Untungnya bibit yang ditanam tidak berubah sifat. Bentuk buah dan rasa sama seperti petruk dan ajimah yang dikenal selama ini,” ucapnya.

Berbatang pendek

Keberhasilan Agus mengoleksi durian-durian lokal dan introduksi kualitas top tidak lepas dari profesi yang digeluti sebelumnya. Ia bekerja di tempat sama dengan Dimastidano – hanya beda bagian – dan kerap keluar kota untuk urusan pemuliaan nanas dan koleksi tanaman bambu. Saat keluar kota itulah bibit-bibit durian unggul dari berbagai daerah mulai dari Jawa hingga Sumatera dikumpulkan. “Saya memang bercita-cita memiliki dan mengelola sendiri kebun buah-buahan,” ungkapnya. Maka sejak 1994 secara bertahap bibit-bibit durian yang telah dikumpulkan ditanamnya.

Sayang, di awal penanaman kemarau panjang menyebabkan durian yang ditumpangsari-kan dengan tanaman semusim seperti pisang, pepaya, dan nanas, sebagian besar mati. Terpaksa ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan Provinsi Lampung itu menyulamnya dengan bibit durian baru hasil okulasi dan asal biji. Lima tahun kemudian bibit durian asal okulasi mulai belajar berbuah. Sedangkan durian asal biji harus menunggu hingga 9 tahun.

Kini semua duriannya telah berproduksi. Meski ada sebagian bibit asal biji, tapi batang tetap pendek karena batang utama dipangkas. Cabang yang tumbuh tidak beraturan dipangkas. Dari cabang-cabang pada ketinggian 1 – 2 meter buah berduri bergelayutan. Dengan begitu Agus pun tidak kesulitan mengikat buah-buah tua sebelum berjatuhan. Kebiasaan itu tidak dilakukan pemilik pohon durian di Sumatera. “Di Sumatera, tidak ada budaya mengikat durian di pohon. Durian matang pohon dibiarkan jatuh menimpa tanah sehingga cepat rusak,” ujar Tatang Halim, pedagang buah di Muarakarang, Jakarta Utara.

Berkat perawatan intensif, kebun dengan total populasi 225 pohon itu terlihat rapi dan sarat buah. Buah pun mulus dan besar lantaran penjarangan yang menyisakan 3 – 4 buah per dompol. Pantas, dengan harga jual Rp10.000 – Rp35.000 per buah (tergantung bobot), suami Evi Setiawati itu menargetkan Rp250-juta – Rp300-juta masuk ke kantongnya setiap musim dari durian jatuhan. (Karjono)

 

 

Chane, tekstur daging lembut, manis agak pahit

Phagajah, tebal dan manis

Monthong merah, manis pahit disukai mania kelas berat

Agus Mashudi, durian jatuhan mudah dapat pasar

Sitokong, kadar tepung tinggi

Foto-foto: Karjono

Previous articleKumpulan e-book
Next articlePohon Pusaka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img