Tuesday, November 29, 2022

Elok Turunan Lidah Jin

Rekomendasi

Silver dust, silangan S. suffruticosa dengan S. fla—HSoeyatno Soebekti bagai detektif Sherlock Holmes yang acap membawa kaca pembesar.

Kartika nusantara, hasil silangan Soeyatno Soebekti 3 tahun silamMy beloved Indonesia, silangan S. suffruticosa ‘frosty spear’ dengan S. kanlayensisBagi Holmes lup untuk menemukan barang bukti kasus kejahatan. Namun, di tangan hobiis sansevieria di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Soeyatno, lup merupakan alat khusus saat penyilangan lidah jin alias sansevieria. Maklum, ukuran serbuk sari dan putik sansevieria sangat kecil. Serbuk sari, misalnya, rata-rata berukuran 50 mikron atau setara sebutir pasir ukuran 2 mm yang dipecah menjadi seratus bagian.

“Dengan bantuan lup, saya lebih mudah mengambil serbuk sari dan menempelkannya tepat di atas kepala putik,” kata Soeyatno. Dengan begitu tingkat keberhasilan penyilangan hingga menjadi buah pun tinggi, 80%. Soeyatno menyilangkan sansevieria hampir setiap malam sejak 2006. “Menyilangkan sansevieria itu tidak selesai dalam semalam, tapi hingga lima hari karena matangnya serbuk sari dan kepala putik tidak bersamaan,” tutur Soeyatno.

Teka-teki

Pria yang menghasilkan ratusan hibrida sansevieria itu mengenali bunga yang siap serbuk biasanya mekar sempurna dan wangi. Ia mengambil serbuk sari sebagai pejantan menggunakan pinset dari induk terpilih. Kemudian ia menempelkannya di atas putik sebagai betina di tangkai indukan lain.

Selang 1-1,5 bulan sejak penyilangan, buah sansevieria matang berwarna jingga cerah siap panen. Ia lalu menyemai biji-biji lidah naga di wadah plastik berisi media porous campuran sekam bakar, sekam mentah, dan pakis. Tanaman hasil silangan itu tumbuh dan muncul 2-3 daun sepanjang 3 cm dalam 2-3 bulan. Ketika itulah ia memindahkannya ke pot dengan media sama.

Bagi Soeyatno menjadi penghulu bagi sansevieria menjadi keasyikan tersendiri karena mirip teka-teki berkaitan dengan hasil silangannya. Sebut saja hasil silangan Sansevieria fla-H dan S. suffruticosa pada pertengahan Mei 2009 menghasilkan 30 hibrida yang penampilannya berbeda. Di antaranya silver dust dan kartika nusantara. Permukaan daun silver dust berbintik-bintik kecil samar seperti pasir berwarna perak.

Itulah alasan Soeyatno menyematkan nama silver dust. Permukaan daun silver dust kasar turunan dari sang ibu, Sansevieria fla-H. Begitu pula dengan pertumbuhan daunnya yang rapat, berwarna hijau gelap, dan berbatang. “Yang menjadikannya semakin menarik yakni twist alias liukan pada batang turunan sang ayah,” kata Soeyatno. Selain itu silver dust mewarisi bentuk daun bulat pipih dan berwarna perak juga warisan sang ayah, S. suffroticosa.

Bandingkan dengan kartika nusantara yang permukaan daunnya halus. Pertumbuhan daun rapat seperti kipas, serta tanpa liukan di batang. Hibrida lain yang tak kalah cantik adalah my beloved indonesia hasil silangan Sansevieria suffruticosa ‘frosty spear’ dengan S. kanlayensis. My beloved indonesia mewarisi hampir 80% karakter sang ibu, Sansevieria suffruticosa. Daunnya panjang dan berwarna cenderung perak dengan garis datar berwarna hijau tua. “Sang ayah hanya mewariskan sosoknya saja yakni roset dan berdaun tebal,” kata Soeyatno.

Total jenderal Soeyatno menghasilkan ratusan hibrida sansevieria yang masing-masing berpenampilan menarik. Rata-rata 4-5 hasil silangan Soeyatno terjual. “Kolektor lebih menggemari lidah naga berdaun perak, hijau gelap, dan tebal,” kata Soeyatno. Sayang, ia menolak membeberkan harga jual sansevieria itu.

Incaran

Paula Meinara, kolektor sansevieria di Medan, Provinsi Sumatera Utara, menuturkan lidah naga berwarna keperakan dan hijau gelap memang lebih menarik. Pada 1,5 tahun lalu ia memboyong sansevieria hibrida berwarna perak dari Thailand. Kondisi tanaman agak rusak akibat pengemasan saat tiba di tanahair. Namun, ia merawatan intensif sehingga tanaman setinggi 20 cm itu kembali tampil apik.

Sosok sansevieria hibrida itu berdaun setengah roset. Pola susunan daunnya juga menarik sebab pada lapisan daun kedua, tanaman memutar alias twist. Warna daun hijau keperakan dengan garis-garis hijau tua. Pehobi lain yang mengoleksi sansevieria hibrida adalah Basuki Rahmat di Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Basuki Rahmat merawat sansevieria keperakan yang diberi nama basura hasil silangan Sansevieria cylindrica var. patula dan

S. sinegambica.

Ia menyemai 30 biji tetapi hanya satu yang memikat hati, yani basura kependekan dari namanya Basuki Rahmat. Karakter patula terlihat dari muculnya garis-garis berwarna keperakan di permukaan daun. Sementara karakter daun Basura mengikuti sinegambica, melengkung ke bawah. Basuki gemar menyilangkan lidah naga sejak 2007. Hingga kini hanya dua tanaman hasil silangannya yang nyeleneh, termasuk basura, hasil silangan pada Desember 2009.

Basura berhasil menyabet peringkat pertama kelas flat leaf tunggal prospek pada ajang kontes nasional sansevieria di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Juli 2012. Itulah sansevieria-sansevieria yang lahir berkat ketekunan pemiliknya mempertemukan serbuk sari dan kepala putik tanaman anggota keluarga Aspargaceae itu.  (Andari Titisari/Peliput: Tri Istianingsih)

 

Keterangan Foto :

  1. Kartika nusantara, hasil silangan Soeyatno Soebekti 3 tahun silam
  2. Silver dust, silangan S. suffruticosa dengan S. fla-H
  3. My beloved Indonesia, silangan S. suffruticosa ‘frosty spear’ dengan S. kanlayensis
  4. Basura koleksi Basuki Rahmat, hasil silangan
  5. Lidah naga hibrid koleksi Paula Meinara
  1. S. cylindrica var. patula dan S. sinegambica

 

Previous articleSang Pemikat di Udara
Next articlePelangi di Atas Batu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img