Wednesday, August 10, 2022

Elegi Keruing Kampung Pathir

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Salah seorang investor membuat resor di tepi Danau Bera untuk menginap para wisatawanMinyak keruing menjadi sumber pendapatan dan bahan bakar bagi suku Semelai. Namun, populasi pohon kian menyusut dan kini terlupakan.

 

Sejak 1985 warga suku Semelai mengebunkan karet. Sejak itu beberapa kawasan hutan di sekitar danau berubah menjadi perkebunan karetWarga suku Semelai yang tinggal di sekitar Danau Bera memanfaatkan danau dan hutan di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hariOi, warga suku Semelai tengah memasang jala untuk menangkap ikan di Danau BeraBerdasarkan The Convention on Wetlands of International Importance pada 1994, Danau Bera dan hutan di sekitarnya ditetapkan sebagai kawasan lindungLubang itu menganga di batang keruing bulu Dipterocarpus baudii yang berukuran tiga pelukan orang dewasa. Tepian lubang 180 cm di atas permukaan tanah itu menghitam. Rahman Mekchi mendekati lubang berdiameter 40 cm seraya mengeluarkan sendok sayur dari tas punggungnya. Ia menciduk cairan di dalam lubang, lalu menciumnya. “Hanya air, kalau minyak beraroma tajam,” ujar Rahman.

Hujan semalam rupanya tertampung di lubang itu. Itulah sebabnya Rahman membuang air hingga habis. Pria separuh abad itu memotong beberapa daun kering tanaman palas Licuala spinosa yang tumbuh sekitar 5 m dari pohon keruing. Setelah terikat menjadi satu, Rahman membakar ujung daun, dan memasukan api ke dalam lubang di batang keruing. Hanya dalam hitungan detik api membesar karena keruing memang mengandung minyak.

Rahman mengipasi api dengan daun palas agar api terus membesar. Ia membiarkan api berkobar dalam lubang hingga 5 menit. Pembakaran hutan? Bukan! Begitulah cara Rahman dan warga lain suku Semelai mencari minyak keruing. Suku itu mendiami Kampung Pathir, Negeri Pahang, Malaysia, 3 jam bermobil dari Kualalumpur. Populasi pada 2007 hanya 2.000 jiwa; sedangkan total penduduk Malaysia, 28-juta jiwa.

Rahman lantas berupaya mematikan api dengan memukul-mukulkan tangkai daun palas ke permukaan lubang. Begitu api padam, aroma khas seperti terpentin pun tercium. Itulah aroma minyak keruing. “Lubang dibakar untuk merangsang keluar minyak,” katanya. Ia mengambil minyak sepekan kemudian. Rahman bisa menuai 4 liter minyak dari sebuah pohon keruing besar. Sepekan berselang, ia bisa panen kembali dengan cara yang sama.

Suku Semelai memanfaatkan minyak keruing sebagai bahan bakar lentera. Untuk membuat lentera, mereka memotong bambu sekitar 20 cm di atas ruas. Sumbu lentera berupa kulit batang kayu yang lapuk. Minyak keruing dalam bambu meresap melalui pori-pori kulit kayu lapuk sehingga api tetap menyala. Namun, sejak Maret 2012 Rahman mulai jarang menggunakan lentera minyak keruing karena listrik terpasang di Kampung Pathir.

Rahman tak lagi rutin mengecek jumlah minyak yang tertampung dalam lubang di batang keruing bulu itu. “Saya hanya mengambil minyak untuk berjaga-jaga kalau listrik padam,” katanya. Padahal sebelum 1980-an, minyak keruing menjadi sumber pendapatan warga suku Semelai. Ketika itu minyak keruing bernilai ekonomi tinggi. Sebuah perusahaan eskportir di Kualalumpur membeli seliter minyak keruing RM7 setara Rp21.000. Itu lebih mahal ketimbang harga karet saat ini yang hanya RM4 per kg.

Ketika itu Rahman “mengelola” 4 pohon keruing. Pohon keluarga meranti-merantian itu menyebar di hutan di sekitar Danau Bera. Rahman membuat empat lubang di sebuah pohon karena ingin memperoleh minyak lebih banyak. Dari keempat pohon itu Rahman memperoleh 16 liter minyak setiap pekan. Jadi, penghasilan Rahman mencapai RM112 atau Rp336.000 per pekan.

Menurut anggota staf pengajar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Ir Iwan Hilwan MS, semua jenis keruing Dipterocarpus sp memang dapat menghasilkan oleoresin, yakni perpaduan antara resin dan minyak esensial. Dunia industri memanfaatkan minyak keruing sebagai pengawet kayu dan bahan pernis. Bagi pohon, resin melindungi kayu ketika terluka dari serangan predator seperti serangga penggerek batang.

Namun, pada 1980 eksportir tiba-tiba menghentikan pembelian minyak keruing. Warga Semelai pun kehilangan pendapatan. Mereka akhirnya kembali pada kebiasaan lama, era 1940-1960, yakni mengandalkan Danau Bera untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tepian danau yang dangkal dan berlumpur Rahman manfaatkan untuk menanam padi dan menjala ikan gabus atau nila sebagai lauk-pauk.

Padahal, saat minyak keruing berjaya, ia cukup pergi ke Kota Triang, Negeri Pahang, yang berjarak 30 km dari kediamannya untuk membeli beras, bumbu dapur, dan lauk-pauk untuk memenuhi kebutuhan selama sepekan. Pada 1985, pemerintah Malaysia mengenalkan budidaya karet kepada suku Semelai sebagai sumber pendapatan. Semula Rahman menolak karena budidaya karet mengancam kelestarian hutan dan danau.

Maklum, selama enam abad hutan dan danau menghidupi suku Semelai. Dari hutan mereka mendapatkan kayu untuk mendirikan rumah dan membuat kapal. Sementara untuk bahan dinding dan atap rumah, mereka memanfaatkan Pandanus helicopus yang menutupi 32% danau. Warga Semelai mengambil daun pandan, menganyamnya menjadi sirap untuk dinding dan atap rumah.

Namun, kebutuhan hidup bukan hanya makan, minum, dan tempat tinggal. Danau Bera seluas 61.380 ha itu tak mampu mencukupi kebutuhan warga. Itulah sebabnya Rahman pun akhirnya turut membuka hutan di belakang rumah pada 1986. Ia menanam 2.000 bibit karet untuk menambah penghasilan. Ayah empat anak itu panen getah setelah pohon berumur 5 tahun. Dari 2.000 pohon, ia memperoleh rata-rata 800 kg karet per bulan.

Pada Juni 2012, harga jual karet di Malaysia RM4 atau Rp12.000 per kg, sehingga omzet Rahman Rp9,6-juta per bulan. Pada Juni mestinya Rahman menikmati harga tinggi. Sayang Juni tahun ini, hujan masih mengguyur Pahang sehingga produksi melimpah dan harga pun tak terkerek. Biasanya saat kemarau pada Juni-Juli, produksi getah anjlok sehingga harga melambung hingga RM8 atau Rp24.000 per kg.

Warga suku Semelai yang membudidayakan karet terus bertambah. Luas areal tanam karet setiap warga bervariasi mulai dari 2 ha hingga 25 ha. Kekhawatiran Rahman akhirnya terjadi. Masyarakat banyak menebang pohon keruing yang dahulu menjadi tambang ringgit dan menggantinya dengan karet. “Di Kampung Pathir saja hanya tersisa dua pohon,” ujar Rahman. Salah satunya hingga kini masih dimanfaatkan Rahman.

“Saya tidak akan menebangnya untuk mewariskan pengetahuan kalau keruing dapat diambil minyaknya,” katanya. Celakanya hingga kini tak ada upaya penanaman pohon anggota famili Dipterocarpaceae itu. Bukan hanya keruing yang mesti lestari, tetapi menurut Rebecca D’Cruz, Danau Bera dan hutan di sekitarnya juga mesti terjaga karena peran ekologis keduanya amat penting.

Rebecca D’Cruz dari Wetland International, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang restorasi dan konservasi lahan basah, mengatakan, “Peran Danau Bera sangat penting karena memiliki fungsi hidrologis untuk mencegah banjir, mengendalikan aliran air sungai, pemurni air, memperbaiki cadangan air tanah, dan pasokan air saat kemarau.”

Danau terbesar di Semenanjung Malaysia itu juga memiki keanekaragaman hayati tinggi. Wetland Internasional mengidentifikasi 200 spesies burung di Danau Bera dan sebagian seperti terancam punah seperti sempidan biru Lophura ignita dan pedendang topeng Heliopais personata. Beberapa ikan dari total 95 spesies di Danau Bera juga terancam punah, seperti arwana Scleropages formosus dan temoleh Probarbus jullieni.

Pemerintah Malaysia menyadari arti penting Danau Bera sehingga menandatangani kesepakatan The Convention on Wetlands of International Importance pada 1994. Kesepakatan itu untuk melindungi, mengelola, dan menggunakan sumberdaya lahan basah secara bijaksana. Aturan dalam kesepakatan itu membatasi penanaman karet di hutan sekitar danau. Kebun karet yang berumur lebih dari 10 tahun dan tidak produktif lagi tidak boleh ditebang agar habitat hutan karet yang telah terbentuk tetap terjaga.

Aturan dalam konvensi itu juga melarang warga Semelai menanam padi di tepian danau yang dangkal karena dapat merusak habitat rawa. Warga juga tak boleh membudidayakan ikan menggunakan keramba jaring apung di kawasan danau untuk mencegah cemaran amonia dari pakan. Namun, penetapan Danau Bera dan hutan di sekitarnya sebagai kawasan lindung membuat sebagian warga Semelai kehilangan pendapatan.

“Sebagian warga mencari pendapatan dengan menjadi buruh di perkebunan kelapa sawit,” ujar Hashim Inolan, warga suku Semelai di Pos Iskandar, Negeri Pahang. Danau tak lagi menjadi sumber pendapatan, begitu juga keruing. Apalagi pada Juni 2012 arus listrik memasuki rumah-rumah suku Semelai. Mereka pun berbondong-bondong membeli kulkas dan televisi, barang semula tak pernah ada di rumah mereka. Kini mereka mengandalkan arus listrik untuk menerangi hunian. Minyak keruing terlupakan. Tak ada lagi bara api di lubang pohon itu.  (Imam Wiguna)

 

Menambang Minyak

  1. Buat lubang berdiameter 40 cm (bila diameter batang lebih dari 1,5 m). Bagian dalam lubang dibuat lebih cekung untuk menampung minyak yang menetes dari dinding lubang
  2. Bersihkan isi lubang hingga tidak ada air di dalamnya.
  3. Bakar lubang hingga lubang benar-benar menyala
  4. Setelah api menyala, tiup dengan kipas agar api menyala lebih besar
  5. Biarkan api menyala hingga 5 menit
  6. Setelah 5 menit api menyala, segera matikan api. Biarkan hingga sepekan. Minyak akan merembes keluar dari dinding lubang
  1. Sepekan kemudian, ambil minyak, lalu ulang tahapan seperti sebelumnya.

 

 

Rebecca D’Cruz dari Wetland International, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang restorasi dan konservasi lahan basah, mengatakan, “Peran Danau Bera sangat penting karena memiliki fungsi hidrologis untuk mencegah banjir, mengendalikan aliran air sungai, pemurni air, memperbaiki cadangan air tanah, dan pasokan air saat kemarau.”

 

Keterangan Foto :

  1. Salah seorang investor membuat resor di tepi Danau Bera untuk menginap para wisatawan
  2. Sejak 1985 warga suku Semelai mengebunkan karet. Sejak itu beberapa kawasan hutan di sekitar danau berubah menjadi perkebunan karet
  3. Ikan gurame putih (1), ikan malas (2), dan ikan keluarga sepat (3) mudah dijumpai di Danau Bera
  4. Oi, warga suku Semelai tengah memasang jala untuk menangkap ikan di Danau Bera
  5. Teratai tumbuh alami di tengah danau
  6. Berdasarkan The Convention on Wetlands of International Importance pada 1994, Danau Bera dan hutan di sekitarnya ditetapkan sebagai kawasan lindung
  7. Nepenthes mirabilis tumbuh subur di antara semak-semak di tengah danau
  8. Rumah asli suku Semelai, menggunakan kerangka dari kayu asal hutan sekitar danau dan atap sirap dari daun Pandanus helicopus yang banyak tumbuh di tengah danau
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img