Wednesday, August 10, 2022

Eka Bukit Pemetik Laba Kilang Hijau

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tanah berlubang bekas galian batubara. Pemandangan serupa juga tampak ketika ia naik pesawat perintis dari Banjarmasin ke lokasi penambangan di Batulicin.

‘Mengerikan sekali melihat tanah bekas galian batubara. Bayangkan untuk menggali 1 ton batubara, 10 ton tanah harus digali,’ ujar Eka Bukit. Produksi batubara Indonesia 150-juta ton per tahun. Artinya 1,5 miliar ton tanah harus dikeruk. Oleh karena itu pada akhir 2004 ia memutuskan menutup usaha penambangan batubara di Batulicin, Kalimantan Selatan. Padahal, dari penjualan batubara ke India, ia meraup omzet hingga Rp15-miliar per bulan.

Setiap bulan ia mengangkut 750.000 ton. Saat itu harga jual di pasar lokal Rp200.000 per ton. Menurut pria 35 tahun itu seorang penambang dalam semalam, mampu mengangkut 1.000 ton. PT Kreatif Energi Indonesia yang dirikan oleh Eka bersama kerabat dan rekan itu memang tak menggulung layar. Perusahaan itu tetap berdiri dan melayani konsultasi pertambangan.

Pada 2005 ketika biodiesel tengah tren, Eka akhirnya melirik bisnis bahan bakar nabati itu. Kebetulan juga saat itu harga minyak kelapa sawit mentah di pasaran US$400 per ton. Ia memproduksi rata-rata 1-2 ton biodiesel per hari untuk memasok pasar Jakarta dan Surabaya. Sejak menuntut ilmu di Kanada pada 1998-2001, Eka memang tertarik pada bahan bakar nabati.

Ketika itu negeri di Benua Amerika bagian utara itu sudah memanfaatkan biodiesel. Biox mengolah kedelai menjadi bahan bakar kendaraan bermotor yang dijajakan di 7 SPBU di Toronto dan Ottawa. ‘Orang tak akan memulai menggunakan bahan bakar nabati, jika tak punya dasar yang kuat,’ kata Master Sistem Manajemen Informasi alumnus Carlton University itu. Artinya, Kanada pasti mempunyai hitung-hitungan yang matang ketika memutuskan untuk menggunakan biosolar.

Nira aren

Pada akhir 2006 Eka Bukit juga menggeluti bisnis bioetanol. Baik biodiesel (sumber energi mobil bermesin diesel) maupun bioetanol alias biopremium termasuk bahan bakar nabati yang bersumber dari tumbuhan. Sarjana Teknik Industri alumnus Universitas Sumatera Utara itu memang tak mengolah dari bahan mentah. Ia bekerja sama dengan puluhan produsen bioetanol skala rumahan di Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.

Masyarakat setempat secara turun-temurun piawai mengolah nira aren menjadi etanol dengan peralatan sederhana. Karena terbiasa mengolah etanol, teknologi produksi sangat mereka kuasai. Dengan demikian, Eka tak harus menyuluh atau mengajari cara menyuling, misalnya. Bagi mereka, etanol nira aren itu sebagai bahan minuman keras yang sohor dengan sebutan Cap Tikus. Malahan minuman itu juga dikapalkan ke Papua.

Bioetanol produksi mereka berkadar etanol 35%. Untuk menghasilkan satu liter perlu 9 liter nira. Padahal, bermacam industri seperti farmasi dan kosmetik memerlukan etanol berkadar 99,6%. Eka kemudian memurnikan hasil sulingan masyarakat Minahasa Selatan hingga diperoleh kadar etanol 99,6%. Menurut perhitungan Eka, untuk menghasilkan 1 liter bioetanol 99,6% menghabiskan 15 liter nira aren.

Di Minahasa Selatan yang menjadi sentra aren, harga seliter nira Rp200. Untuk menghasilkan bioetanol Eka menghabiskan Rp3.000. Itu baru untuk bahan baku. Dengan menghitung biaya proses, transpor Manado-Jakarta, dan pajak, total biaya produksi untuk menghasilkan 1 liter bioetanol 99,6% mencapai Rp4.700. Ongkos transpor Manado-Jakarta Rp700 per liter.

Pasar terbentang

Rata-rata produksi Kreatif Energi Indonesia 1-2 ton per hari atau 20.000 ton per bulan. Kepada reporter Trubus Andretha Helmina, Eka Bukit mengatakan bahwa volume penjualan bioetanol mencapai 1-2 ton per hari dengan harga Rp6.500 per liter. Artinya, setiap hari ia mengutip laba bersih Rp1.800.000-Rp3.600.000 atau Rp36-juta per bulan dari penjualan bioetanol skala rumahan.

Memang produksinya belum dikonsumsi oleh kendaraan bermotor, walau sudah memenuhi standar kualitas bahan bakar nabati. Namun, lantaran konsumen bioetanol sangat luas, Eka baru sanggup memasok industri farmasi. ‘Pasarnya luar biasa besar,’ ujar direktur operasional PT Kreatif Energi Indonesia itu. Sebagai gambaran, hingga saat ini Eka belum sanggup melayani tingginya permintaan bioetanol.

Setidaknya 255 ton permintaan rutin per bulan yang gagal terpasok. Jika itu terlayani, tentu saja Eka bakal meraup laba bersih jauh lebih besar. Oleh karena itu lajang kelahiran Medan 16 Juni 1972 itu kini membuka pabrik pengolahan bioetanol di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Daerah itu dipilih lantaran terdapat 14 kecamatan sentra aren dari total 22 kecamatan. Lokasinya gampang dijangkau dari Jakarta dan relatif dekat.

Jarak yang dekat berarti memangkas biaya produksi, terutama biaya pengangkutan. Di Lebak, Banten, bungsu 5 bersaudara itu juga menerapkan pola kemitraan dengan masyarakat. Ia akan menampung seluruh produksi mereka sepanjang memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan. Saat ini 14 kecamatan itu menghasilkan 120 ton nira per pekan. Eka juga mengembangkan 7 ha sorgum sebagai bahan baku. Anggota famili Gramineae itu memang potensial sebagai penghasil biotenaol (baca: Tanaman Penyumbang Bahan Bakar halaman 22).

Itulah strategi Eka membangun kilang hijau. Kilang adalah instalasi industri tempat pemurnian minyak bumi. Namun, kilang juga berarti fermentasi air tebu atau nira. Proses itu harus dilalui ketika ia mengolah nira menjadi bioetanol yang terus ia kembangkan. Ia sama sekali tak khawatir soal pemasaran. Selama ada kehidupan, bioetanol tetap diperlukan: untuk minuman, makanan, kosmetik, rokok, juga bahan bakar. (Sardi Duryatmo/Peliput: Andretha Helmina)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img