Trubus.id — Ada empat kelas standar mutu untuk memenuhi permintaan pasar terhadap komoditas ubi jalar. Tiap pasar menghendaki ubi jalar dengan standar kualitas tertentu. Muhammad Muhaimin, petani di Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menyebut ada 4 kelas standar mutu, yakni kelas A, B, C, dan D.
Muhaimin memasok ubi jalar madu kualitas A ke eksportir di Magelang dan pasar swalayan. Pasokan ubi untuk ekspor relatif kecil, hanya 1 ton per bulan. Perusahaan eksportir menghendaki ubi madu kualitas A, dengan ciri berkulit mulus, bobot 250–300 gram per umbi. Jadi, tidak terlalu besar dan kecil. Selain itu, umbi memanjang 13–17 cm dan berdiameter 3–4 cm.
Adapun untuk standar mutu ubi jalar kelas B sebetulnya sama dengan yang A. Perbedaannya, ada goresan sedikit di permukaan kulit. Muhaimin memasarkan ubi jalar kelas B itu ke delapan pasar swalayan besar yang tersebar di Surakarta, Semarang, Magelang, dan Yogyakarta.
Pasokan ke pasar swalayan rata-rata 300 kg per pekan atau 2,4 ton per bulan. Adapun pasar kelas C tanpa persyaratan kulit harus mulus karena ubi akan dioven. Bobot ubi jalar 200–500 gram. Khusus kelas C, Muhaimin mengirimkan 8 ton per bulan.
Selain itu, Muhaimin juga memasok ubi jalar kelas D yang berukuran kecil, di bawah 200 gram. Sebenarnya, permintaan pabrik juga termasuk kelas D. Muhaimin membagi kelas D menjadi dua kelompok, yaitu di bawah 200 gram dan di atas 2 kg.
Menurut Muhaimin, konsumen ubi jalar kelas D adalah pasar tradisional. Setiap 7–10 hari sekali ia rutin memasok ke pasar induk di Magelang. Sekali kirim 1,5 ton atau total 4,5 ton sebulan. Harga ubi jalar di pasar tradisional cenderung fluktuatif.
“Paling murah pernah Rp2.000 per kg,” kata Muhaimin.
