Ini dia 3 harapan baru pekebun mete: GG 180, PK 36, dan MR 851. Tiga bibit unggul itu per pohonnya mampu memproduksi 6—9 kg mete gelondongan per tahun, lebih tinggi daripada bibit lawas yang hanya 3 kg/tahun.
Lima tahun lalu Hadad, Srikurniati, Bermawie, Hobir, Sri Wahyuni, dan Alimin Djisbar dari Balittro (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat) terpesona ketika menyaksikan sebatang mete Anacardium occidentale berumur enam tahun memamerkan kelebatan buah. Pohon hasil pengamatan bertahun-tahun di Landras, Pasuruan, Jawa Timur, itu tumbuh di antara mete-mete lain yang sedang diseleksi, dan dijagokan untuk menjadi mete berproduksi tinggi. Kelebatan buah itu sungguh mencolok jika dibandingkan klon harapan mete lain.
Yakin bahwa pohon tua itu demikian produktif, Hadad dkk segera menebang mete lain yang ada di kebun percobaan Mutiarjo dan Cikampek. Ia melakukan itu karena mete gampang menyerbuk silang di antara sesama. “Sifat mete itu kan gampang sekali menyerbuk silang, sehingga ketika ditemukan yang unggul, pohon lain harus segera ditebang,” ujar Hadad. Setelah itu, pohon tersebut dijadikan indukan dengan cara grafting. Pengamatan pun dilakukan terhadap 6 pohon klon harapan.
Selama 6 tahun para ahli mete dari Bogor itu meneliti produktivitas para mete. Setelah yakin, mete itu mereka tetapkan sebagai 3 unggulan. Lahirlah GG 180, MR 851, dan PK 36.
GG 180
GG 180 lahir dari sebatang pohon induk melalui seleksi bibit melalui pengamatan sejak 1970. Tiga puluh tahun kemudian mete dari Jawa Timur itu dilepas sebagai varietas unggul. Perbanyakan segera dilakukan dengan sabung pucuk. Saat diusulkan sebagai varietas unggul ia diberi nama Asembagus 1. Namun, ketika diluncurkan namanya berubah menjadi GG 180 karena ia berasal dari Gunung Gangsir. Pada umur 6 tahun mete itu menghasilkan 8,5 kg gelondong per pohon. Ini angka yang tinggi bagi pohon mete umur 6 tahun. Rata-rata mete seumur itu produktivitasnya belum stabil dan hanya mengeluarkan 3—5 kg saja per pohon. Setelah mencapai umur 10—12 tahun, produktivitas dianggap sudah tetap dan tidak akan berubah lagi.
Lebatnya buah sangat dipengaruhi sosok pohon. Itulah yang dimiliki GG 180. Tinggi tanaman yang kini ditanam di Sulawesi Selatan mencapai 5,92 m. Tajuk berbentuk setengah lingkaran dengan diameter 6,72 m, sehingga sanggup menyerap sinar matahari sebanyak mungkin. Wajar jika ia bisa menghasilkan 1.481 gelondongan abu-abu per pohon.
Pohon mengeluarkan bunga putih pada umur 18 bulan. Selang beberapa hari ia bersalin rupa menjadi buah dan siap panen beberapa minggu lagi. Dalam waktu satu bulan, bunga menjadi mete siap panen yang mampu bertahan lama. Rasa kacangnya gurih dan manis, kadar lemak 53,25%, serta protein 19,38%.
Kandungan air dalam buah 85%, serat 0,10%, tanin 0,22%, gula 8,49%, dan asam 0,53%. Bentuk buah lonjong kecil, berwarna kuning, dan berbobot 66—100 gram. Gelondong berbobot 5,84 g dan per kilo berisi 201 —203 butir. Ini menggambarkan, sosok gelondong tidak terlalu besar. Beberapa petani memang menyukai mete kecil agar jumlah per kilo banyak.
MR 851
GG 180 memiliki kacang putih yang gurih dan manis. Lain lagi dengan MR 851. Pohon asal Maros, Sulawesi Selatan, itu juga menghasilkan mete putih, tetapi rasanya agak hambar. Produktivitasnya diperkirakan dapat melebihi GG 180.
Saat diusulkan, MR 851 yang beralih nama dari G Lampobatang itu dapat menghasilkan 865 gelondong per pohon berbobot 6—10 kg pada umur 5 tahun. Jika dibandingkan dengan GG 180 yang berumur 6 tahun, produktivitasnya masih kalah. Namun, angka itu bukan jaminan. Soalnya, sosok MR 851 dapat mencapai tinggi 6,78 m. Tajuk berbentuk setengah lingkaran dengan lebar 8,48 m itu menjanjikan kelebatan buah melebihi GG 180.
MR 851 berbunga pada umur 20 bulan yang berubah menjadi buah berwarna merah kehijauan. Buah lonjong itu memiliki bobot 58,47 g per buah. Kadar gula 0 —2,70%, jumlah yang besar dibanding varietas lain seangkatannya, seperti BR 708, BR 709, dan MR 861. Kandungan vitamin C cukup tinggi, 0,25%. Gelondong berbentuk ginjal berwarna abu-abu dapat mencapai bobot 6,24 gram per butir dengan kadar CNSL (cashew nut shell liquid) 25,67%. Satu kilo berisi 161 butir gelondongan, tanda sosoknya cukup besar.
PK 36
Lain lagi dengan PK 36. Mete yang pada awalnya diusulkan benama G Rantemario itu lebih pendek daripada MR 861. Pada usia 5 tahun, tinggi MR 861 mencapai 9,46 m; PK 36, 804 m. Walaupun begitu, varietas yang bernama pangkep 36 tersebut termasuk mampu berproduksi tinggi. Saat berumur 5 tahun ia sudah bisa memproduksi 774 butir gelondong dengan total bobot 5,91 kg. Angka itu akan terus meningkat seiring pertambahan umur.
Buahnya berwarna merah kekuningan berbentuk lonjong dan mengandung paling banyak vitamin C, 0,26 %. Kadar patinya paling banyak yaitu 2,59 %. Dalam satu tandan terdapat 10 buah semu. Gelondongnya yang juga berbentuk ginjal dan berwarna abu-abu itu berbobot 7,49 gram per butir, lebih besar daripada MR 861. Kadar CNSLnya pun tinggi, 27.56%. Kacangnya yang bewarna putih, mengandung kadar protein dan gula lebih tinggi, 24.46% dan 5.87%. (Corry Caromawati)
