Sunday, August 14, 2022

Empat Sehat Lima Sempurna ala Budiono

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Showa sanshoku sepanjang 80 cm itu memang prima. Selain bentuk tubuhnya bak kapal, pattern warnanya tampak cerah. Wajar bila juri dari Jepang terpikat. Hal serupa dialami kohaku Budiono sepanjang 75 cm. Dengan sosok sehat dan prima, ia merebut gelar bergengsi lain, superior champion. ‘Dari 43 koi yang dibawa lomba, 32 di antaranya bisa merebut juara,’ ujar Budiono yang dikukuhkan sebagai juara umum itu.

Pencapaian besar itu seakan mengulangi prestasi Juni 2005 di Jakarta. Meski koi-koi jagoannya tidak berhasil merebut gelar grand champion di 2nd All Indonesia Combined Show 2005, tapi sabuk juara umum tetap melekat di pinggangnya. Itu berkat kecemerlangan 25 koi yang diikutkan di kontes. Hasil itu menggeser dominasi koi-koi berkualitas dari dealer koi ternama dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Bagi pemilik PT Anta Kesuma Raharja itu, kemenangan serempak dari koi-koinya tidak terlintas di benak sebelumnya. ‘Saya sebetulnya hanya hobiis yang ingin mengukur kemampuan saya dalam memelihara koi,’ ujarnya. Jika kemudian sampai merebut juara umum, itu hadiah terindah. Kebahagian itu terpancar saat pembagian piala 3rd Bandung Koi Show 2006. Secara bergantian anggota keluarga Budiono naik ke atas pentas menerima piala.

Kualitas air

Kecantikan koi-koi Budiono tidak lepas dari cara ia merawat semua ikannya supaya sehat. ‘Merawat koi itu tidak gampang,’ ujar alumnus Teknik Industri University of Southern California Amerika Serikat itu. Salah satu terpenting yang sangat dijaga Budiono adalah kualitas air. Sebab itu pula sebuah villa di Puncak, Bogor, dipilih menjadi tempat tinggal koi-koi jawaranya. Mereka menempati 3 kolam berukuran 10 m x 15 m berkedalaman 1,8 m.

‘Kualitas air dan suhu air di sana seperti di Jepang,’ ujar pengusaha perbaikan mesin perkapalan itu. Air yang bersumber dari salah satu mata air di Puncak itu memiliki suhu 24oC, pH 7, dan kesadahan kurang dari 1. ‘Dengan kondisi itu, setiap koi yang akan di konteskan selalu prima,’ ujar Budiono.

Sebelum masuk kolam, air murni itu melewati fi lter. Budiono memang membangun filter berkapasitas besar. Konstruksinya terdiri dari 6 ruang berisi media dan perlakuan. Dari media pertama sampai terakhir filter berlapis-lapis itu memakai sistem biologi yang hanya terdiri dari filter mat dan filter brush. Untuk mengamankan lebih dari seratus penghuninya, 3 buah aerator vortex blower memasok udara ke dalam kolam dan filter.

Menurut penyandang gelar MBA dari University of Southern California itu, sekitar 5% dari total volume air kolam diganti setiap hari. ‘Itu agar koinya lebih sehat,’ ujarnya. Pola itu belakangan malah mampu menaikkan corak hitam showa peraih grand champion 3rd Bandung Koi Show 2006. ‘Penangkarnya dari Sakai yang ke sini sampai kaget melihat perubahan warna itu. Ia menanyakan rahasianya. Saya cuma bilang karena kualitas air saja,’ ujar pria kelahiran 12 November 1961 itu.

Pakan campuran

Tidak seperti mayoritas hobiis yang mengandalkan khusus pakan impor untuk memelihara koinya, Budiono justru memilih mencampur pakan impor dan lokal. Komposisi campuran ia percayakan pada tangan kanannya, Ang Choon Seng, penangkar dari Singapura. ‘Yang penting pakan itu tidak expired (kedaluarsa, red),’ ujar suami Fenny Polii itu.

Karena kualitas air sangat terjaga, wabah penyakit yang umum menyerang koi hampir tidak ada yang datang, seperti white spot, kutu jarum, atau hole disease. Meski demikian, Budiono sempat kecolongan saat sedang bertugas ke Amerika Serikat. Ketika itu wabah herpes ramai mewabah. Beberapa koinya di sebuah kolam terindikasi terkena Koi Virus Herpes karena berenangnya miring.

‘Saya sampai tidak bisa tidur karena Ang (perawatnya, red) bilang harus dimusnahkan,’ ujarnya. Maklum beberapa dari semua koi impor penghuni kolam itu menyandang predikat juara. Contoh taisho sanshoku penyandang mature champion di 2nd All Indonesia Combined Show 2005 dan chagoi kampiun kategori jumbo B. ‘Semua terpaksa dimusnahkan dengan cara dikubur,’ ujarnya. Kolam bekas pemeliharaan kemudian dibersihkan dengan kaporit.

Tidak harus mahal

Bagi Budiono memiliki koi sehat merupakan dambaan. ‘Untuk kontes, saya akan memilih yang paling sehat. Jadi tidak ada persiapan khusus,’ ujarnya. Mata ayah 4 putra-putri itu sudah terlatih mengetahui koi sehat. ‘Yang paling mudah dilihat dari cara berenang dan insangnya,’ ujarnya. Cara berenang misalnya harus seimbang tidak terlihat condong ke salah satu sisi.

Menurut Budiono memiliki koi mahal bukan jaminan gelar juara berada di tangan. ‘Koi yang tidak mahal asal pemeliharaannya bagus bisa menjadi juara,’ katanya berfi losofi . Kenyataan itu didasari pengalaman pribadi. Kohaku peraih grand champion di salah satu kontes besar di Hiroshima yang dibeli Budiono dengan harga mahal tidak mampu merebut gelar apa pun di 3rd Bandung Koi Show 2006. ‘Yang tidak saya jagokan malah jadi grand champion,’ tutur Budiono. (Hermansyah)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img