Wednesday, August 10, 2022

Echinacea Harapan Baru Pendamba Kesehatan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Irene rutin mengkonsumsi tingtur atau larutan ekstrak echinacea sejak setahun silam. Ekstrak purple coneflower-sebutan echinacea-dalam bentuk cair dikonsumsi sekali sehari berdosis 15-20 tetes. Larutan itu diteteskan ke dalam segelas air. Setelah diaduk, larutan echinacea diminum. Baru sebulan mengkonsumsi, daya tahan tubuh wanita 42 tahun itu mulai terdongkrak. ‘Saya tak perlu menghindar lagi bila berdekatan dengan orang yang terkena flu dan batuk,’ ujarnya.

Echinacea begitu sohor di beberapa negara Eropa seperti Swiss, Inggris, Skotlandia, Jerman, Finlandia, dan Perancis. Keampuhannya meningkatkan daya tahan tubuh membuat tanaman obat itu kerap dijajakan di toko-toko obat sebagai obat flu. Maklum, di negara subtropis, flu ibarat wabah yang kerap menyambangi bila musim dingin tiba.

Teruji klinis

Pada pertengahan Juni 2007, Trubus menyambangi pabrik A. Vogel, produsen herbal terbesar di Swiss yang memproduksi tingtur echinacea. Anggota famili Asteraceae itu dibudidayakan di lahan 8 ha. Saat Trubus berkunjung, tanaman itu tengah berbunga. Echinacea diolah dalam bentuk segar lalu dilarutkan dalam alkohol hingga berkadar 64% (baca: Berpacu dengan Kesegaran Echinacea, halaman 108-109). Ekstrak kemudian dikemas dalam bentuk cair alias tingtur dan tablet.

Keampuhan echinacea mengatasi flu bukan sekadar isapan jempol. Hasil uji in vitro yang dilakukan A. Vogel bekerja sama dengan tim riset dari Eidgen?ssische Technische Hochschule (Institut Teknologi Federal Swiss), Zurich, echinacea mengandung senyawa alkilamid. Senyawa itu menetap dalam reseptor CB2 dari sel imun. Alkilamid membantu mengendalikan Tumour Necrosis Factor Alpha (TNF-a), pengaktif sistem kekebalan tubuh. Senyawa lainnya: asam sikorat, polisakarida, glikoprotein, flavonoid, dan minyak esensial. Senyawa-senyawa itu berperan menghambat peradangan, pertumbuhan bakteri, virus, dan cendawan.

Ekstrak echinacea yang dihasilkan A. Vogel diakui pemerintah Swiss sebagai obat lantaran teruji secara klinis. ‘Di Eropa, produk herbal mesti teruji klinis. Jika tidak, produk dilarang beredar,’ ujar dr Jen Tan, direktur A. Vogel cabang Inggris yang memandu Trubus. Uji klinis dilakukan terhadap 77 pasien flu yang dirawat di beberapa rumahsakit di Austria. Masing-masing pasien diberi asupan ekstrak echinacea cair 3 kali sehari masing-masing 30 tetes. Dua pekan kemudian, kondisi pasien diperiksa. Hasilnya, angka indeks gejala 76 pasien menurun signifikan. Itu pertanda kondisi pasien kian membaik. Seorang pasien kondisinya memburuk karena menghentikan terapi.

Echinacea yang diolah dalam bentuk tablet juga teruji secara klinis. Kali ini A. Vogel bekerja sama dengan dr R. Brinkeborn, dokter spesialis penyakit infeksi di rumahsakit Uppsala, Swedia. Dari 41 pasien flu yang diberi asupan ekstrak echinacea berdosis 2 tablet (setara 6,78 mg ekstrak echinacea) 3 kali sehari, 79% pasien membaik setelah diberi perlakuan 8 hari.

Keampuhan echinacea sebetulnya tak hanya mengatasi flu. ‘Khasiat echinacea meningkatkan sistem kekebalan tubuh,’ ujar dr Jen Tan. Makanya tanaman obat yang kerap digunakan suku Indian itu berfaedah luas karena tidak secara langsung menyembuhkan penyakit tertentu. ‘Echinacea mungkin saja bisa menyembuhkan berbagai penyakit, tetapi harus ditunjang hasil uji klinis,’ tambahnya. Sayang, untuk menempuh uji klinis sangat mahal. ‘Di Swiss, biaya uji klinis bisa mencapai SFr1-juta-SFr1,5-juta (setara Rp7,5-miliar-Rp11-miliar, red),’ ujar alumnus Fakultas Kedokteran New Castle University itu.

Sejak 1998

Di tanahair, Echinacea purpurea sejatinya bukan pendatang baru. Menurut Drs Mono Rahardjo, peneliti Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aromatik (Balittro), kerabat beluntas itu mulai diteliti pada 1998. Tanaman asal Amerika Utara itu ternyata adaptif dikembangkan di Indonesia di ketinggian 450-1.100 m dpl. PT Sido Muncul menanamnya di Boyolali, Jawa Tengah, yang berketinggian 450 m dpl.

‘Semakin tinggi lokasi budidaya, kian lama waktu panen,’ ujar Bambang Supartoko dari Sido Muncul. Di Boyolali, echinacea dipanen pada umur 3 bulan. Yang menggembirakan, meski ditanam di Indonesia, kandungan purple coneflower itu sama dengan ‘kerabatnya’ yang dikembangkan di mancanegara. ‘Kandungan echinacea yang ditanam di Tawangmangu sama dengan yang ditanam di luar,’ ujar Yuli Widiastuti, periset Balittro. Total fenol, misalnya, mencapai 4%, seperti dipersyaratkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Echinacea memang istimewa. Betapa tidak, selain sebagai imunomodulator, ia juga berperan sebagai antioksidan. Menurut Dr M Ahkam Subroto APU, amat jarang sebuah tanaman mampu berperan ganda: imunomodulator sekaligus antioksidan. ‘Zat yang berperan sebagai antioksidan biasanya juga berkhasiat sebagai hepatoprotektor,’ ujar doktor Bioteknologi alumnus University of New South Wales yang banyak meriset herba dan jamu.

Oleh sebab itulah PT Kalbe Farma menggunakan echinacea sebagai salah satu bahan baku obat hepatitis. Tanaman berbunga cantik itu dikombinasikan dengan tanaman obat lain seperti sylimarin Sylibum marianum dan temulawak Curcuma xanthorrhiza. Komposisi ekstrak echinacea dalam ramuan itu paling tinggi yakni mencapai 150 mg, Sylibum marianum (35 mg), Curcuma xanthorrhiza (20 mg).

Obat hasil ramuan Kalbe Farma itu juga teruji klinis. Riset dilakukan bekerja sama dengan Bagian Hepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Penelitian dilakukan terhadap 30 pasien hepatitis C kronis. Masing-masing pasien diberi ramuan berupa kapsul 4 kali sehari masing-masing 3 kapsul. Setelah 12 pekan perlakuan, kadar rata-rata serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) pasien yang semula 91,2 U/l, turun menjadi 33,6, normal 0-50. Begitu juga dengan kadar serum glutamate pyruvate transaminase (SGPT). Kadar pada akhir terapi mencapai 35,9 U/ l, sebelumnya 92,4.

Meski demikian, Prof Dr dr Nurul Akbar SpKGEH, koordinator uji klinis dari Bagian Hepatologi FKUI, menuturkan obat itu tidak mengurangi jumlah virus hepatitis yang bersarang di tubuh pasien. ‘Tetapi jumlah rata-rata sel T dan sel NK pasien meningkat meski tidak terlalu bermakna,’ ujarnya. Aktivitas sel T dan NK indikator sistem kekebalan tubuh.

Menurut dr Andre Therestian, konsultan kesehatan di Jakarta, echinacea juga sangat baik untuk mengatasi virus yang menyerang saluran pernapasan. Itu dibuktikan hasil uji klinis yang dilakukan dr Sutji H Mariono, SpP terhadap 7 pasien bronkitis, 6 tuberkulosis, 5 bronkiektasis, 4 COPD, 3 asma, dan 1 bronkhopneumoni, di RS Pusat Pertamina, Jakarta Selatan. Setelah mendapat terapi echinacea, 76,9% pasien menyatakan kondisi tubuhnya lebih segar, 57,7% menjadi jarang batuk, 3,85% nyeri dada berkurang, dan 15,4% rongga dada membaik. Dengan berbagai keampuhannya itu, alangkah baiknya bila imigran asal Amerika Utara itu dikembangkan di tanahair. (Imam Wiguna)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img