Thursday, June 11, 2026

Durian Organik Tetap Berkualitas Meski Panen di Luar Musim

Rekomendasi

Trubus.id-Musim puncak panen durian di sejumlah sentra produksi di Provinsi Banten umumnya berlangsung pada Januari. Namun, kondisi berbeda terjadi di Kebun Durian Tamora milik M. Hengki Massie. Kebun yang berlokasi di Desa Tejamari, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, itu mampu menghasilkan panen durian hingga 4—5 kali dalam setahun.

Pada April 2025, saat sebagian besar kebun durian telah melewati masa panen, pengunjung masih dapat menikmati pengalaman memanen durian langsung dari pohonnya di Kebun Durian Tamora. Kondisi tersebut menarik perhatian pemimpin komunitas Durian Traveler, Sigit Purwanto, bersama sejumlah penjelajah durian lainnya untuk melihat sekaligus mencicipi kualitas durian yang dipanen di luar musim.

Setibanya di kebun, Hengki menyambut para tamunya dengan dua durian unggulan, yakni ochee dan super tembaga. Salah seorang karyawan kemudian membelah buah ochee. Saat kulitnya terbuka, tampak daging buah berwarna jingga cerah, warna yang menjadi ciri khas varietas tersebut.

“Luar biasa. Dari aromanya saya sudah tahu rasanya,” ujar Sigit.

Daging buah yang tampak sedikit berkerut menjadi pertanda ketebalan daging yang tinggi. Penampilan itu semakin menggugah selera meskipun belum dicicipi. Untuk perbandingan, karyawan kemudian membelah durian super tembaga. Ternyata warna daging buahnya hampir setara dengan ochee, sama-sama berwarna jingga pekat.

“Ini bisa saingan nih,” kata Sigit.

Tetap Berkualitas Saat Musim Hujan

Hengki mengaku tidak menyangka warna daging buah kedua durian tersebut tetap optimal. Pasalnya, saat itu wilayah kebun kerap diguyur hujan.

“Ternyata untuk warna daging buah tidak terpengaruh musim hujan,” tutur Hengki.

Selama ini berkembang anggapan bahwa musim hujan dapat memengaruhi warna maupun cita rasa durian. Namun, hasil pengamatan di Kebun Durian Tamora menunjukkan bahwa kualitas buah tetap terjaga.

Sigit dan rekan-rekannya kemudian mencicipi ochee terlebih dahulu. Beragam pujian pun terlontar.

“Wah, ini kering banget teksturnya,” kata Sigit.

Menurutnya, tekstur daging buah terasa sangat halus. Ketika dikunyah, daging buah seperti pecah di mulut dengan sensasi lengket yang kuat, berpadu antara rasa manis dan pahit yang bertahan cukup lama.

“Untuk menelannya jadi agak tersendat karena saking lengketnya,” ujar salah seorang rekannya.

Selanjutnya mereka mencicipi super tembaga. Varietas ini menghadirkan karakter rasa yang berbeda.

“Tajam pahitnya,” katanya.

Dalam sesi pencicipan tersebut, super tembaga dinilai memiliki karakter rasa yang lebih menonjol dibandingkan ochee. Menurut para penikmat durian, hal itu menjadi salah satu keunggulan durian lokal yang telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan Indonesia.

“Rasanya tajam, pahitnya ada, manisnya ada, dan creamy,” ujarnya.

Selain itu, super tembaga juga memiliki karakter alkoholik yang menimbulkan sensasi hangat di perut setelah dikonsumsi. Karakter tersebut menjadi salah satu daya tarik yang dicari para pencinta durian.

Mengandalkan Budidaya Organik

Beragam apresiasi terhadap cita rasa kedua durian itu menjadi bukti kualitas buah yang dihasilkan Kebun Durian Tamora. Menariknya, seluruh tanaman durian di kebun tersebut dibudidayakan secara organik.

Menurut Hengki, keputusan menerapkan budidaya organik berangkat dari pemahamannya mengenai asal-usul durian unggul. Pada mulanya, berbagai varietas durian yang kini populer merupakan tanaman hutan yang tumbuh alami dan mengandalkan bahan organik sebagai sumber nutrisi.

Setelah ditemukan dan dipilih sebagai varietas unggul, tanaman-tanaman tersebut kemudian diperbanyak serta dibudidayakan secara luas. Dari pengalaman itu, Hengki meyakini bahwa secara genetik durian unggul memiliki kemampuan menghasilkan buah berkualitas tinggi hanya dengan dukungan nutrisi organik.

“Durian unggul itu pada dasarnya berasal dari alam dan menghasilkan buah yang enak dengan mengandalkan bahan organik. Karena itu saya yakin kualitas buah tetap bisa optimal dengan budidaya organik,” ujar Hengki.

Keyakinan itulah yang membuatnya konsisten menerapkan sistem budidaya organik di Kebun Durian Tamora. Hasilnya, durian yang dipanen tidak hanya mampu berbuah beberapa kali dalam setahun, tetapi juga tetap memiliki warna daging menarik serta cita rasa yang memuaskan para pencinta durian, meski dipanen di luar musim.


Artikel Terbaru

Pascapanen Tepat, Kunci Hasilkan Beras Sorgum Berkualitas

Trubus.id — Sorgum semakin dilirik sebagai sumber pangan alternatif karena kaya serat, bebas gluten, dan dapat diolah menjadi beras...

More Articles Like This